INDUSTRY.co.id - Jakarta – Para ahli kesehatan masih terus menyarankan untuk melengkapi vaksinasi. Vaksinasi terbukti masih sangat efektif meringankan gejala akibat terinfeksi COVID-19 varian apapun termasuk varian Omicron yang saat ini mendominasi. Saat ini pemerintah telah memulai vaksinasi dosis ketiga (booster) untuk menambah pertahanan masyarakat Indonesia dari infeksi COVID-19.

Advertisement

“Data Indonesia untuk yang mendapatkan vaksinasi booster memang belum banyak sehingga datanya masih belum cukup komprehensif. Tapi data dari luar negeri yang sudah melakukan vaksinasi booster lebih dahulu dan cakupannya lebih tinggi menunjukkan, vaksinasi booster mampu menurunkan risiko gejala berat akibat infeksi Omicron hingga 7,1 kali lipat daripada tanpa vaksinasi sama sekali. Sementara vaksinasi lengkap menurunkan risiko gejala berat akibat terinfeksi Omicron hingga 2,2 kali lipat daripada tidak divaksinasi sama sekali,” kata dr. Tonang Dwi Ardiyanto Sp PK., PhD., Juru Bicara Satgas COVID-19 RS Universitas Sebelas Maret (UNS) yang dikutip INDUSTRY.co.id, Sabtu (27/2/2022).

dr. Tonang juga menghimbau agar manfaat vaksinasi jangan dilihat dari kacamata sempit. “Misalnya ada yang mengatakan saudara saya sudah divaksinasi tapi kenapa bisa terinfeksi COVID-19? Itu pertanyaan yang banyak beredar di masyarakat. Coba kita berfikir, seandainya saudara kita tidak divaksinasi apakah gejalanya akan berat? Lalu coba cari tahu di sekitar kita sudah berapa banyak yang divaksinasi lengkap. Kalau yang terinfeksi jauh lebih sedikit, artinya vaksinasi baik lengkap atau bahkan yang sudah di booster, jauh lebih bermanfaat daripada tidak divaksinasi sama sekali,” saran dr. Tonang.

Advertisement

dr. Tonang sangat menyarankan vaksinasi lengkap bisa diberikan kepada mereka yang memiliki komorbid. Menurutnya bagi penderita komorbid sangat perlu untuk melengkapi vaksinasi karena termasuk kelompok paling rentan ketika terinfeksi COVID-19.

“Bagi mereka yang memiliki komorbid, tentu ada screening saat mau divaksinasi. Selama saat screening menunjukkan masih layak divaksin, maka lebih baik divaksinasi. Ini untuk menghindari risiko yang lebih parah saat terinfeksi virus COVID-19 nantinya,” saran dr. Tonang.

Advertisement

Diperkirakan saat ini Indonesia telah memasuki separuh jalan menuju puncak Omicron. Harapan dr. Tonang, dengan lebih cepat melewati puncak, kasus turun dengan cepat diikuti turunnya korban kematian.

“Tentunya untuk bisa sampai pada kondisi itu syaratnya ada dua yakni percepat vaksinasi lengkap dan tetap terus jalankan protokol kesehatan. COVID-19 masih ada tapi kita mampu menghadapinya ketika kita bekerjasama,” ujar dr. Tonang.

Advertisement

Sementara itu, lembaga survei Indikator mengeluarkan hasil survei nasional terkait dengan sikap publik terhadap Omicron dan vaksinasi booster. Salah satu temuan menarik dari hasil survei tersebut adalah 61,5% mayoritas masyarakat setuju dan sangat setuju dengan pemberian vaksin dosis ketiga sebagai booster. Ini menunjukkan minat dan penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi booster COVID-19 sangat tinggi.

Survei ini dilakukan kepada 626 responden secara acak melalui metode survei online dalam periode 15 Januari - 17 Februari 2022. Target populasi survei ini adalah warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki akses internet lewat smartphone, yang mana ini merupakan sekitar 69% dari total populasi nasional.