INDUSTRY.co.id - Jakarta- Koalisi Masyakarat Sipil Anti Korupsi meminta Presiden Joko Widodo agar membentuk tim independen dalam penyidikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan pada Selasa (11/4).
"Dalam satu minggu ke depan kalau polisi belum menemukan perkembangan yang signifikan, kami rasa sebaiknya dan sepatutnya Presiden menerbitkan keputusan umtuk membentuk tim independen," kata Direktur Eksekutif Amnesty International perwakilan Indonesia Usman Hamid di gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/5/2017)
Menurutnya, tim independen itu bisa dalam bentuk mengontrol investigasi yang dilakukan kepolisian atau bisa juga berupa tim investigasi yang dapat dikatakan perlu perluasan dari penyelidikan yang telah dilakukan oleh Kepolisian.
"30 hari memasuki masa 40 hari itu masa yang genting, di mana bukti-bukti bisa saja hilang, dirusak. Saya tidak yakin bahwa tempat kejadian perkara masih steril atau masih lengkap dengan segala bukti secara forensik," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa satu pekan ke depan itu menjadi suatu ukuran waktu bagi Kepolisian untuk betul-betul memberikan kemajuan yang signifikan terkait perkembangan kasus Novel tersebut.
"Jadi dari rekaman serangan terhadap Novel sebelumnya, keterangan saksi di sekitar tempat kejadian, CCTV, saya kira polisi punya kemampuan yang canggih kalau memang sungguh-sungguh dalam mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel," tuturnya.
Ia pun menyatakan reputasi Kepolisian juga dipertaruhkan dalam mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan itu.
Sementara itu, peniliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indonesia Miko Ginting menyatakan pimpinan KPK harus menunjukkan sikap untuk juga menyelesaikan kasus ini dan tidak menganggap kasus ini kriminalitas biasa.
"Bentuk-bentuk komunikasi dengan pihak Kepolisian saya pikir juga penting dilakukan untuk menanyakan, misalnya sampai sejauh mana penyelidikan oleh pihak Kepolisian," ujarnya.
Kemudian juga, kata dia, penting juga untuk pimpinan KPK menyandingkan informasi-informasi yang dimiliki oleh KPK sendiri dengan pihak Kepolisian.
"Di situ bisa diuji faktanya apakah berkesesuaian atau tidak sehingga ada urgensi, misalnya untuk diangkat ke tim investigasi independen yang lebih tinggi," ucap Miko.
Sebelumnya, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan dokter yang menangani penyidik KPK Novel Baswedan melakukan observasi terhadap kedua mata Novel menggunakan alat dalam proses perawatan yang saat ini masih berlangsung di Singapura.
"Mata kanan bagus, tekanan mata normal 15, ada pertumbuhan selaput kornea, dan tidak ada infeksi. Sedangkan mata kiri lebih banyak terpapar cairan air keras tersebut," kata Febri di Jakarta, Rabu.
Menurut Febri, pada mata kiri Novel tekanan mata 19 lebih tinggi dari mata kanan. Selain itu, terdapat penumpukan kalsium yang stagnan dan pembuluh darah sekililing bola mata yang berfungsi hanya samping kiri.
"Diharapkan ada peluang aliran darah dari sisi kiri bola mata bisa memenuhi dan merangsang pertumbuhan pembuluh darah bagian lain," kata Febri.
Dalam pemeriksan pada Rabu, Febri mengatakan dilakukan juga pengetesan membaca huruf dan angka di tembok kepada Novel.
"Mata kiri hanya bisa melihat huruf dengan ukuran terbesar di bagian paling atas. Namun, mata kanan sudah lebih maju, bisa melihat hingga yang terkecil," ucap Febri.
Hari ini adalah hari ke-29 sejak Novel Baswedan diserang dengan air keras pada Selasa (11/4) subuh ketika dalam perjalanan dari masjid ke rumahnya.
Novel adalah salah satu penyidik senior KPK yang antara lain menangani kasus korupsi dalam pengadaan KTP-elektronik (KTP-e).