INDUSTRY.co.id - Hasil tembakau di musim panen tahun 2016 ini mengalami penurunan hingga 60 persen. Hal tersebut terjadi akibat musim kemarau basah dan curah hujan yang tak menentu. Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budidoyo mengatakan, merosotnya panen tembakau di musim ini tercatat sekitar 80.000 ton.

“Sementara panen atau produksi tembakau pada musim tanam tahun 2015 lalu, mencapai 200.000 ton,” jelas Budidoyo, Minggu (23/10).

Budiyono memprediksi akan adanya tembakau impor akibat Imbas dari merosotnya produksi tembakau tahun ini. Total kebutuhan tembakau untuk industri rokok di Indonesia mencapai 320.000 ton per tahun. Ia berharap, pemerintah bisa memberikan insentif ke pada petani, antara lain penyediaan bibit tembakau, permodalan maupun penyediaan pupuk.

“Ini momen yang pas, sebab kami gagal panen dan kondisinya lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya bahkan dari tahun 2010,” jelas Budidoyo.

Ia menegaskan, jika pemerintah tidak memberikan insentif maka upaya untuk menekan impor tembakau sampai tinggal 20 persen akan sulit dicapai. Selama ini sekitar 37,5 persen kebutuhan tembakau masih dipenuhi dari impor.

Selama ini Pemerintah berusaha untuk menekan impor, salah satunya dengan pembatasan impor tembakau pada RUU Pertembakauan. Dalam RUU tersebut disebutkan, pabrikan rokok maksimal menggunakan tembakau impor hanya 20 persen, sisanya 80 persen dari tembakau lokal.

Menurut Budiyono, pada tahun ini petani tembakau baru memulai musim tanam di bulan Mei, harusnya petani mulai menanam tembakau sejak April. Kemarau basah juga berdampak terhadap kualitas tembakau yang menurun, situasi ini pun menurutnya semakin diperburuk dengan adanya kenaikan cukai rokok diangka 10,54 persen.

“Kami berharap pabrikan bisa membeli hasil panen tembakau rakyat,” katanya.

Dia mengungkapkan, saat ini masih belum diketahui jumlah serapan tembakau lokal ke pabrikan rokok. Lantaran, sampai awal Oktober ini tanaman tembakau belum sepenuhnya memasuki musim panen. (Hariyanto)