INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) mendukung penuh implementasi transaksi nontunai di destinasi kelolaannya. Transaksi cashless menjadi bagian penerapan protokol kesehatan ketat di kawasan wisatanya. Hal ini untuk menjaga kebersihan, keamanan, kesehatan dan keselamatan wisatawan yang berkunjung.
"Kami sangat concern terhadap protokol kesehatan. Dalam hal ini, destinasi kami sudah mendapat penilaian sertifikat CHSE dari Kemenparekraf. Kita dinilai terbaik dalam penerapan, bahkan menjadi contoh untuk penerapan protokol kesehatan ini. Salah satu penerapan protokol ini adalah transaksi pembelian tiket masuk dengan nontunai. Hal ini telah kita lakukan untuk melindungi wisatawan dan juga pekerja kita,” ungkap Direktur Teknik dan Infrastruktur Mardijono Nugroho pada acara Angkringan QRIS di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (18/3/2021).
Acara yang diinisiasi oleh Bank Indonesia perwakilan Jawa Tengah ini merupakan salah satu kegiatan pengenalan dan penerapan keberadaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) Bank Indonesia yang menyatukan semua aplikasi pembayaran bagi masyarakat. PT TWC sebagai perusahaan BUMN pengelola pariwisata berbasis cagar budaya turut mendukung penerapan QRIS ini.
“Tentunya kami mendukung penerapan QRIS ini untuk memudahkan masyarakat bertransaksi secara aman di objek wisata. Tentunya hal ini sejalan dengan mulai aktifnya kembali pariwisata seiring dengan proses vaksinasi yang gencar dilakukan pemerintah,” tuturnya.
Proses digitalisasi ini telah dilakukan PT TWC sejak 2019 lalu. Selain proses tiket yang sudah nontunai, PT TWC juga telah melakukan sosialisasi kepada para pedagang di kawasan Borobudur untuk melakukan transaksi non-tunai. Hal ini juga didukung penuh oleh Bank Indonesia selaku regulator kawasan.
Selain itu, upaya PT TWC meningkatkan digitalisasi di setiap proses kerja ini berkaitan dengan penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governace (GCG). “Upaya digitalisasi ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan. Mereka tidak lagi kontak dengan tiket, pokoknya langsung datang, langsung lihat. Semua aman dengan transaksi ini,” lanjutnya.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam sambutannya mengatakan bahwa proses digitalisasi ini menebar harapan untuk pemulihan pariwisata Indonesia. Hal ini sejalan dengan penerapan protokol kesehatan yang contactless dan touchless.
“Kami punya harapan untuk bangkit kembali, salah satunya dengan adatasi teknologi, termaksud juga fintech. Kami ingin mentranformasi secara global adaptasi tenologi termaksud di desa-desa wisata. Sejalan dengan penerapan protokol kesehatan, CHSE ditambah QRIS akan membangkitkan dan meningkatkan ekonomi rakyat,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal Taufik Amrozi QRIS ini menjadi langkah awal dan solusi pemulihan sektor pariwisata yang minim kontak fisik, selain vaksinasi. Bank Indonesia Jawa Tengah sendiri telah memasang QRIS di 400 destinasi wisata yang telah beroperasi terbatas, salah satunya Taman Wisata Candi Borobudur.
“Bank Indonesia Jawa Tengah mendukung penggunaan QRIS yang akan kita pasang di pintu-pintu masuk di destinasi wisata, maupun juga di resto, cafe dan pembayaran parkir. Kita juga telah melakukan sosialisasi kepada mahasiswa, pemda bahkan ibu-ibu PKK. Kita ubah menjadi gaya hidup kekinian,” tutupnya.