Indocement, Raksasa Semen Yang Tidak Pernah Takut Berkompetisi

Oleh : Arya Mandala | Sabtu, 27 Mei 2017 - 12:22 WIB

Ilustrasi Indocement. (Dimas Ardian/Bloomberg)
Ilustrasi Indocement. (Dimas Ardian/Bloomberg)

INDUSTRY.co.id - Meski penjualan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sempat melambat tahun lalu, namun emiten berlogo INTP ini sudah menyiapkan berbagai amunisi untuk memenangkan persaingan pada tahun ini. Angin segar dari bangkitnya pembangunan insfrastruktur di Indonesia tak ingin disia-siakan oleh Indocement di tengah banjirnya serangan investasi asing di industri semen dalam negeri.

Tahun lalu terlebih tahun lalu, mungkin bukanlah tahun keberuntungan bagi industri semen di Indonesia. Di tengah aneka rencana pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Kabinet Kerja RI, penjualan semen yang dibukukan oleh sejumlah korporasi justru menurun. Itu pun dialami oleh raksasa semen tanah air Indocement yang penjualannya mengalami penurunan 7,9% tahun lalu.

Menurut Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya, perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini pun mengakibatkan kapasitas produksi semen nasional mengalami kelebihan stok hingga 15 juta ton. Terutama akibat permintaan domestik yang berkurang.

Di samping itu, tahun ini bakal menjadi tahun penuh tantangan bagi industri semen nasional. Christian mengatakan landscape kompetisi diprediksi bakal lebih riuh. Ini seiring dengan makin maraknya pemain baru menghiasi persaingan industri semen nasional.

Adapun para pemain baru tersebut antara lain Semen Merah Putih, semen Anhuicoach, Siam Cement, dan Semen Pan Asia.

Chris juga bercerita bagaimana empuknya Indonesia di mata dunia, sehingga negara lain berlomba-lomba menancapkan kukunya di industri semen di Indonesia.

Ada beberapa alasan, pertama karena pemerintah membuka promosi besar-besaran untuk insfrastruktur dan lain-lain, jadi pemain asing tentu melihat kebutuhan semen di Indonesia sangat besar, jelas dia kepada redaksi INDUSTRY.co.id.

Kedua adalah konsumsi semen per kapita di Indonesia yang tidak terlalu tinggi. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Indocement tahun lalu konsumsi semen per kapita di Indonesia termasuk yang paling rendah. Singapura saja 1.1000kg per kapita, sedangkan kita hanya 240kg per kapita.

Ini yang membuat orang berpikir Indonesia masih butuh banyak pabrik semen untuk meningkatkan konsumsi per kapita, tambahnya.

Bidik pertumbuhan 5%

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, emiten berlogo INTP ini menargetkan pertumbuhan penjualan tahun ini dikisaran 5-6 persen. Christian juga mengaku pede dengan target tersebut mengingat saat ini Indocement menguasai hingga 27,5 persen pasar di Tanah air.

Ia juga menambahkan untuk menghadapi ketatnya persaingan, beberapa langkah strategis yang ditempuh oleh perseroan. Mulai dari melakukan improvement dan meningkatkan kapasitas pabrik-pabrik existing, serta membangun pabrik baru untuk menambah kapasitas produksi.

Sementara itu terkait pembangunan Pabrik baru di Pati yang masih pending, Christian menuturkan pihaknya masih akan terus memperjuangkan. Saat ini Indocement masih berkutat di surat-surat kelengkapan pembangunan pabrik dan masih diproses di PTUN Surabaya.

Kita tidak pernah takut berkompetisi

Serbuan pemain baru seperti China di industri semen di Indonesia tak membuat Indocement gentar. Berbekal 40 tahun berada di Indonesia dan pangsa pasar yang luas menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki Indocement. Bahkan dengan mantap Chris mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah takut dengan kompetisi ini.

Kita tidak pernah takut berkompetisi. China memang sangat kompetitif karena mereka bangun pabrik semen ongkosnya murah karena hampir semua diproduksi sendiri. Kita dengan keterbatasan mesti impor, itu yang membuat mahal, kata dia.

Untuk bisa survive, Chris mengaku mencontek ide dari Presiden Joko Widodo yakni dengan melakukan efisiensi. Karena menurutnya, siapa yang paling efisien itu yang akan bisa bertahan.

Saya pikir ini jalan yang tepat, seperti kata Pak Jokowi,yang paling efisien itu yang pasti bakal bertahan dan harus bersaing dengan negara maju sementara negara kita sedang melambat. Salah satu langkahnya, kita kan punya 12 pabrik dan akan bertambah 1 menjadi 13, tentu ini lebih efisien ketimbang cuma punya 1 pabrik saja. Karena kita bisa meng-share fixed cost kita ke pabrik yang lain. Lalu kita juga mematikan pabrik yang sudah tua. Dengan punya banyak pabrik, mestinya kita lebih kompetitif., jelas dia.

Serbuan asing ini ada dua macam, satu ada mereka yang memang niat mau usaha di sini dalam arti membangun pabrik dari 0 dalam arti terintegrasi mulai dari minning gunung batu hingga menjadi hingga semen jadi. Ada juga yang hanya investasi di grindingnya saja seperti beberapa pabrik semen asal China yang bahan baku semen (klinker) nya yang mereka datangkan langsung dari China. Kalau seandainya Indonesia bisa memproduksi klinker ini dengan baik kenapa mereka engga pakai yang Indonesia punya?, tanya Chris.

Melihat kondisi ini, pihaknya berharap kepada pemerintah untu memberi batasan terkait klinker ini. Ia menampik bukan mengharapkan proteksi dari pemerintah, tapi semua ini semata-mata agar persaingan industri semen di Indonesia lebih sehat ke depannya.

Karena pabrik yang saat ini banyak dibangun China itu costnya murah, tapi tidak melibatkan tenaga kerjanya tidak banyak. Tenaga kerja yang banyak itu justru di pabrik yang terintegrasi itu. Sekarang investor malah banyak yang invest di grinding (penggilingan) saja. Ini yang bisa disadari, bukan kita mau proteksi, kalau mau kompetisi yang sehat ayo, tapi pemerintah buat batasan, tutup dia.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden Jokowi

Kamis, 26 Mei 2022 - 17:19 WIB

Pandemi Melandai, Presiden Jokowi Harap Aktivitas Seni dan Budaya Bangkit

Presiden Joko Widodo berharap melandainya pandemi menjadi momentum aktivitas seni dan budaya untuk bangkit kembali setelah terhenti selama dua tahun. Pernyataan ini disampaikan Presiden setelah…

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bersama Anindya Bakrie saat berfoto bersama Menteri Investasi Inggris Lord Grimstone

Kamis, 26 Mei 2022 - 15:30 WIB

Bertemu Menteri Investasi Inggris, Bahlil Pastikan Kerja Sama RI-Inggris Bakal Diteken pada KTT G20 di Bali

Di sela kunjungan kerjanya ke Davos, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia bertemu dengan Menteri Investasi Inggris Lord Grimstone kemarin siang (25/5)…

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI Mardani H. Maming

Kamis, 26 Mei 2022 - 15:00 WIB

Ini Kontribusi 50 Tahun HIPMI untuk Indonesia Menuju Era Keemasan

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sedang menuju era keemasan yang tahun ini akan menginjak usia 50 tahun. Anggota HIPMI di seluruh Indonesia akan tetap berjuang untuk membangun ekonomi…

Mentan SYL menyaksikan Porang yang akan diolah

Kamis, 26 Mei 2022 - 14:52 WIB

Kementan Dukung Investor Bangun Pabrik Olahan Porang Skala Besar di Lombok Barat

Pabrik pengolahan porang menjadi tepung glukomanan berkadar 90 persen mulai dibangun di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

PT Alkindo Naratama Tbk (“ALDO”

Kamis, 26 Mei 2022 - 14:07 WIB

Laba Bersih ALDO Melesat 70,8% pada Kuartal I-2022

PT Alkindo Naratama Tbk (“ALDO”), emiten yang bergerak pada bisnis kertas dan bahan kimia yang terintegrasi, terus meraih kinerja yang positif pada awal tahun 2022 dengan bukukan kenaikan…