INDUSTRY.co.id - Jakarta  - Harga minyak tertekan tajam setelah harganya sempat menyentuh zona Rp1.200.000/barel. Koreksi harga minyak terjadi setelah rilis data inflasi AS yang memberikan dorongan pada USD sehingga membuat minyak mentah yang biasanya didenominasi dalam USD menjadi lebih mahal bagi mata uang lainnya.

Research & Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange, Girta Yoga menyebut bahwa selain terpengaruh oleh data inflasi AS tersebut, harga minyak mentah juga terpengaruh oleh pernyataan dari Biden yang berniat menurunkan biaya energi, dengan pernyataan tersebut, sontak membuat harga minyak mentah AS cukup terkoreksi tajam karena terjadi ditengah naiknya inflasi AS.

Sementara itu, dari beberapa ekonom melihat bahwa dengan naiknya harga minyak mentah AS tersebut dapat semakin mendorong para pengusaha pengeboran minyak mentah Shale di AS untuk beroperasi dan kembali membuat posisi permintaan dan penawaran tidak seimbang.

"Menjelang masuknya musim dingin dan harga minyak yang cukup tinggi juga turut menjadi perhatian pasar karena perlu diwaspadai jika para pengusaha minyak mentah Shale dapat menggelontorkan cadangannya sebanyak 1 juta barel ke pasar," kata Girta yang dikutip INDUSTRY.co.id,  Kamis (11/11/2021).

Menurut Girta, koreksi yang terjadi pada harga minyak membuat sejumlah areal harga dalam perhatian, diantaranya adalah zona support terdekat yang berada di areal Rp1.130.000 dan zona resistance terdekat di areal Rp1.200.000/barel.

"Zona support terjauh harga minyaknya berada di areal Rp1.090.000 hingga ke zona Rp 1.080.000. Sementara untuk zona resistance terjauhnya berada di areal Rp1.250.000 hingga ke zona Rp1.300.000/barel," ungkap Girta.