INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia memiliki banyak sekali aset negara yang bernilai besar. Apabila pengelolaannya dilakukan secara optimal dan tepat tentu akan memberikan manfaat yang bernilai tinggi di masa yang akan datang.
Hal tersebut dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani di dalam sambutannya di pembukaan Rakernas DJKN di Jakarta.
Sri Mulyani juga menuturkan bahwa aset-aset itu sendiri tidak hanya dilihat dari yang berwujud, melainkan juga bisa dilihat dari aset yang tidak berwujud yang saat ini peningkatan pengelolaannya sedang diupayakan oleh pemerintah.
Hasil belanja pendidikan dan juga belanja vaksin adalah salah satu contoh dari intangible assets itu sendiri.
"Anggaran pendidikan yang setiap tahun dialokasikan 20% dari APBN, tidak hanya harus berbicara mengenai gedung sekolah atau kampus," kata Sri Mulyani seperti dikutip redaksi Industry.co.id, Senin(30/8/2021).
"Peningkatan kualitas SDM generasi masa depan Indonesia. Anak-anak yang makin kreatif dan inovatif adalah aset yang luar biasa penting," sambung Sri Mulyani.
Dikatakan Menkeu lebih lanjut, Program Vaksinasi Nasional dalam upaya pemerintah menciptakan kekebalan komunal guna melindungi masyarakat dari berbagai penyakit menular merupakan aset berharga negara masa depan yang tidak ternilai.
"Keseluruhannya itu merupakan intangible assets," pungkas Menkeu.
Sedangkan untuk aset yang berwujud menurut Sri Mulyani, masyarakat dapat melihat secara nyata hasil dari pembangunan infrastruktur. Tidak hanya digunakan sebagai mana fungsinya, tapi di masa Pandemi, banyak gedung milik negara di berbagai wilayah yang dialihfungsikan menjadi rumah sakit darurat sebagai upaya cepat tanggap penanganan Pandemi Covid-19.
"Ini merupakan langkah aset negara mendukung peningkatan aset tidak berwujud yaitu pemulihan kesehatan masyarakat," ujar Menkeu.
Diakhir sambutannya, Sri Mulyani berharap DitjenKN sebagai pengelola kekayaan negara mampu memaksimalkan aset-aset yang ada agar masyarakat dapat merasakan benar manfaatnya.
"Melihat konteks dan situasi yang terus berubah, tantangan yang makin meningkat dan dinamis, DitjenKN harus bisa beradaptasi dan berinovasi dalamengelola kekayaan negara," imbuhnya.
"Tidak hanya dengan pikiran tetapi juga dengan hati," tutup Menkeu.