INDUSTRY.co.id - Tidak sedikit yang meramalkan bahwa tahun 2023 merupakan tahun gelap perekonomian dunia, karena akan adanya resesi yang terjadi di banyak negara? Apakah ramalan ini benar? Coba kita membahas dari awal kejadian sehingga terbentuk opini dan ramalan demikian.
Penurunan kondisi perekonomian yang menyebabkan resesi terjadi tatkala virus Covid 19 melanda dunia, dua tahun lebih. Banyak negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi minus dalam dua kuartal berturut-turut, tak terkecuali Indonesia. Covid 19 menyebabkan produksi dan distribusi barang dan jasa menurun drastis. Kondisi ini terjadi karena pemerintah di sebagian besar dunia melakukan lockdown, tidak boleh keluar rumah dan keluar negeri. Akibatnya tidak ada pasokan bahan baku, tidak bisa berproduksi dan kalaupun sudah ada produk, barang tersebut tidak bisa dikirim.
Perang dan Inflasi
Belum pulih dari pandemi Covid 19, dunia diguncang dengan adanya perang antara Rusia dan Ukraina dimana Ukraina “didukung” Nato. Perlu diketahui bahwa Rusia dan Ukraina ada negara pengekspor komoditas, baik dari pertanian, tambang dan energi. Akibat perang ini, terjadi embargo ekonomi dari Dunia Barat yang dipelopori Amerika kepada Rusia. Akibatnya Rusia tidak bisa mengekspor komoditas dan enegerinya. Padahal banyak negara sangat terkait dengan produk Rusia, tak terkecuali Eropa.
Perang Rusia dan Ukraina yang sudah berlangsung sejak Bulan Februari 2022, sampai hari ini belum ada tanda-tanda berhenti. Lamanya perang berakibat naiknya harga barang khususnya bahan pangan dan energi diberbagai negara, temasuk Amerika dan Eropa. Harga batubara, minyak, gas, gandum naik berkali lipat. Kenaikan ini terjadi karena tidak adanya pasokan yang memadai. Kenaikan harga barang ini menyebabkan kenaikan inflasi yang sangat tinggi.
Jika dibandingkan dengan Agustus 2021, per Agustus 2022 laju inflasi AS mencapai 8,3% (year on year/yoy). Untuk produk makanan mengalami inflasi 11,4% (yoy), dengan rincian inflasi makanan rumah sebesar 11,4% (yoy) dan inflasi makanan luar rumah sebesar 13,5% (yoy). Sementara, inflasi harga energi sebesar 23,8% (yoy), dengan rincian inflasi harga komoditas energi sebesar 27,1% (yoy) dan inflasi layanan energi sebesar 19,8% (yoy) (https://databoks.katadata.co.id/). Per September 2022, inflasi AS masih sekitar 8.2%.
Sementara di Eropa, data awal Eurostat menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Eropa melonjak 10,7 persen pada Oktober 2022 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), jauh melebihi median perkiraan ekonom dalam survei Bloomberg sebesar 10,3 persen. Dibandingkan bulan September (month-on-month/mom), inflasi bulan Oktober mencapai 1,5 persen.
Disisi yang lain, kita bisa mnyandingkan dengan kondisi Indonesia. Inflasi Indonesia pada Oktober 2022 mencapai 5,71% secara year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yaitu 5,95%. Inflasi tersebut tidak bisa lepas dari kenaikan harga BBM yang dilakukan pada awal September 2022. Ada beberapa kali penyesuaian harga energi pada beberapa waktu terakhir. Antara lain kenaikan Pertamax, Pertalite dan Solar pada awal September 2022. Sebagai penyumbang inflasi tertinggi, secara yoy yaitu bensin-solar, tarif angkutan dalam dan antar kota serta rumah tangga penyumbang inflasi tertinggi secara year on year.
Penyediaan Pasokan
Kenaikan inflasi yang tinggi ditakutkan oleh banyak negara karena akan menyebabkan turunnya pertukaran barang dan jasa, pertumbuhan ekonomi melambat dan akhirnya bisa terjadi resesi. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa negara melakukan kebijakan kenaikan suku bunga. Amerika misalnya, sudah menaikan suku bunganya sejak Februari 2022, dan berkali-kali menaikan sehingga suku bunga di AS sekarang telah menjadi 3.75-4% dari yang sebelumnya diawal tahun 2022 berada dibawah 1%. Terakhir, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) per November 2022 kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate) 0,75%. Bunga acuan The Fed tersebut merupakan level tertinggi sejak 2008.
Di Eropa, terjadi kenaikan suku bunga meski tidak seagresif AS. Per Oktober 2022, suku bunga Eropa menjadi 1.25% dari 0% pada bulan Juni 2022. Indonesia sendiri juga menaikan suku bunganya menjadi 4.75% per Oktober 2022. Menaikan suku bunga diharapkan akan menaikan tabungan, menurunkan pembelian barang, jasa dan investasi.
Apakah upaya-upaya tersebut berhasil menurunkan inflasi? Inflasi sendiri terjadi karena dua kekuatan yaitu demand dan supply. Jika terjadi kenaikan permintaan melebihi kenaikan pasokan barang, maka akan terjadi kenaikan harga barang yang berujung inflasi. Sebaliknya bisa terjadi permintaan (demand) konstan namun supply berkurang banyak, akan terjadi inflasi juga.
Yang terjadi saat ini, inflasi disebabkan perang dimana menyebabkan pasokan barang terhambat dan berkurang, sementara permintaan relatif tetap. Itu berarti inflasi disebabkan oleh kurangnya pasokan. jika demikian, maka untuk menurunkan inflasi atau menahan supaya tidak terjadi inflasi yang tinggi adalah menjaga pasokan tetap tersedia di pasar. Jika perang berakhir, berangsur-angsur pasokan akan mengalir antar negara antar benua sehingga harga akan turun; inflasi akan terkendali; ada perputaran barang dan jasa, ada pertumbuhan ekonomi dan resesi tidak akan terjadi.
Jika suku bunga dinaikkan – seperti yang saat ini terjadi – tidak akan efektif menurunkan inflasi karena penyebabnya bukan karena peningkatan permintaan, namun terjadi karena langkanya barang akibat perang. Peningkatan suku bunga justru akan menyebabkan parahnya perekonomian karena biaya produksi jadi mahal dan tak terjangkau masyarakat.
Kondisi tersebut terkonfirmasi dari negara-negara yang memiliki kekayaan dan sumberdaya yang melimpah, seperti Indonesia. Inflasi di Indonesia tidak tergolong tinggi karena memliki cadangan pangan yang mencukupi, tambang yang melimpah dan energi yang terkelola.
Menaikkan suku bunga memang berdampak positif terhadap peningkatan nilai tukar mata uang, namun jika kenaikan suku bunga akibat inflasi terjadi karena pasokan justru akan berdampak buruk pada perekonomian karena orang akan lebih memilih menabung di bank daripada berinvestasi.
Berkait dengan hal tersebut, untuk menghindari terjadinya resesi, perlu dilakukan peningkatan produk pangan dan energi, memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia -- dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi – agar sumberdaya alam yang ada bisa dikelola secara efisien guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengatasi resesi, sehingga di tahun 2023, Indonesia tetap terang dan cerah.
Sony Heru Priyanto
Guru Besar Universitas Agung Podomoro