Vivace E: Saat Sakelar Tak Lagi Sekadar Tombol, Tapi Bagian dari Gaya Hidup
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perubahan cara orang memandang rumah terasa makin nyata. Hunian tak lagi sekadar tempat pulang, tapi juga ruang bekerja, beristirahat, bahkan memulihkan energi. Di tengah pergeseran itu, hal-hal kecil yang dulu sering diabaikan seperti sakelar dan stopkontak kini ikut naik panggung.
Melihat perubahan ini, Schneider Electric merilis Vivace E pada April 2026. Produk ini bukan sekadar perangkat listrik biasa, tapi dirancang untuk mengikuti selera hunian modern yang mengutamakan tampilan sekaligus rasa aman.
Vivace E hadir dengan desain frameless—rata tanpa bingkai—yang membuatnya seolah menyatu dengan dinding. Pilihan warnanya juga tak lagi monoton: putih mengilap, light grey, white gold, hingga hitam matte. Semua dirancang agar bisa “nyambung” dengan berbagai gaya interior yang kini makin personal.
Tren desain sendiri memang sedang bergerak. Dari yang dulu dikenal dengan “less is more”, kini bergeser ke pendekatan “less but better”. Bukan soal mengosongkan ruang, tapi memilih elemen yang benar-benar punya nilai—baik dari fungsi, kualitas, maupun rasa yang dihadirkan.
Dalam konteks ini, detail kecil jadi penting. Ariya Sradha, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta, menegaskan hal tersebut. “Dalam merancang sebuah hunian, detail kecil seperti sakelar dan stopkontak memiliki peran besar dalam menjaga kesatuan visual ruang. Desain yang terlalu menonjol atau tidak selaras dapat mengganggu keseluruhan komposisi. Karena itu, pendekatan desain yang clean, slim, dan frameless menjadi pilihan utama karena memungkinkan elemen tersebut menyatu secara natural dengan berbagai konsep interior.”
Namun, urusan rumah tak berhenti di estetika. Keamanan tetap jadi fondasi utama. Risiko korsleting hingga sengatan listrik masih jadi ancaman yang kerap luput dari perhatian.
Kristo Immanuel, film director dan lifestyle influencer, melihat perubahan cara pandang ini di kalangan pemilik rumah. “Bagi keluarga modern, rumah bukan hanya soal tampilan, tetapi juga rasa aman. Banyak dari kita mungkin tidak selalu melihat apa yang ada di balik dinding, tapi justru di situlah kualitas perangkat kelistrikan menjadi penentu. Ketika kita tahu bahwa perangkat yang digunakan aman dan andal, itu memberikan rasa tenang dalam aktivitas sehari-hari di rumah.”
Vivace E mencoba menjawab dua kebutuhan itu sekaligus. Selain desainnya yang ramping, produk ini dilengkapi fitur safety shutter, standar SNI dan sertifikasi IEC, serta sistem grounding untuk perlindungan penggunaan sehari-hari. Varian produknya pun cukup lengkap, mulai dari sakelar hingga stopkontak universal dengan opsi USB Type A+C.
Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, menyebut kebutuhan konsumen kini semakin jelas arahnya. “Kami melihat kebutuhan hunian modern di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan kualitas, keamanan, dan estetika ruang. Konsumen tidak lagi memilih antara desain atau keamanan, mereka menginginkan keduanya dalam satu solusi yang seimbang. Dengan pengalaman lebih dari 190 tahun dalam inovasi kelistrikan secara global dan hampir 40 tahun dalam pengembangan bisnis sakelar, kami terus memahami evolusi kebutuhan tersebut, termasuk di Indonesia yang merupakan salah satu pasar utama kami dalam kategori stopkontak dan sakelar.”
Jika ditarik ke belakang, perjalanan panjang Schneider Electric memberi konteks atas langkah ini. Perusahaan ini berakar dari industri baja di Prancis pada 1836, saat keluarga Schneider mengambil alih pabrik Le Creusot. Dari bisnis berat seperti baja, mesin, hingga galangan kapal, perusahaan ini perlahan bertransformasi mengikuti zaman. Memasuki abad ke-20, arah bisnis mulai bergeser ke sektor kelistrikan dan distribusi energi—sebuah keputusan yang kemudian menjadi fondasi identitasnya hari ini.
Transformasi besar terjadi pada akhir 1980-an hingga 2000-an, ketika Schneider Electric mulai fokus pada manajemen energi dan otomasi. Sejumlah akuisisi strategis memperkuat posisinya di bidang distribusi listrik, kontrol industri, hingga solusi digital. Dari situ, perusahaan ini berkembang menjadi pemain global yang tak hanya menjual perangkat, tetapi juga menawarkan ekosistem teknologi—mulai dari perangkat keras, perangkat lunak, hingga layanan berbasis data.
Di Indonesia sendiri, kehadiran Schneider Electric sudah berlangsung lebih dari setengah abad. Produknya akrab di berbagai segmen, dari rumah tinggal hingga industri besar—mulai dari MCB, sistem proteksi listrik, hingga solusi otomasi dan platform digital seperti EcoStruxure.
Dengan latar belakang itu, peluncuran Vivace E terasa seperti kelanjutan yang wajar. Bukan sekadar menghadirkan produk baru, tapi juga menerjemahkan pengalaman panjang ke dalam kebutuhan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan harga mulai dari Rp30 ribuan, Vivace E diposisikan sebagai opsi yang cukup terjangkau untuk upgrade rumah tanpa harus merombak besar-besaran. Produk ini sudah tersedia di berbagai marketplace dan toko material listrik.
Di saat yang sama, Schneider Electric juga memperkenalkan lini lain, Leona E, yang menyasar segmen lebih ekonomis dengan harga mulai belasan ribuan.
Pada akhirnya, yang berubah bukan hanya desain sakelar. Cara orang melihat rumah ikut bergeser. Detail kecil kini punya peran besar—bukan cuma soal fungsi, tapi juga bagaimana sebuah ruang terasa utuh, aman, dan nyaman untuk ditinggali.