INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan tantangan Indonesia dalam ketergantungan terhadap gandum.

Advertisement

Sebab, lanjut Menperin, Indonesia memiliki kebutuhan gandum sebesar 11 juta ton per tahun yang diolah menjadi makanan sehari-hari.

"Penggunaan bahan baku gandum, terutama untuk tepung terigu, sebesar 51 persen dari konsumsi nasional untuk mi, roti, dan jajanan tradisional,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Raker dengan Komisi VII DPR RI, kemarin.

Advertisement

Untuk memenuhi kebutuhan, Indonesia harus mengimpor gandum dari negara-negara lain seperti Australia, Kanada, Ukraina, Amerika, dan India.

Akibat dari krisis pangan yang terjadi secara global, pasokan gandum di Indonesia berkurang drastis. India harus menutup ekspor gandum ke Indonesia untuk mengamankan kebutuhan domestik, sementara konflik geopolitik Ukraina-Rusia juga menghambat pasokan gandum di Indonesia.

Advertisement

Karena adanya keterbatasan stok nasional gandum di Indonesia, maka harga-harga produk bahan baku olahan gandum terancam naik, seperti mi instan.

Dalam rangka mencari alternatif dari gandum, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajukan inisiasi untuk mulai menggantikan gandum dengan bahan baku alternatif sorgum.

Advertisement

Hal ini mengingat konsumsi gandum sangat tinggi di Indonesia, sementara ketersediaannya semakin terbatas setiap harinya.

Inisiasi Kemenperin ini selaras dengan niat Presiden Jokowi untuk meningkatkan produktivitas sorgum. Presiden menargetkan untuk musim tanam 2022 akan mencapai 15.000 hektar sorgum, sementara tercatat 4.355 hektar sorgum tersebar di 6 provinsi, dengan total produksi sebanyak 15.243 ton dengan produktivitas 3,6 ton per hektar.

Sorgum memiliki keunggulan dibanding gandum yaitu karena bahan baku ini bersifat berkelanjutan, umur panen yang lebih singkat dan dapat dirantun (dapat tumbuh kembali setelah dipanen), sehingga dapat meningkatkan efisiensi pada budidaya sorgum.

Meski begitu, Agus mengatakan terdapat kendala nasional untuk mengembangkan sorgum yakni minimnya jumlah perusahaan yang produksi utamanya adalah sorgum. Sampai saat ini, baru terdapat 3 perusahaan kecil menengah yang sudah mengolah sorgum.

Meski begitu, ia optimistis ke depannya investasi di sektor sorgum akan berkembang. Di sisi lain, Anggota DPR RI Komisi VII Diah Nurwitasari, mengatakan bahwa salah satu tantangan nasional lainnya adalah sosialisasi.

Indonesia telah memproduksi dan mengkonsumsi gandum selama bertahun-tahun, tentunya untuk melakukan pergantian harus dilakukan secara berkala.

“Indonesia meskipun tidak produksi gandum, tapi ketergantungan sekali dengan gandum, terutama tepung. Sementara sorgum belum dikenal, jadi kalau ingin menggantikan posisi gandum, dorongan industri bahan baku lokal harus betul-betul dikuatkan,” tutup Agus.