INDUSTRY co.id - Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menepis isu deindustrialisasi yang disebut-sebut tengah melanda Indonesia seiring kontribusi manufaktur yang melemah.
"Saya ingin menyampaikan beberapa isu khususnya terkait perkembangan industri. Jika diikuti 6 bulan terakhir banyak pihak yang terus menerus menyampaikan bahwa Indonesia sedang dalam proses deindustrialisasi. Secara konsisten kontribusi manufaktur terhadap PDB sangat baik," kata Menperin Agus di Jakarta (11/12).
Hal ini tercermin dari konsistensi industri pengolahan nonmigas yang memberikan kontribusi paling besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan capaian 18,75% pada triwulan III tahun 2023.
Selain itu, industri pengolahan juga tumbuh positif di Triwulan III tahun 2023 yaitu sebesar 5,20% (y-on-y), nilai tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi sebesar 4,94 persen pada periode yang sama.
"Capaian tersebut menunjukan industri kita masih bergeliat di tengah melambatnya ekonomi global, ditambah adanya tren pertumbuhan positif sehingga dapat dikatakan industri kita sudah tangguh (Resilience) karena mampu untuk menghadapi kesulitan, menahan guncangan, dengan terus beradaptasi," terangnya.
Laporan S&P Global mencatat Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur RI menguat ke level 51,7 pada November 2023 atau meningkat 0,2 poin dari 51,5 pada Oktober 2023.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang juga menguat dengan skor 52,43 pada November, naik dari bulan sebelumnya 50,70.
"PMI kita juga rekor di mana 25 bulan berturut-turut di atas 50, artinya sedang ekspansi. Hanya 2 negara di dunia yang mencatat rekor hanya Indonesia dan India," ucap Agus.
Sementara itu, jika dilihat dari realisasi investasi manufaktur juga sangat baik, berkontribusi sebesar Rp163,7 triliun atau 43,7% dari total capaian investasi Indonesia pada triwulan III Tahun 2023 sebanyak Rp374,4 triliun.
Menperin Agus menyampaikan bahwa Kemenperin tengah membuat roadmap dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) untuk mendorong kontribusi manufaktur terhadap PDB diatas 20%.
"Ini tidak mudah, masing-masing sektor tengah berlomba-lomba untuk menjadi sektor yang terbaik dalam kontribusi terhadap PDB. Tidak ada hubungannya antara kontribusi terhadap PDB dengan deindustrialisasi," tegasnya.
Sebelumnya, Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan dalam Dialog Apindo Capres 2024 bicara deindustrialisasi pada industri Indonesia hingga ketimpangan pembangunan manusia atau tidak merata.
Terkait deindustrialisasi, kata Anies, salah satunya terjadi pada industri manufaktur yang mengalami penurunan signifikan. Kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian Indonesia dalam datanya dari 29% pada 2014 menjadi 16% pada 2022.
"Tren deindustrialisasi selama beberapa tahun ini, deindustrialisasi pada kontribusi terhadap perekonomian kita menurun signifikan, misalnya industri manufaktur terhadap PDB 2014 29% di tahun 2022 16%. Justru kita mengalami deindustrialisasi. Kita mendorong reindustrialisasi berkelanjutan," terangnya.
Dalam paparannya, ada beberapa hal yang akan dorong agar meningkatkan kontribusi industri terhadap perekonomian Indonesia, yakni menghadirkan kepastian hukum kemudahan perizinan dan konsistensi kebijakan, menurunkan biaya logistik yang mahal, mempersiapkan manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing.
Kemudian, membangun keberpihakan pada industri lokal semua baik naik kelas, menjadikan kota kota di berbagai wilayah Indonesia sebagai pusat-pusat pertumbuhan, dan mengakselerasi transisi energi melalui pendekatan partisipasi masyarakat dan pelaku usaha.