INDUSTRY.co.id - Jakarta, Program RASTRA (Beras Sejahtera) bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang rencananya akan dilakukan pada bulan Juli 2017 dinilai sangat terburu-buru.
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, Faperta Universitas gajah Mada, Dwidjono Hadi Darwanto saat acara Fokus Group Discussion (FGD) Perum Bulog di jakarta (29/5/2017).
"Program ini terkesan terburu-buru, sehingga akan timbul beberapa akses dan implikasi yang luas," ungkap Dwidjono.
Menurut Dwi, belum adanya sosialisasi pelaksanaan akan berdampak pada rendahnya tingkat ketepatan sasaran program ini. "Karena belum jelas siapa pelaksananya, ketentuan fee pelaksana, dan siapa rumah tangga sasarannya (RTS)," ucapnya.
Ia menambahkan, penyaluran Rastra dinilai belum efektif dan tidak berlabel. Pergantian beras miskin menjadi beras untuk masyarakat pra-sejahtera memungkinkan msyarakat mampu akan menuntut untuk mendapatkan beras Rastra.
"Kondisi seperti ini akan berdampak pada volume Rastra akan lebih besar daripada Raskin," terangnya.
Sementara itu, Dwi menambahkan, digantinnya Raskin dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) sistem kartu ini akan mengurangi outlet Bulog yang berdampak pada menumpuknya pengadaan beras yang sudah di tentukan untuk program Raskin. Selain itu, tentu ke depan akan berdampak pada penyerapan gabah atau beras petani oleh Bulog.
"Berkurangnya penyerapan gabah atau beras oleh Bulog tentu akan berdampak pada fluktuasi harga yang lebar di tingkat petani," imbuh Dwi.
Disisi lain, Dwi mengatakan, program ini baik untuk dilaksanakan karena RTS tidak saja terpenuhi kebutuhan berasnya saja, tetapi juga bisa terpenuhi kebutuhan rumah tangga akan bahan pangan lainnya, seperti gula dan yang lainnya.