INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kota Pahlawan Surabaya, yang dikenal sebagai tempat bersejarah penuh perjuangan dan kepahlawanan, tidak hanya memiliki kisah heroik dari masa lalu, tetapi juga menyimpan jejak-jejak bersejarah yang terpatri dalam bangunan-bangunan megah. Pada tahun 1808, saat Gubernur Jenderal Belanda William Herman Daendels memerintah, sebuah rangkaian fasilitas penting yang berkaitan dengan senjata dan amunisi didirikan di kota ini. Fasilitas ini, seperti Contructie Winkel (CW), Proyektiel Fabriek (PF), dan Pyrotechnische Werkplaats (PW), tidak hanya menjadi bagian penting dalam sejarah, tetapi juga mengantarkan kita melintasi masa kolonial hingga masa pendudukan Jepang.
Saat ini, di tengah cahaya modernitas, berbagai bangunan tersebut masih tegak kokoh sebagai saksi bisu dari sejarah yang kompleks. Bagaimana perkembangan dan perubahan terjadi pada fasilitas-fasilitas ini seiring berjalannya waktu? Bagaimana pengaruh masa kolonial dan pendudukan Jepang tercermin dalam arsitektur dan tujuan awal pembangunannya? Mari kita telusuri jejak sejarah yang menghubungkan generasi lampau dengan cerita masa kini, dan lebih mendekati peninggalan bersejarah yang menjadikan Surabaya bukan hanya kota berani, tetapi juga berakar dalam identitas sejarahnya.
Sejumlah bangunan masih berdiri dengan kukuh dan masih difungsikan hingga saat ini. Contohnya, Balai Kota Surabaya yang dirancang oleh arsitek Belanda bernama Cosman Citroen. Ia merancang gedung Balai Kota Pemerintah kota Surabaya pada sekitar tahun 1915-1917, dan gedung ini masih memegang peran penting hingga sekarang. Namun, bukan hanya Balai Kota Pemkot Surabaya, bangunan lainnya seperti viaduct kereta api di Jalan Pahlawan, Rumah Sakit Darmo, dan lainnya, juga merupakan karya Citroen yang mencerminkan kekayaan sejarahnya.
Bangunan-bangunan ini telah diakui sebagai bagian dari cagar budaya, yang memegang nilai-nilai bersejarah yang tak ternilai. Meskipun begitu, hingga saat ini jumlah Cagar Budaya yang diidentifikasi dan diresmikan masih terbatas, membutuhkan perhatian serius baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Penting untuk mengakui dan menjaga banyaknya Cagar Budaya ini, mengingat potensi risiko kerusakan akibat konflik kepentingan. Selain itu, bangunan-bangunan ini memiliki potensi menjadi daya tarik wisata, mendorong perlunya fokus pada pengembangan turisme berfokus pada warisan budaya.
Maka dari itu, perlu adanya penelitian lebih mendalam untuk mengevaluasi potensi wisata di lokasi ini. Sebuah penelitian skema Riset Fundamental-Riset Dasar yang di danai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi bertajuk "Pengembangan Model Destinasi Wisata Warisan Budaya Bernilai Pertahanan (Defense Heritage Tourism) Penjajahan Jepang Dalam Meningkatkan Daya Saing Kepariwisataan Indonesia Di Pasar Global" sedang digalakkan.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Chairy, S.E., M.M., bersama dengan para ahli lainnya, Filda Rahmiati, PhD, Felix Goenadhi, S.Psi., M.Par, dan Tasya Zahwa Prayoga, S.M, berusaha untuk menggali potensi wisata bersejarah ini di Indonesia, terutama di kawasan Surabaya dan Madura. Kegiatan ini juga di support oleh Penggiat Defense Heritage, Dr. Jeanne Francoise beserta asistennya, Jaslin.
Penelitian ini mencakup kegiatan pengumpulan informasi dari lapangan pada tanggal 19-21 Juli 2023, dengan observasi sebagai langkah awal, dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) sebagai sarana diskusi dan pendalaman pada hari kedua, serta observasi dan wawancara pada hari terakhir. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang potensi Wisata Warisan Pertahanan di Indonesia, khususnya di kawasan Surabaya dan Madura.
Terkait dengan upaya pelestarian warisan budaya dan identitas nasional, penelitian ini menjadi langkah penting dalam memahami sejarah dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi bagi generasi masa kini dan mendatang.
Oleh : Felix Goenadhi, S. Psi., M. Par. - Dosen Administrasi Bisnis President University