INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) membukukan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026. 

Di tengah percepatan agenda transisi energi nasional, perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan dan laba bersih dua digit, ditopang oleh peningkatan produksi listrik panas bumi serta efisiensi operasional.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar US$235,027 juta, meningkat 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$204,850 juta.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari strategi bisnis yang dijalankan secara konsisten dengan mengedepankan efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

"Pertumbuhan pendapatan juga tercermin pada laba bersih Perseroan yang naik 15,48 persen secara tahunan menjadi US$79,605 juta, ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif. Adapun total produksi PGE sepanjang semester I-2026 mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.416 GWh. Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional," ujar Fransetya.

Kinerja Perseroan juga menunjukkan tren pertumbuhan yang berkelanjutan. Setelah mencatat laba bersih sebesar US$43,899 juta pada kuartal I-2026, PGE berhasil meningkatkan akumulasi laba bersih menjadi US$79,605 juta hingga akhir kuartal II-2026.

Hingga 30 Juni 2026, sejumlah indikator keuangan Perseroan menunjukkan fundamental yang tetap kuat. Total aset tercatat sebesar US$2,967 miliar, sementara ekuitas mencapai US$2,006 miliar. Posisi kas dan setara kas juga terjaga di level US$656,634 juta.

Di sisi lain, liabilitas Perseroan turun 2,80 persen dibandingkan posisi 31 Desember 2025 menjadi US$961,184 juta. Penurunan tersebut mencerminkan penguatan struktur permodalan sekaligus menurunkan risiko keuangan perusahaan.

Momentum Satu Abad Panas Bumi Indonesia

Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi industri panas bumi nasional karena menandai 100 tahun perjalanan pengembangan panas bumi di Indonesia. 

Momentum tersebut menjadi pengingat atas potensi besar energi panas bumi sebagai sumber energi bersih yang andal dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa panas bumi memiliki posisi strategis karena mampu menyediakan listrik secara berkelanjutan sebagai sumber energi baseload di tengah proses transisi menuju energi rendah karbon.

"Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70 persen energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami. Bagi saya dan seluruh perwira PGE, satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih nan melimpah yang kita miliki ini siap mendukung ketahanan energi negeri," kata Ahmad Yani.

Prospek pengembangan panas bumi juga semakin terbuka seiring target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang menempatkan energi baru terbarukan sebagai penyumbang 76 persen tambahan kapasitas pembangkit nasional. 

Dari target tersebut, panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).

Untuk mendukung pencapaian tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033. 

Saat ini Perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 727 megawatt (MW) atau sekitar 70 persen dari kapasitas panas bumi nasional.

Selain memperkuat kontribusi terhadap sistem kelistrikan nasional, PGE juga terus memperkuat praktik keberlanjutan. Perseroan mencatatkan skor ESG 7,1 dari Sustainalytics, tertinggi di Indonesia, sekaligus menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.