Pesona Utang yang Menghancurkan

Oleh : Anab Afifi, CEO Bostonprice Asia | Jumat, 28 Juli 2017 - 14:30 WIB

Anab Afifi/ CEO Bostonprice Asia
Anab Afifi/ CEO Bostonprice Asia

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Entah dari mana mereka memperoleh nomor handphone saya. Juga pasti nomor-nomor kontak pribadi Anda. Dengan antusias mereka menghubungi. Sudah ditolak, masih saja besok harinya menghubungi lagi. Lagi dan lagi. Hingga akhirnya, Anda menyerah.

Anda tahu siapa mereka: agen kartu kredit.

Utang memang memesona. Penuh iming-iming kemudahan dan segudang manfaat. Kita pun terlena.

Akhirnya, berutang menjadi pola. Selanjutnya menjadi kebiasaan. Lalu gaya hidup. Anda belum menjadi orang keren apabila dompet Anda belum terjereng deretan kartu-kartu utang itu.

Maka bila pun punya uang cash, rasanya akan lebih elit bila menggesek kartu plastik. Sekali mencoba masih bercampur ragu. Kedua, ketiga, dan seterusnya ketagihan, hingga tiba-tiba tagihan itu membengkak.

Utang sudah menumpuk. Sedangkan kemampuan membayar utang menurun. Selanjutnya, telepon Anda menjadi sering berdering. Suara penagih utang sudah tidak semanis seperti dulu ketika sales menawarkan utang.

Episode berikutnya, aset yang dimiliki mulai dijual untuk membayar utang. Jika tidak ada, membuat utang baru untuk menutup utang lama.

Itu adalah pengalaman saya. Bukan pengalaman Anda, dan jangan sampai menimpa Anda tentunya.

Timbullah kesadaran baru saya: utang itu keliru. Iya, keliru  banget.

Sebab, utang itu bayarnya pasti sedangkan penghasilan tidak pasti.

Boleh jadi saat ini Anda adalah pimpinan perusahaan. Tapi bisa jadi sebulan kenudian, pemegang saham menggeser Anda. Di situlah awal tidak pastinya penghasilan Anda bermula.

Memang ada yang mengajarkan, tidak semua utang itu buruk apabila untuk hal yang produktif. Meskipun demikian, ia tetap tidak bisa menghindar dari hukum batu "bayarnya pasti sedangkan produktifitas bersifat tidak pasti atau naik turun".

Pengalaman di atas hanyalah contoh kasus kecil. Dalam skala lebih lanjut, pusaran utang dapat menjadi malapetaka. Pesona utang memang terbukti telah sukses menghancurkan bangunan ekonomi keluarga, perusahaan (kecil maupun raksasa), bahkan negara.

Hari-hari ini berseliweran di Medos berita, tulisan, komentar soal utang negara RI yang sudah melejit. Biarlah. Itu urusan Presiden dan para pembantunya memikirkan.

Saya jadi teringat  buku 'Saudagar-saudagar Utang', terjemahan dari The Merchant of Debts. Terbit 1994 oleh Bisnis Indonesia. Sebuah kisah kolompok bisnis korporasi di AS yang hancur akibat praktik utang.

Paska krisis moneter 1998, banyak konglomerat dan perusahaan tumbang karena utang. Utang dolar yang pasti harus dibayar, sementara pendapatan dalam rupiah nilainya menjadi tidak pasti karena selisih kurs yang tinggi sehingga  untuk membayar.

Peristiwa-peristiwa  itu menarik untuk menjadi pelajaran. Tidak hanya itu. Lebih penting bagaimana mencari obatnya.

Obat bagaimana mengelola ekonomi rumah tangga tanpa utang. Obat bagaimana meningkatkan pendapatan keluarga tanpa keluar uang tanpa berutang. Obat  bagaimana berbisnis tanpa uang tanpa utang malah menghasilkan uang tak terbatas.

Tentu juga, pasti ada obat agar APBN tidak kedoroan karena utang luar negeri yang membengkak.

Adakah obat semacam itu? Pasti ada.

"Ah itu tidak masuk akal!".

Barangkali akalnya yang belum masuk. Sebab, akal kita sudah teracuni oleh pesona utang. (*)

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Veolia

Senin, 24 Juni 2019 - 21:05 WIB

Veolia Water Technologies Establishes Asia Pacific Headquarters in Kuala Lumpur

Veolia Water Technologies, a leading solutions provider for both water and wastewater treatment, is pleased to announce the formation of its regional headquarters in Kuala Lumpur. The move from…

Suasana Konferensi Pers menyambut Harkopnas 2019 yang bakal diselenggarakan pada 12-14 Juli

Senin, 24 Juni 2019 - 20:59 WIB

Ini Alasan Harkopnas 2019 Diadakan di Purwokerto

Penetapan Purwokerto sebagai kota penyelenggara acara puncak Harkopnas 2019 adalah keputusan bernilai sejarah yang menarik.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 24 Juni 2019 - 20:00 WIB

IMF: Perang Dagang AS-Tiongkok Tak Ada Pihak yang Diuntungkan

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak akan menguntungkan pihak mana pun dalam jangka panjang, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde…

Ilustrasi Ekspor (ist)

Senin, 24 Juni 2019 - 19:45 WIB

Pemerinah Bakal 'Nendang' Ekspor Lewat Insentif Fiskal

Pemerintah terus melakukan terobosan kebijakan yang dapat menggairahkan iklim usaha di dalam negeri sehingga turut memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu langkah strategisnya, yang dalam waktu…

LinkedIn

Senin, 24 Juni 2019 - 18:10 WIB

LinkedIn: Tiga Rising Skills Ini Pengaruhi Inovasi dan Transformasi Perusahaan di Indonesia

LinkedIn, jaringan profesional terbesar di dunia, meluncurkan Laporan Future of Skills 2019, yang mengidentifikasi 10 rising skills (peningkatan keterampilan) yang paling tinggi di antara…