INDUSTRY.co.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai agar kurs rupiah mengacu Euro atau Yen ketimbang Yuan China. Hal ini dikarenakan euro dan yen Jepang yang memiliki kepercayaan lebih tinggi dari Yuan.
“Yuan belum terkenal, China ekonominya mulai melemah. Terlebih lagi tahun lalu pemerintah China pernah melakukan pelemahan terhadap mata uangnya,” kata Hariyadi, Selasa (13/12/2016). Ia berpendat Indonesia bisa saja tidak beracuan pada dolar AS tapi tidak juga dengan yuan, melainkan euro dan yen. Dua mata uang tersebut dianggap masih stabil pada kondisi saat ini.
Menurutnya, dalam transaksi perdagangan luar negeri terutama ekspor-impor antara Indonesia dan China kedua negara enggan menggunakan yuan. Misalnya, kata dia, saat pengusaha Indonesia melakukan impor, pihak China tidak mau menggunakan yuan.
"Mereka sendiri nggak percaya sama mata uang mereka sendiri," ujarnya.
Meski ekspor Indonesia ke China memang besar sekitar 15,5 persen dari total ekspor Indonesia. Namun porsi yang lumayan besar juga ada di pasar Eropa dan Jepang dengan masing-masing 11,4 persen dan 10,7 persen. Sementara ekspor Indonesia ke AS hanya menyumbang 10-11 persen.
“Kita berdagang dengan Eropa, mereka pilihannya euro atau dolar AS. Kalau kita mau pakai Yuan Cuma dengan China saja,” pungkasnya