INDUSTRY co.id Jakarta, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban memberikan informasi kepublik terkait telah ditemukannya kasus mutasi virus terbaru bernama N439K.
Sebelumnya, Prof Zubairi juga mengungkap mutasi varian Covid bernama B.1.1.7 yang ditemukan di daerah Karawang, Jawa Barat.
"ALERTA: Sebanyak 48 kasus mutasi N439K telah terdeteksi di Indonesia. Kemudian, apa yang harus kita ketahui tentang varian N439K ini ?," Kata Prof Zubairi seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari pernyataan resminya di twitter pada Minggu (14/3 / 2021).
Ia menjelaskan bahwa varian N439K diduga muncul dua kali secara terpisah. Pertama kali itu di Skotlandia. Pada waktu awal pandemi. Lalu, kali kedua, dengan jangkauan yang lebih luas di Eropa, dan saat ini sudah sampai Indonesia.
N 39K ini awalnya diberlakukan saat lockdown diberlakukan di Skotlandia. Tapi justru muncul di Rumania, Swiss, Irlandia, Jerman dan Inggris.
"Dus, mulai November tahun lalu, varian ini dilaporkan menyebar secara luas," terangnya.
Menurut Prof Zubairi, yang paling disorot dari N439K adalah sifatnya yang resistans terhadap antibodi alias tidak mempan.
Baik itu antibodi dari tubuh orang yang telah terinfeksi, maupun antibodi yang telah disuntikkan ke tubuh manusia.
Menurutnya, di Amerika Serikat sendiri telah mencoba mengantisipasi N439K ini, mereka mengeluarkan EUA untuk dua jenis obat antibodi monoklonal dalam pengobatan Covid-19.
"Tapi, yang jadi soal, N439K ini tidak mempan diintervensi oleh obat itu," ucapnya.
Dikatakan Gyorgy Snell, Direktur Senior Biologi Struktural di Vir Biotechnology California, N439K punya banyak cara mengubah domain imunodominan untuk menghindari (tubuh manusia), sekaligus mempertahankan kemampuannya untuk menginfeksi orang.
Namun, yang jadi catatan epidemiolog dunia adalah penyebaran N439K tidak Cipta B.1.1.7, dan semoga ke platform juga demikian.
"Pesan saya. Tetap jaga jarak, pakai masker dan hindari kerumunan, apalagi di dalam ruangan. Jangan bosan saling ingatkan. Pandemi belum usai.," Terima kasih, "tandas Prof Zubairi Djarboen.
Hingga berita ini dibuat, unggahan penjelasan Prof Zubairi tersebut telah menuai beragam komentar dari masyarakat.
"Virus edan .. Udah kaya produk es krim aja, keluarin varian baru ..," ucap Ivan Putuhena.
"Yang bahaya itu jk muncul varian baru gabungan antara N439K," ujar Baihaqi.
"Terima kasih banyak penjelasannya Prof. Ditunggu selalu update nya," sebut Anggaputra.
Ilmu yg bermanfaat ,, trimaksih sudah di ingatkan. Sehat selalu ya pak, "kata Kharisma.