INDUSTRY.co.id - Jakarta - Devisa wisata bernilai ratusan triliun rupiah per tahun yang dibelanjakan wisatawan Indonesia ke luar negeri kini harus dapat dialihkan kembali hanya untuk dibelanjakan di Indonesia saja saat ini. Itu diungkapkan Mardigu Wowiek Prasantyo.

Advertisement

 

Pengusaha Indonesia lulusan State University of San Fransisco yang kini memiliki 30-an perusahaan besar memiliki nama panggung Bossman Sontoloyo. Bossman mengungkapkan pandangan seperti itu ketika memberikan pendapat kepada pemerintah agar devisa negara tidak habis secara sia-sia karena banyak warganegara Indonesia yang berlibur ke luar negeri.

Advertisement

 

Bossman mengemukakan, salah satu solusi kebangkitan ekonomi di masa pendemi dan pasca pandemi adalah memutar uang dengan cepat di dalam negeri melalui sektor pariwisata domestik.

Advertisement

 

“Berwisata dengan bermain dan mendapatkan uang jutaan rupiah akan mendorong semangat para pelaku wisata untuk menghabiskan waktu liburan mereka di dalam negeri,” tutur Bossman.

Advertisement

 

Karena itu, lahirlah kompetisi wisata berbasis UKM yang bernama Milionaire Race. Milionaire Race pertama diselenggarakan pada 2018 di Bali dan berhasil memperoleh 6 juta viewer di sosial media 210 peserta yang mempromosikan kegiatan kebudayaan, tempat wisata kuliner dan mempromosikan UKM.

 

Kemudian, Milionaire Race kedua dilaksanakan di Bali pada April 2021 dan diikuti oleh 224 peserta setelah pandemi pertama mereda. Acara ini berhasil mengumpulkan 27 juta viewer sosial media. Upaya itu juga mendorong peningkatan kunjungan wisatawan domestik ke Bali dalam satu bulan dari 3.000 orang per hari menjadi 6.000 orang perhari, sebelum akhirnya turun kembali karena PPKM.

 

Bossman mengungkapkan, Milionaire Race ketiga kini akan dilaksanakan pada 18- 21 November di Jawa Tengah dan Jogja dengan bertemakan “Borobudur Milionaire Race 3”. Acara ini akan diikuti 250 peserta dan menargetkan sebanyak 50 juta viewer sosial media.

 

Milionaire Race adalah program kerja sama Kemenparekraf dengan berbagai pihak swasta untuk memajukan wisata dibungkus dengan tantangan (challenge) dan permainan (games) yang berhadiah ratusan juta rupiah,” tutur Bossman.

 

Lebih lanjut, Bossman menjelaskan, Milionaire Race adalah cara kekinian untuk berwisata sehingga wisata itu bukan hanya melihat-lihat saja. Akan tetapi, wisata dengan pengalaman yang menarik, seru, dan ekstrim dapat diabadikan peserta acara tersebut untuk diabadikan dalam foto dan video yang di-upload pada sosial media mereka. Nanti, nilai tertinggi setiap tantangan yang dilewati para peserta akan tercatat pada besarnya jumlah viewer foto dan video yang mereka upload tersebut.

 

Pada setiap event, ada sekitar 35 tantangan permainan, mulai dari menari tarian daerah, membatik, kompetsisi naik becak, membuat makanan tradisional, mengenakan busana daerah sampai 100% mirip dengan contoh dimana panitia telah menyediakan puluhan ragam yang mereka harus cocokan, hingga mainan dolanan tradisonal yang harus dibuat terlebih dahulu, pastinya sangat seru.

 

Kemenparekraf telah merencanakan acara Milionaire Race ini akan terus dilakukan setiap tiga bulan secara bergilir ke seluruh indonesia dengan target satu miliar viewer tercapai ke seluruh dunia.

 

Rencananya, Milionaire Race berikutnya akan dilaksanakan di Jember, Pasuruan, Malang, Batu, yang mewakili Jawa Timur dimana pemerintah daerah diharapkan berperan aktif untuk mempromosikan daerahnya, dengan peserta hingga ribuan orang pada setiap event.

 

“Dengan ratusan juta viewer di sosial media akan merangsang para wisatawan untuk berkunjung ke seluruh wilayah indonesia dan akan membuat ratusan triliun rupiah uang berputar di dalam kekuatan ekonomi domestik Indonesia,” pungkas Bossman. (Abraham Sihombing)