Kejahatan Siber Bergeser ke Manipulasi Pengguna, INDODAX Gencarkan Literasi Digital

Oleh : Candra Mata | Kamis, 04 Juni 2026 - 19:53 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ancaman siber saat ini semakin banyak memanfaatkan celah pada perilaku manusia dibandingkan kelemahan teknologi. Tren tersebut terlihat dari meningkatnya praktik social engineering yang kini menjadi salah satu metode paling dominan dalam berbagai kejahatan digital.

Data Tiger Research mencatat social engineering menyumbang 74,7% dari total kerugian akibat kejahatan siber di industri Web3 sepanjang kuartal pertama 2026. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan kontribusinya sebesar 64,3% pada 2025. Modus yang digunakan pun semakin beragam, mulai dari phishing, layanan pelanggan palsu, situs dan nomor telepon tiruan, hingga tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi dan muncul di hasil pencarian internet.

Di Indonesia, eskalasi ancaman digital juga tercermin dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020–2024. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) melaporkan total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun sejak 2024 hingga Januari 2026.

Melihat perkembangan tersebut, INDODAX memperkuat upaya edukasi keamanan digital melalui kampanye anti-phishing yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih kritis dalam memverifikasi informasi sebelum mengakses layanan digital maupun menghubungi layanan pelanggan.

CEO INDODAX, William Sutanto, menilai bahwa pola kejahatan siber telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya pelaku berupaya menembus sistem teknologi, kini mereka lebih sering memanfaatkan kelengahan pengguna untuk memperoleh akses ke akun dan data pribadi.

“Saat ini pelaku kejahatan tidak selalu berusaha membobol sistem yang kompleks. Mereka justru mencari cara yang lebih mudah, yaitu memanipulasi pengguna agar secara sukarela memberikan akses akun, kode OTP, atau informasi pribadi melalui tautan maupun nomor palsu. Karena itu, literasi keamanan digital harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.

Menurut William, salah satu modus yang semakin sering ditemukan adalah penyalahgunaan mesin pencari untuk menampilkan nomor layanan pelanggan palsu, situs tiruan, maupun tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi perusahaan.

“Banyak korban merasa aman karena menemukan informasi tersebut melalui mesin pencari. Padahal posisi teratas di hasil pencarian tidak selalu menjamin keaslian suatu informasi. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak hanya mencari, tetapi juga memverifikasi. Pastikan selalu mengakses website resmi dan menggunakan kanal komunikasi resmi yang telah disediakan,” lanjutnya.

Sebagai langkah pencegahan, INDODAX mengimbau masyarakat untuk menerapkan tiga kebiasaan sederhana guna mengurangi risiko menjadi korban phishing. Pertama, selalu memeriksa alamat domain situs yang dikunjungi dan memastikan berasal dari kanal resmi. Kedua, tidak langsung mempercayai nomor telepon atau tautan yang muncul di hasil pencarian tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Ketiga, memanfaatkan kanal bantuan resmi yang tersedia di aplikasi maupun situs resmi ketika membutuhkan informasi terkait akun.

Di sisi lain, perusahaan juga terus memperkuat layanan bantuan resmi yang tersedia selama 24 jam melalui email, Live Chat Help Center, call center, dan media sosial resmi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan seluruh member memperoleh akses langsung terhadap informasi yang valid, akurat, dan terpercaya.

Apabila menemukan indikasi penipuan digital yang mengatasnamakan INDODAX, masyarakat dapat segera melakukan verifikasi atau pelaporan melalui Live Chat Help Center di website resmi INDODAX, menghubungi layanan pelanggan resmi INDODAX di (021) 5065 8888, atau layanan INDODAX Prioritas di (021) 5036 8888.

Melalui peningkatan kewaspadaan serta kebiasaan memverifikasi informasi melalui kanal resmi, masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam melindungi aset dan data pribadi mereka. Langkah sederhana tersebut menjadi semakin penting di tengah lanskap ancaman siber yang terus berkembang dan semakin kompleks.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →