INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjawab adanya keluhan dari sejumlah kalangan hingga pengamat soal mahalnya harga vaksinasi gotong royong. 

Advertisement

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani menilai harga tersebut justru sudah sesuai ekspektasi pengusaha, bahkan relatif lebih rendah dari kemampuan sebagian pengusaha. 

Menurutnya, hal tersebut bisa dibuktikan dengan melihat latar belakang perusahaan yang telah mendaftarkan pekerjanya untuk mendapatkan vaksin. Dimana ada sejumlah UMKM yang cukup signifikan yang tercatat telah mendaftar. 

Advertisement

"Yang cukup membuat surprised terntaya UMKM melakukan registrasi juga, sekarang ada lebih dari 7 ribu UMKM yang mendaftar dari 22 ribu itu. Pegawainya ada yang hanya 3,5,10 sampai 20 orang," kata Rosan di Jakarta, Rabu (19/5/2021).

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan harga untuk tiap dosis vaksin gotong royong. Total biaya tiap orang yang mendapatkan dua dosis vaksin yakni Rp967.054. Biaya tersebut berasal dari harga per dosisi Sinopharm Rp321.660, tarif pelaksanaan Rp117.910, serta telah termasuk PPN 10 persen.

Advertisement

Rosan menegaskan bahwa penetapan harga tersebut dilakukan dengan melakukan survei terlebih dahulu terhadap kemampuan dunia usaha. Survei ini menurutnya mayoritas justru lebih banyak diikuti pengusaha di luar Kadin.

Hasilnya, kata Rosan, sebanyak 78 persen menyanggupi harga vaksin di kisaran Rp500 ribu per dosisnya. Sisanya menyanggupi di kisaran Rp1 juta sampai Rp2 juta.

Advertisement

Melihat hasil survei tersebut, ia berani berkesimpulan bahwa 100 persen pengusaha sanggup membayar dengan harga saat ini yang bahkan berada di bawah Rp500 ribu per dosis. Termasuk UMKM yang sebagian besar padahal masih terpuruk.

"Jadi harga ini sesuai dengan ekspektasi pengusaha, kalau di bawah Rp500 ribu ini saya berani bilang 100 persen. Karena 78 persen aja di range Rp500 ribu, sisanya bahkan lebih," tutup Rosan.