INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kemampuan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM melayani the bottom of pyramid pelaku usaha di Indonesia diyakini semakin kokoh, seiring pertumbuhan bisnis dan aktivitas pemberdayaan perseroan ke depan yang makin besar pasca Holding Ultra Mikro terbentuk.

Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi menjelaskan bahwa pertumbuhan bisnis dan aktivitas pemberdayaan PNM ke depan berpotensi makin besar pasca terbentuknya holding. Integrasi data pelaku ultra mikro nasional akan semakin solid karena holding tersebut.

Melalui holding BUMN Ultra Mikro, perseroan dituntut untuk lebih agresif dalam membantu pelaku usaha mikro naik kelas. Yakni melalui pembinaan yang semakin masif dan penyaluran pinjaman modal produktif dengan bunga cicilan yang lebih ringan.

Karena itu, PNM pun tengah mengkalkulasi beberapa hal seperti potensi beban dana, beban operasional, serta beban lainnya yang akan ditransmisikan pada beban cicilan kredit usaha wong cilik.

"Penurunan (bunga) cicilan akan terjadi pasca holding. Saat ini, sedang didiskusikan bersama. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan," ujar Arief yang dikutip INDUSTRY.co.id, Jumat (27/8/2021).

Dengan integrasi ekosistem UMi melalui holding, PNM cukup optimistis nasabah program Mekaar PNM akan memperoleh keuntungan penurunan bunga pinjaman sekitar 3%. Sinergi itu pun akan semakin menguntungkan masyarakat kecil karena dapat mengoptimalkan peran pemberdayaan PNM dengan penurunan biaya overhead sekitar 8%.

Selain itu, penguatan ekosistem usaha UMi nasional melalui holding diharapkan dapat memberikan akses pendanaan yang lebih murah, berkurang sekitar 7%-9%.

Ditegaskan pula, integrasi ketiga entitas BUMN tersebut dinilai bakal membentuk ekosistem usaha UMi yang kuat dengan menjaga, dan mempertahankan pendekatan pemberdayaan sosial PNM, dan model bisnis Pegadaian yang khas. Kemudian juga memperkuat peranan BRI sebagai koordinator dan center of excellence.

"Ekosistemnya tentu akan menjadi lebih besar. Pelaku (usaha) ultra mikro dapat menjalin kerja sama dengan pelaku usaha menengah, bahkan korporasi, secara langsung," sebut Arief.

Hal Senada disampaikan Direktur Kelembagaan dan Perencanaan PNM Sunar Basuki, salah satu harapan besar dari pembentukan holding adalah untuk menurunkan biaya cicilan. Hal itu harus ditempuh agar kehadiran negara lewat BUMN lebih terasa dalam mendukung kinerja pelaku usaha di tataran bawah secara langsung.

Terlebih langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi masyarakat. "Hal ini juga sejalan untuk mendukung kinerja pelaku mikro lebih baik lagi di masa pemulihan ekonomi. Hanya saja, besaran penurunan belum ditetapkan. Akan lebih dalam lagi dibahas saat holding efektif," imbuh Sunar.

Sebagai gambaran, berdasarkan laporan keuangan PNM aset perseroan tumbuh dari Rp31,66 triliun pada Desember 2020 menjadi Rp38,15 triliun per Juni 2021. Kontribusi terbesar dari komponen pembiayaan yang diberikan atau piutang pembiayaan kepada nasabah, yang meningkat dari Rp22,08 triliun pada Desember 2020 menjadi Rp28,3 triliun per Juni 2021.