INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri manufaktur atau pengolahan Indonesia terus memberikan kabar baik bagi upaya pemulihan ekonomi. Sektor usaha itu kembali mencatatkan tren ekspansif dan diperkirakan sudah merekrut kembali banyak tenaga kerja.
Lembaga IHS Markit mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia pada Mei lalu ada di posisi 55,3. Angka ini naik dari posisi bulan sebelumnya sebesar 54,6. Selain merupakan rekor tertinggi, dan kenaikan ini sudah sudah berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut.
"Sektor manufaktur Indonesia berkembang cepat. Perusahaan menandakan peningkatan permintaan dan output yang kuat, sementara peningkatan ketenagakerjaan dalam 15 bulan pertama juga menggembirakan," kata Direktur Asosiasi Ekonomi IHS Markit, Jingyi Pan, dalam keterangannya, (2/6/2021).
Sebagai catatan, angka PMI di atas 50 mengindikasikan sektor usaha manufaktur tengah berada dalam fase ekspansi. Menurut IHS Markit, kondisi ekspansi pada manufaktur ini terjadi lantaran naiknya permintaan di hampir semua sektor industri.
Kenaikan permintaan baru itu, lanjut IHS Markit, direspons dengan penyesuaian kapasitas produksi. Di saat bersamaan, demi memperbesar aktivitas produksi, perusahaan kembali merekrut lebih banyak pegawai.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (Api) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan, sektor usahanya sebetulnya sudah kembali menyerap tenaga kerja terutama bagi mereka yang sempat dirumahkan sejak kuartal kedua tahun lalu. Namun, lanjutnya, kapasitas penyerapan pekerja saat ini belum mendekati posisi sebelum pandemi Covid-19.
Selain itu, menurut dia, kenaikan PMI belum mencerminkan kondisi sepenuhnya industri tekstil. Kata dia, boleh jadi kenaikan PMI yang cukup ekspansif itu justru disumbang oleh subsektor lain, di luar tekstil dan produk tekstil.
Sebab, lanjut Rizal, utilisasi atau kapasitas industri tekstil dan produk tekstil (TPT) rata-rata menurun pada sepanjang kuartal pertama tahun ini dibanding akhir 2020. Saat ini, menurut, catatannya utilisasi juga masih di kisaran 55-65 persen.
"Tapi kami optimistis industri tekstil pulih tahun ini," kata Rizal, Kamis (3/6).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja industri tekstil dan pakaian jadi pada kuartal pertama tahun ini terkontraksi 13,28 persen secara tahunan, lebih dalam dibandingkan akhir 2020 sebesar 10,49 persen.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono juga mengatakan, penyerapan tenaga kerja di industrinya baru sebatas memanggil kembali mereka yang sempat dirumahkan. Dia berkata, kondisi penyerapan pekerja di masing-masing subsektor juga berbeda.
Menurut Fajar, untuk industri kimia hilir, misalnya, sudah mulai kembali membuka lapangan kerja baru. Kemudian, untuk industri kimia hulu diharapkan menambah tenaga kerja pada 2023-2024 seiring rencana ekspansi. Sedangkan, industri yang berkenaan dengan pariwisata dan pesta masih belum ada penambahan kapasitas tenaga kerja lantaran pembatasan sosial.
Peneliti Center of Reforms on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kenaikan angka PMI pada sepanjang Mei lalu tentu tidak terlepas dari momentum Ramadan dan Idulfitri 2021. Menurutnya, pada masa itu memang biasanya ada peningkatan permintaan barang dan jasa.
Namun demikian, Yusuf belum bisa memperkirakan apakah tren ekspansif di sektor manufaktur ini akan berlanjut ke depannya. Kata dia, dinamika di industri tersebut tentu akan dipengaruhi kinerja ekonomi sepanjang tahun ini.
"Kalau melihat prospek pertumbuhan ekononomi yang jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu, tentu tren PMI berada di level ekspansif," kata Yusuf.
Dia menambahkan, keberlanjutan industri manufaktur juga akan bergantung pada kondisi penanganan pandemi Covid-19.
Di samping itu, dia juga menduga bahwa perbaikan angka PMI itu belum akan diikuti dengan kenaikan penggunaan tenaga kerja. Menurutnya, data BPS menunjukkan bahwa proporsi penyerapan tenaga kerja di industri pengolahan justru turun secara tahunan.
Data BPS menyebutkan, per Februari lalu, proporsi tenaga kerja industri pengolahan mencapai 13,60 persen dari total penduduk yang bekerja. Angka ini turun dari posisi Februari 2020 sebesar 14,09 persen.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasamita mengatakan, kenaikan PMI manufaktur Indonesia menjadi petunjuk bahwa industri sudah mulai bangkit. Kondisi itu, katanya, akan mendorong laju perekonomian nasional ke kondisi pulih.
"Kami optimistis bahwa kenaikan PMI manufaktur Indonesia ini juga menunjukkan pertumbuhan industri pada triwulan II tahun 2021 akan kembali positif," kata Agus dalam keterangannya.
Menurut Agus, demi mendukung momen positif ini, pemerintah akan terus menyeleraskan dan memperkuat kebijakan untuk industri.
Agus menambahkan, capaian bagus industri pengolahan Indonesia juga lebih tinggi dari tingkat PMI di sejumlah negara lain. Di tingkat Asean, misalnya, PMI Indonesia lebih tinggi dari Vietnam (53,1), Malaysia (51,3), Singapura (51,7), Filipina (49,9), dan Thailand (47,8).
Bahkan, PMI manufaktur Indonesia juga memimpin dibanding Korea Selatan (53,7), Jepang (53,0), China (52,0), dan India (50,8).