INDUSTRY.co.id-Jakarta-Pengamat perbankan menilai saldo nasabah yang nol rupiah merupakan dampak Pandemi. Sudah seyogyanya perbankan meninjau kembali besaran biaya administrasi, seperti apa?
"Nah kini muncul beberapa rekening dengan saldo nol atau minimum sebagai akibat pandemi," kata Pengamat Perbankan Paul Sutaryono kepada Industry.co.id di Jakarta, Minggu (24/7/2022).
Ia mengingatkan sejak lama biaya admin itu lebih tinggi dari bunga simpanan.Jadi perbankan lebih besar serap biaya admin ketimbang memberikan bunga tabungan ke nasabah.
Ia bilang sejak sekitar krisis 1997/1998, bank mulai menggenjot pendapatan dari pengelolaan rekening simpanan (giro, tabungan dan deposito) atau disebut current account and saving account (CASA).
"Artinya, bank mengenakan biaya administrasi yang cukup tinggi. Akhirnya, biaya administrasi lebih besar drpd suku bunga simpanan. Hal itu dilakukan lantaran pendapatan dari bunga kredit (interest income) amat menipis karena modal perbankan saat itu hancur lebur," katanya.
Mirisnya,lanjut dia, kini rata-rata biaya administrasi rekening simpanan sekitar Rp10.000 per bulan. Itu lebih tinggi daripada suku bunga rekening simpanan bulanan. Jadi, ketika saldo rekening nasabah di bawah sekitar Rp 1 juta, saldo akan habis pelan-pelan karena dimakan biaya administrasi.
Maka ia berharap biaya administrasi tidak terlalu besar yang membuat kerepotan nasaba. Justru itu jadi beban bagi bagi nasaba.
"Sudah semestinya, biaya administrasi rekening simpanan ditekankan sedemikian rendah. Lihat saja kini biaya transfer via bank yang semula Rp6.500 bisa turun menjadi Rp2.500 via BI Fast. Intinya, nasabah jangan terlalu dibebani biaya administrasi terlalu besar shg memberatkan nasabah kelas bawah," katanya.