INDUSTRY.co.id, Banten - Jejak peninggalan nilai-nilai sejarah Islam di Tanah Banten memang tersebar luas. Ya! Salah satunya di Pemakaman Ki Abdullah Angga Depa atau yang disebut dengan Makam Kapal Bosok yang terletak di Kampung Drangong, Kelurahan Curug Manis, Kecamatan Curug, Kota Serang Provinsi Banten.
Istilah Kapal Bosok sendiri berarti busuk (bosok dalam bahasa Jawa). Sehinnga, bangunan kapal sekarang menjadi simbol sesungguhnya dari kisah Kapal Bosok.
Melansir dari dispar.bantenprov, Jumat (7/7/2017), dari sejarahnya sendiri, Makam Kapal Bosok dari dahulu sampai sekarang dianggap keramat oleh sebagian orang. Banyak orang-orang yang datang dan bertapa di situ atau sekedar ziarah mengharap karomahnya. Konon katanya hampir setiap malam Jumat selalu ada orang yang menziarahi makam Ki Angga Derepa.
Ada juga yang berdzikir (mengamalkan sesuatu) pada waktu malam hari di makam Ki Angga Derepa, akan diberi benda mistik seperti, batu, cincin, keris kecil, dan sebagainya. Di dalam bangunan yang berbentuk perahu (kapal) ini terdapat makam seseorang yang terkenal karena kesaktiannya, yaitu Ki Angga Derepa.
Pada suatu ketika Sultan akan mengadakan pernikahan putrinya, kemudian Sultan menyuruh Ki Abdullah Angga Depa mencari kayu bakar untuk keperluan memasak sebagaimana orang hajatan. Ki Abdullah Angga Depa menyanggupi untuk mencari kayu bakar.
Kemudian hajatan sedang berlangsung, Ki Abdullah Angga Depa datang bukan membawa kayu hasil kapakan tetapi sebatang pohon kayu besar langsung ditarik menggunakan pundaknya karena kesaktiannya bisa mencabut sebatang pohon yang besar.
Rupanya Ki Abdullah Angga Depa tidak mengetahui adanya lubang dibatang pohon tersebut. Di lubang tersebut ada siluman harimau. Sontak Ki Abdullah Angga Depa menjatuhkan pohon kayu itu, lantas harimau didalamnya keluar dan mengacaukan acara hajatan sultan. Kemudian Sultan marah dan memanggil prajurit kesultanan untuk menangkap dan diikatlah (didadung) Ki Abdullah Angga Depa di Kapal di Pelabuhan Karangantu.
Dengan kesaktianya, Ki Abdullah Angga Depa menarik kapalnya dan sampai dan terdampar di Kampung Drangong Kel. Curug manis, Kec. Curug, Kota Serang, Banten.
Hingga sampai akhirnya kapal itu busuk serta Ki Abdullah Angga Depa meninggal kemudian dan dimakamkan ditempat itu. Oleh karena itu dinamakan Kapal Bosok (Bosok = Busuk dalam bahasa jawa) dan sampai sekarang tempat itu terkenal dengan sebutan Pemakaman Kapal Bosok. Sampai saat ini makam Ki Abdullah Angga Depa ramai dikunjungi peziarah terlebih ketika malam Jum’at mencapai ratusan peziarah dari dalam dan luar kota.
Untuk menuju ke lokasi Kapal Bosok memang cukup sulit, mengingat letaknya yang berada di tengah-tengah lahan persawahan, juga harus menjelajahi jalanan berliku.
Jika datang dari arah Terminal Pakupatan, melaju ke Perempatan Boru, kemudian dilanjutkan ke Curug (menuju arah Kecamatan Curug), lalu menyusuri jalan sekira empat kilometer dari Kantor Kecamatan Curug ke Kapal Bosok.