INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu industri pengolahan susu (IPS) melakukan rintisan pembinaan dalam penerapan transformasi digital di tempat penerimaan susu (TPS) dan dihubungkan dengan koperasinya.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimis melalui digitalisasi di TPS dan Koperasi akan berdampak positif baik bagi peternak maupun IPS.
"Bagi peternak, diyakini akan mendapatkan harga yang lebih tinggi dari peningkatan kualitas susu yang disetor dan meningkatnya transparansi yang akan meningkatkan trust peternak kepada koperasi atau industri," kata Menperin Agus dalam sembutannya secara virtual pada Bimbingan Teknis Transformasi 4.0 untuk Koperasi dan Tempat Penerimaan Susu (TPS), Selasa (5/4).
Di sisi lain, bagi IPS akan mendapatkan bahan baku susu dengan kualitas yang lebih baik sehingga akan berpengaruh terhadap produk olahan susu yang dihasilkan.
“Dari digitalisasi Koperasi dan TPS ini, lebih jauh dapat dimungkinkan untuk dilakukan kajian pemberian input (pakan dan perlakuan) vs output (produktivitas dan kualitas susu) yang dihasilkan, sehingga ke depan diharapkan dapat diketahui jenis dan komposisi pakan yang optimal untuk menghasilkan SSDN dengan produktivitas dan kualitas yang tinggi," imbuhnya.
Saat ini, dari jumlah TPS sebanyak 949 unit, terdapat 338 unit yang sudah memiliki Cooling Unit dan 24 unit yang telah melakukan digitalisasi.
"Kami akan mengakselerasi untuk dapat melakukan digitalisasi Koperasi Susu dan TPS secara nasional. Sementara itu, program digitalisasi TPS, baru dapat dilakukan, apabila TPS tersebut telah memiliki Cooling Unit yang memadai," tegas Agus.
Guna mengukur kesiapan perusahaan dalam penerapan industri 4.0, Kemenperin telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pengukuran Tingkat Kesiapan Industri dalam Bertransformasi Menuju Industri 4.0.
Berdasarkan hasil asesmen terhadap 706 perusahaan dari 11 subsektor industri (industri makanan dan minuman, tekstil, kimia, otomotif, elektronika, dan lain-lain) yang dilakukan oleh PT. Sucofindo dan PT. Surveyor Indonesia dengan menggunakan INDI 4.0 (Indonesia Industry 4.0 Readiness Index), diketahui bahwa angka rata-rata INDI 4.0 sebesar 1,9 atau berada pada tingkat kesiapan sedang.
“Artinya sebagian besar perusahaan sudah aware dengan industri 4.0 dan ingin segera mengimplementasikannya untuk membuat perusahaannya menjadi lebih efektif, efisien dan lebih kompetitif. Namun demikian, untuk mitra IPS yang berada di hulu seperti koperasi, masih diperlukan kegiatan bimbingan teknis transformasi dgital agar mereka mampu mengimplementasikan industri 4.0 secara tepat, akurat, aman dan terukur," terangnya.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika melaporkan bahwa kegiatan Launching Bimtek Digitalisasi Koperasi dan TPS diikuti secara online dan offline lebih dari 800 peserta yang merupakan perwakilan dari koperasi susu dan TPS.
"Untuk pelaksanaan bimteknya, akan dilakukan secara paralel dan supaya lebih efektif akan dibagi menjadi tiga room link zoom. Koperasi dan TPS tersebut merupakan mitra binaan Industri Pengolahan Susu, PT. Nestle Indonesia, PT. Frisian Flag Indonesia dan PT. Indolakto," tuturnya.
Putu menambahkan, materi Bimtek secara garis besar terdiri dari pemberian bekal pengetahuan terkait dengan industri 4.0 dan digitalisasi, GAP (Good Agricalture Practices), best practices digitalisasi di Koperasi dan TPS, benefit serta success story.
"Untuk narasumber berasal dari para pakar dari peguruan tinggi, praktisi dari perusahaan, dan vendor teknologi yang biasa melakukan bimtek dan pendampingan penerapan industri 4.0 di perusahaan-perusahaan," tandasnya.