INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menegaskan sektor hulu migas masih menghadapi pekerjaan besar untuk mengejar target produksi nasional 2026. Hingga Juli 2026, realisasi lifting minyak dan penyaluran gas masih belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah.

Pemerintah menargetkan lifting minyak tahun ini sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD), sementara target salur gas ditetapkan 5.508 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Capaian hingga tujuh bulan pertama tahun ini yang masih berada di bawah target menjadi sinyal bahwa kinerja hulu migas perlu digenjot pada paruh kedua 2026.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan tantangan tersebut harus dijawab dengan evaluasi menyeluruh dan percepatan pekerjaan di lapangan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang dibacakan Sekretaris SKK Migas Lukky A. Yusgiantoro.

“Mari kita mensyukuri 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia dengan memberikan kerja terbaik bagi bangsa dan negara. Bagi industri hulu migas, pekerjaan yang kita lakukan bukan sekadar memenuhi target organisasi, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Djoko.

SKK Migas mencatat sejumlah kendala operasional menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja produksi sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Gangguan infrastruktur penyaluran, persoalan kelistrikan, kebocoran pipa, penurunan produksi sejumlah lapangan hingga kejadian unplanned shutdown menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja produksi nasional.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius mengingat sektor hulu migas memiliki posisi strategis terhadap ketahanan energi sekaligus perekonomian nasional. Tambahan produksi minyak dan gas bukan hanya berdampak terhadap pasokan energi, tetapi juga penerimaan negara, investasi, penciptaan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi.

Memasuki semester kedua 2026, SKK Migas meminta seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mempercepat pelaksanaan program yang telah masuk dalam Work Program and Budget (WP&B). Percepatan tersebut tetap harus dibarengi dengan aspek keselamatan, kepatuhan dan keandalan operasi.

SKK Migas juga meminta evaluasi terhadap rencana planned shutdown dilakukan secara lebih ketat. Langkah ini diperlukan untuk mengoptimalkan waktu penghentian fasilitas produksi sehingga potensi kehilangan produksi dapat ditekan.

Selain percepatan program, SKK Migas menekankan pentingnya rasa memiliki atau ownership terhadap setiap pekerjaan. Setiap proses di sektor hulu migas diminta dikawal hingga tuntas dan memberikan manfaat nyata tanpa terhambat sekat fungsi maupun organisasi.

Djoko juga meminta seluruh insan hulu migas melakukan evaluasi mulai dari aspek subsurface, strategi pengeboran, eksekusi pekerjaan hingga kesiapan fasilitas produksi. Evaluasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada identifikasi persoalan, tetapi menjadi dasar perbaikan konkret untuk mendongkrak kinerja pada semester kedua.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” pun dijadikan SKK Migas sebagai pengingat bahwa perjuangan sektor hulu migas tidak kalah strategis dalam konteks kedaulatan nasional.

“Semangat para pejuang kemerdekaan harus menjadi inspirasi bagi kita semua. Jika dahulu perjuangan bangsa adalah merebut kemerdekaan, maka perjuangan kita hari ini adalah menjaga ketahanan energi dan mencapai target lifting 610 ribu BOPD,” ujar Djoko.

Menurut dia, pekerja hulu migas berasal dari fungsi dan perusahaan yang berbeda. Namun, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keberlangsungan produksi dan memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia.

SKK Migas pun mengapresiasi para pekerja hulu migas, khususnya pekerja lapangan yang tetap menjaga keberlangsungan operasi di tengah berbagai kendala. Kolaborasi antara SKK Migas, KKKS dan seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk mengejar target yang masih tertinggal.

Dengan sisa waktu hingga akhir 2026, ruang untuk memperbaiki kinerja produksi semakin terbatas. Karena itu, percepatan pengeboran, optimalisasi fasilitas produksi, pengurangan downtime dan penyelesaian berbagai kendala operasional akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan industri hulu migas mencapai target lifting tahun ini.

SKK Migas optimistis kerja keras, kolaborasi dan inovasi dapat mendorong industri hulu migas memberikan kontribusi maksimal terhadap ketahanan energi dan perekonomian nasional