INDUSTRY.co.id-Jakarta-Sorgum. Tanaman yang satu ini kian akrab di telinga masyarakat Indonesia. Juga kian populer di kalangan masyarakat dunia.
Terutama setelah Eropa menahan gandum akibat perang Rusia dan Ukraina. Kini, Presiden Joko Widodo memprakarsai gerakan tanam bersama. Gerakan yang dimulai dari Indonesia bagian timur lalu masif di Pulau Jawa.
Kini sorgum adalah tanaman spesial yang dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis global. Sebagaimana diketahui, pandemi belum berakhir, perang belum usai, juga cuaca buruk yang tak kunjung melandai. Semua ini diperparah karena krisis ekonomi berpotensi resesi. Itulah mengapa sorgum jadi salah satu panganan alternatifnya.
Sorgum adalah satu dari lima tanaman serelia yang tumbuh subur di Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak serat dan kandungan karbohidrat. Bebas gula dan banyak protein. Cocok untuk memperbaiki kualitas hidup agar lebih sehat.
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terus mengembangkan sorgum sebagai budidaya yang menjanjikan. Bahkan Kementan telah menyiapkan 15 ribu hektare yang tersebar di beberapa daerah. Potensi pengembangan ini bisa bertambah jadi 100 ribu hektare apabila penanaman yang ada saat ini mengalami perkembangan yang cukup baik. Memang, seiring berjalannya waktu keseriusan pemeritah dalam mengembangkan sorgum patut diacungi jempol. Apalagi sorgum telah menjadi daya tarik bagi para pebisnis (offtaker) dalam membuat industri pengolahan.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan melakukan penanaman langsung di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Presiden mengharapkan tanaman ini dapat menjadi alternatif pangan bagi masyakarat Indonesia.
Presiden menilai, diversifikasi dan alternatif pangan sangat diperlukan dalam menghadapi ancaman krisis pangan dunia di masa sekarang dan yang akan datang.
Peringatan akan krisis pangan ini sudah disampaikan oleh Badan Pangan Dunia atau FAO dan juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tanaman sorgum di Kabupaten Sumba Timur telah diuji tanam pada lahan seluas 60 hektare dan menghasilkan minimal lima ton untuk setiap hektare. Presiden menilai hasil panen ini sangat baik dengan nilai keekonomian yang memadai.
Sorgum sendiri adalah pangan yang tergolong kedalam tumbuhan zero waste, dimana daun, batang, buah dan malaynya bisa dimanfaatkan sebagai olahan makanan. Termasuk beras, minyak, tepung, kerupuk bahkan sampai pakan ternak dan bioetanol dan baru-baru ini di Jombang, sorgum dapat diolah menjadi gula kristal maupun cair. Maka tidak berlebihan rasanya kalau sorgum adalah harapan masa depan bangsa. Belajar pada budidayanya, menanam sorgum juga terbilang gampang. Petani hanya cukup menggarap lahan lalu menanamnya dengan metode tugal berjarak 40 X 40. Kemudian melakukan penjaringan menjadi beberapa batang dan pemupukan urea NPK secara merata.
Semua proses itu penting dilakukan untuk memudahkan pertumbuhan sorgum hingga bisa dipanen secara baik. Dan apabila sudah tumbuh, Rata-rata ketinggiannya bisa mencapai 5 meter. Itu artinya sorgum yang ditanam dalam keadaan sehat.
Namun jangan lupa, dibalik tingginya sorgum selalu ada saja organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menjadi musuh utama para petani. Gerombolan hama itu berupa ulat dan tikus yang menyerang bagian daun dan pangkal. Belum lagi hama burung yang siap menerkam hasil panenan. Karena itu, petani perlu melakukan antisipasi dengan beberapa cara. Salah satunya menyiapkan Insektisida dan Rodentisida. Disisi lain, sorgum merupakan tanaman toleran terhadap kekeringan karena dalam masa pertumbuhannya tidak memerlukan banyak air.
Sorgum bahkan bisa dilakukan pemanenan secara berulang-ulang dalam satu kali periode tanam. Inilah yang membuat banyak orang melirik tanaman pangan ini. Terbukti, perluasan area tanam terus dilakukan. Seiring dengan itu, intervensi teknologi juga dimaksimalkan. Upaya tersebut bukan tanpa alasan karena program diversifikasi merupakan sebuah keharusan untuk menjaga pasar sorgum agar tidak tergeser oleh produk impor seperti halnya gandum.
Sejalan dengan hal itu, litbang kementan juga terus mengembangkan benih unggul. Di antaranya kawali, numbu, super 1, super 2, suri 3, suri 4 dan masih banyak varietas lain yang memiliki keunggulan pada hasil panen di atas 5 ton per hektare. Semua benih itu terus didistribusikan kepada para petani di seluruh Indonesia. Mengingatkan saja, sorgum atau yang dikenal dengan nama latin sorghum bicolor moench ini sudah mulai banyak dibudidayakan masyarakat sejak Tahun 1970. Sjak saat itu juga, sorgum perlahan tapi pasti mengikat dan menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia.
Peralihan makanan memang tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan makanan utama seperti halnya beras. Namun memakan pangan lokal sebagai alternatif pangan utama dapat kita biasakan dari sekarang.
Kita bisa memulai mengkonsumsi mie instan yang terbuat dari sorgum, kue dari sorgum, gula dari sorgum dan bahkan minyak goreng juga dari sorgum. Mengapa demikian, karena selain sehat, diversifikasi pangan lokal juga sangat menyenangkan dan bisa menghidupi ekonomi banyak orang.
Sebagaimana yang disampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, program diversifikasi adalah cara baru untuk memulai hidup sehat. Melalui cara ini, semua potensi panganan lokal kita dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia di seluruh Indonesia. Sudah saatnya kita berjalan menuju kemajuan dan berjalan menuju kemandirian. Jalan tersebut mutlak kita lakukan untuk merawat Cita-cita bangsa dalam mempertahankan kedaulatan pangan. Tentu kita harus bersyukur karena Indonesia memiliki potensi pertanian yang luar biasa. Indonesia adalah surganya tanaman lokal kita.
Tanaman sorgum yang makin mendunia dan dicintai masyarakat dunia. Selain hilirisasi industri sorgum, Keinginan pemerintah dalam upaya peningkatan produksi sorgum ini harus diiringi dengan kepastian harga dasar pembelian sorgum dan kesiapan pemerintah menampung sorgum milik petani. Jangan sampai sorgum ditanam cukup masif oleh petani, petani sendiri kesulitan dalam menjualnya apalagi disaat musim panen raya. Layaknya jagung yang mendapatkan kepastian harga dasar penjualan sehinga produksi jagung nasional terjaga, bahkan dapat di ekspor sehingga berdampak pada neraca perdagangan pertanian.