HKI Dorong Pemerintah Bentuk Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Industri, dan Proyek Strategis Nasional, Akhmad Ma’ruf Maulana, mengapresiasi langkah diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan ke sejumlah negara.
Menurut Ma’ruf, upaya Presiden Prabowo berhasil mengamankan komitmen investasi dari berbagai negara besar seperti Uni Emirat Arab (UEA), Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga Republik Korea. Nilai investasi yang dijanjikan pun dinilai sangat besar dan berpotensi memperkuat hilirisasi serta ketahanan energi nasional.
“Presiden sudah bekerja luar biasa menjemput bola ke mancanegara, kami sangat apresiasi tinggi,” ujar Ma’ruf dalam keterangannya di Jakarta (13/4).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan lagi pada tahap penjajakan, melainkan implementasi di lapangan. Ma’ruf menilai masih banyak hambatan yang berpotensi menghambat realisasi investasi tersebut.
Ia menyoroti persoalan klasik seperti birokrasi yang berbelit, inkonsistensi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, hingga berbagai kendala teknis yang kerap membuat investor ragu untuk segera melakukan groundbreaking proyek.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ma’ruf mendorong pemerintah segera membentuk Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi. Tim ini diharapkan dapat berfungsi sebagai unit reaksi cepat yang mampu menyelesaikan berbagai hambatan investasi secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.
“Kami di HKI dan Kadin mencermati bahwa di lapangan masih ditemukan sumbatan dan hambatan. Ini harus segera dibenahi agar momentum tidak hilang,” katanya.
Ma’ruf juga mengingatkan bahwa investor dari negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat sangat mengutamakan kepastian hukum dan kejelasan regulasi. Jika hambatan tidak segera diatasi, Indonesia berisiko kehilangan peluang besar yang saat ini sedang terbuka.
“Kita tidak ingin komitmen besar ini hanya menjadi seremoni penandatanganan saja. Harus dipastikan setiap dolar benar-benar terealisasi dan memberi dampak ekonomi nyata,” tegasnya.
Di tengah tantangan tersebut, Ma’ruf tetap optimistis Indonesia mampu menjadi pusat produksi dalam rantai pasok global. Ia menilai, dengan pengawalan investasi yang kuat dan koordinasi lintas sektor yang baik, industri nasional dapat tumbuh lebih kokoh.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengesampingkan kepentingan sektoral dan politik demi menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Saatnya kita buktikan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya tempat berdiskusi, tetapi tempat terbaik untuk berinvestasi,” tutup Ma’ruf.