INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dexa Medica menghadirkan terapi pengobatan antibodi monoklonal, RegkironaTM dengan kandungan regdanvimab untuk pasien Covid-19.
yang berasal dari Korea Selatan ini telah dilakukan uji klinis dan menunjukkan hasil yang positif dan menurunkan angka progresifitas virus Sars Cov2 pada pasien hingga 72%. Pasien tidak akan mengalami perburukan kondisi sehingga diharapkan mencegah terjadinya risiko kematian.
Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, Dr. Raymond Tjandrawinata mengatakan, terapi antibodi monoklonal berbeda dengan yang telah ada sebelumnya karena terapi ini diciptakan khusus untuk mengatasi Sars Cov-2. Sedangkan terapi yang sebelumnya merupakan terapi silang atau menggunakan obat yang bukan dikhususkan untuk Sars Cov-2, seperti Avigan, Hidroksiklorokuin, Remdesivir, hingga Ivermectin.
"Obat ini dibuat dari hasil donor plasma konsevalen pasien Sars Cov-2 Korea yang kemudian diteliti dan dianalisa sehingga menghasilkan antibodi monoklonal," katanya pada acara virtual konferensi pers (31/7).
Dr. Raymond juga mengatakan, hasil uji klinik Fase I dan II global untuk regdanvimab atau RegkironaTM menunjukkan keamanan, tolerabilitas, efek antivirus, dan profil efikasi yang menjanjikan pada pasien dengan gejala Covid-19 ringan hingga sedang.
"Studi preklinik in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa regdanvimab berikatan kuat dengan Receptor Binding Domain SARS-CoV-2 dan secara signifikan menetralisasi virus varian wild type dan varian mutan yang menjadi perhatian termasuk varian Alpha atau B.1.17. Kemudian pada model in vivo, regdanvimab secara efektif mengurangi viral load SARS-CoV-2 dan peradangan di paru-paru," tambahnya.
Menurutnya, cara kerja dari obat ini adalah menetralisir atau mencegah spike protein pada virus tersebut berikatan dengan ACE2. Dengan demikian, virus bisa dicegah dan tidak masuk di paru-paru.
"Pasien lebih cepat sembuh hingga 5 hari dibandingkan mereka yang hanya mendapatkan pengobatan standar atau hanya diberikan vitamin dan lainnya. Obat ini ditujukan kepada pasien yang mengalami gejala ringan dan sedang," paparnya.
Lebih lanjut, pasien yang memiliki risiko tinggi seperti darah tinggi, hipertensi, obesitas, asma, gagal ginjal, hingga imunosupresan dan pasien kanker serta pasien yang telah berusia diatas 50 tahun berisiko mengalami perburukan.
"Apabila mereka mendapatan terapi antibodi sejak dini, keparahan atau kritis bahkan kematian bisa dicegah. Hal ini mengingat angka kematian Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi. Namun, terapi ini tidak bisa diberikan kepada mereka yang telah berada dalam kondisi parah atau kritis," ujarnya.
Raymond menambahkan, obat tersebut berupa infus yang diberikan atas pengawasan dari dokter yang menangani pasien Covid-19. Obat tersebut telah banyak digunakan di berbagai negara, terutama di Eropa.
Sedangkan di Indonesia, pengobatan ini baru pertama kali dan Dexa Medica menjadi pemegang hak merek dari Korea tersebut. Obat tersebut telah mendapatkan persetujuan penggunaan di Eropa, dan di Indonesia mendapatkan ijin penggunaan darurat/Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pegawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 17 Juli lalu.
Commercial Director PT Dexa Medica Hery Sutanto merasa bersyukur telah dipercaya oleh Celltrion untuk membawa konsep baru monoklonal antibodi ke Indnesia.
Celltrion merupakan perusahaan biotech terbesar di Asia, dan juga merupakan perusahaan biotech yang sudah sangat terkenal di dunia, dan sudah banyak produk hasil risetnya dipasarkan Amerika dan Eropa.
Nantinya, jelas Hery, terapi tersebut akan dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang tahal awal akan disediakan di Jakarta dan secara bertahap akan disediakan di rumah sakit di kota-kota besar lainnya.
"Kami masih berproses dengan pihak rumah sakit untuk dapat menyiapkan layanan one day care untuk terapi Regkirona ini," tutup Hery.