Geser Vietnam, RI Bidik 4 Besar Produsen Keramik Dunia
INDUSTRY.co.id - Tangerang – Industri keramik nasional menunjukkan performa yang semakin menjanjikan di tengah perlambatan industri keramik global. Dengan kapasitas produksi yang terus bertambah, tingkat utilisasi yang membaik, serta dukungan berbagai kebijakan pemerintah, Indonesia kini membidik posisi sebagai empat besar produsen keramik dunia.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, Indonesia saat ini telah masuk dalam jajaran lima besar produsen keramik dunia bersama China, India, Brasil, dan Vietnam. Menurutnya, peluang untuk naik satu peringkat semakin terbuka seiring menguatnya daya saing industri nasional.
“Industri keramik nasional memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan meningkatkan posisinya dalam rantai pasok global. Dengan dukungan kapasitas produksi yang besar, sumber daya manusia yang kompeten, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri dalam negeri, kita optimistis Indonesia dapat masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia,” ujar Faisol saat membuka pameran Keramika, Megabuild, Mega Property Expo 2026 di NICE PIK 2, Tangerang (4/6).
Menurutnya, industri keramik nasional memiliki fondasi yang kuat untuk mencapai target tersebut. Saat ini, kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi produksi mencapai 73 persen serta menyerap lebih dari 150 ribu tenaga kerja.
“Industri keramik nasional memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan meningkatkan posisinya dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Faisol menegaskan, industri keramik merupakan sektor yang memiliki peran strategis dan multiguna dalam mendukung pembangunan sektor rill, khususnya property dan kontruksi. Kinerja industri keramik sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan aktivitas pembangunan.
Sebagai sektor yang erat kaitannya dengan industri property dan kontruksi, pemerintah terus menjaga iklim usaha industri keramik agar tetap sehat dan kompetitif. Berbagai kebijakan strategis telah dijalankan antara lain, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib, pengamanan perdagangan melalui instrument safeguard dan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD), percepatan implementasi Making Indonesia 4.0, penguatan Standar Industri Hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Namun demikian, Wamenperin menegaskan bahwa keberlanjutan daya saing industri keramik tidak cukup hanya ditopang oleh kapasitas produksi, melainkan juga transformasi industri secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Faisol menjelaskan, tingkat konsumsi keramik Indonesia yang baru mencapai sekitar 2,5 meter persegi per kapita masih berada di bawah rata-rata negara ASEAN yang telah mencapai 3 hingga 3,5 meter persegi per kapita, serta lebih rendah dibandingkan negara produsen utama seperti Tiongkok dan Vietnam yang telah mencapai sekitar 4 meter persegi per kapita.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pasar domestic masih sangat terbuka dan perlu terus dioptimalkan melalui inovasi produk, peningkatan kualitas, serta perluasan akses pasar,” terang Faisol.
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mencatat, kapasitas industri keramik nasional pada 2026 telah mencapai 672 meter persegi per tahun dan diproyeksikan naik menjadi 728 juta meter persegi per tahun pada 2029.
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto mengatakan, pertumbuhan tersebut menjadi bukti bahwa industri keramik Indonesia berhasil bangkit di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perang dagang, ketidakpastian geopolitik, hingga banjir produk impor akibat kelebihan kapasitas produksi dunia.
“Industri keramik nasional berhasil pulih, Kami bangkit lebih cepat, lebih kuat, dan lebih hebat. Comeback Stronger and Rising More Elegant,” ujarya.
ASAKI mencatat, tren industri keramik dunia sedang mengalami penurunan. Setelah mencapai puncak produksi sebesar 15,9 miliar meter persegi pada 2021, produksi global terus menurun hingga menjadi sekitar 11,3 miliar meter persegi pada 2024, dan diperkirakan turun di bawah 11 miliar meter persegi pada 2025.
Sebaliknya, Indonesia justru memcatat ekspansi kapasitas yang agresif. Dalam periode 2020 hingga 2029, industri keramik nasional diproyeksikan menambah kapasitas sebesar 190 juta meter persegi, atau tumbuh sekitar 35 persen dibandingkan kapasitas sebelumnya.
Ekspansi tersebut telah menghasilkan investasi lebih dari Rp25 triliun dan membuka sedikitnya 20.000 lapangan kerja baru.
“Pada 2029, industri keramik yang tergabung dalam ASAKI diproyeksikan mempekerjakan lebih dari 175.000 pekerja,” tambah Edy.
Menurutnya, tambahan kapasitas produksi yang mencapai 190 juta meter persegi dinilai jauh melampaui volume impor tertinggi yang pernah terjadi pada 2024 sebesar 78 juta meter persegi. Kondisi tersebut membuat industri dalam negeri diyakini mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik tanpa bergantung pada impor.
“Artinya saat ini industri keramik nasional mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik tanpa harus bergantung pada impor,” ujar Ketua Umum ASAKI.
ASAKI mengungkapkan bahwa sekitar 95 persen produksi keramik nasional diserap pasar domestik.
“Karena itu, keberlanjutan berbagai proyek pembangunan pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan industri,” tutup Edy.