INDUSTRY.co.id - Komitmen pemerintah dalam menggenjot pembangunan infrastruktur bukan isapan jempol. Geliatnya terlihat dimana-mana, bukan hanya di Pulau Jawa namun hingga ke pelosok negeri. Bukan tanpa alasan, ketersediaan infrastruktur yang cukup, dianggap berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

"Kenapa infrastruktur? Karena itu yang paling ketinggalan. Dan itu bukan sekadar pendorong ekonomi nasional namun dia pengaruhi perkembangan antar-daerah juga," ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution.   

Selain itu, menurut Darmin, pembangunan infrastruktur akan menciptakan lapangan pekerjaan. "Karena yang bekerja mereka (masyarakat berpenghasilan rendah) dulu. Walau setelah jadi yang bisa memanfaatkan nya adalah menengah ke atas," katanya. Pembangun infrastruktur juga merupakan salah satu solusi mengatasi kesenjangan atau ketimpangan antara si kaya dengan si miskin.

Sementara bagi perusahaan konstruksi, berkah justru didapat ketika proyek infrastruktur akan dan sedang dikerjakan. Terutama para Badan Usaha Milik Negara yang bermain di sektor itu. Salah satunya PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Berkah itu juga mengalir ke anak-anak usaha Perseroan termasuk PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). Order pembuatan beton pra cetak maupun ready mix (cor beton instan) yang dikerjakan WSBP membanjir, berujung pada pencapaian positif kinerja WSBP.

Ini berarti semakin banyak proyek yang dikerjakan WSKT dan anak usaha lainnya khususnya proyek-proyek jalan tol, maka makin besar pula pundi-pundi yang diraup WSBP.

Proyek-proyek WSKT yang mendatangkan kontrak bernilai tinggi bagi WSBP diantaranya Proyek Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, Jalan Tol Cimanggis Cibitung, Jalan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi, Jalan Tol Pasuruan–Probolinggo, Jalan Tol Pemalang–Batang, Jalan Tol Batang–Semarang, LRT Palembang, Jalan Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar, Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung, Jalan Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung serta Jalan Tol Salatiga-Boyolali.

Untuk itu, tidak heran bila Per kuartal I 2017 saja WSBP telah meraih nilai kontrak Rp 4,4 triliun atau sekitar 35% dari target kontrak baru tahun ini sebesar Rp 12,3 triliun. Direktur Utama WSBP Jarot Subana mengatakan bila ditambah dengan kontrak carry over Rp 10 trilliun tahun 2016, maka total proyek yang kini digenggam Perseroan mencapai Rp 14,4 triliun.

Besarnya kontrak carry over dikatakan Jarot disebabkan capaian kontrak 2016 yang jauh melampaui target. Tahun lalu Kata Jarot pihaknya hanya menargetkan kontrak baru Rp 7,9 triliun. Namun kontrak yang dibukukan hingga akhir 2016 melonjak mencapai Rp 12,2 triliun. Ini menunjukan kenaikan sekitar 154% dari target awal. “Banyak proyek jalan tol yang pembebasan lahannya lebih cepat dari estimasi sehingga mendorong percepatan realisasi proyek,” ujarnya.

Meski order mengalir kencang, Direktur Utama WSBP Jarot Subana untuk kinerja keuangan di tahun 2016 tetap sesuai rencana dimana pendapatan usaha mencapai Rp 4,7 Triliun atau meningkat 78% dibandingkan pendapatan 2015 sebesar Rp 2,64 triliun dengan laba bersih Rp 634 miliar, naik 90% dari perolehan 2015 Rp 334,37 miliar.

Harapan berbeda diuangkapkan Jarot untuk kinerja tahun 2017. Dengan target kontrak baru sebesar Rp 12,3 triliun yang dipatok, tahun ini WSBP menargetkan dapat meraup pendapatan usaha Rp 7,71 triliun, sementara laba bersihnya ditargetkan mencapai Rp 1,13 triliun.

Terkait target kontrak 2017 yang mencapai Rp 12,3 triliun, Jarot mengatakan sebagian besar masih bersumber dari sinergi grup Waskita. “Sekitar 80% - 85% kontrak yang diperoleh merupakan captive market atau proyek dari Waskita. Selebihnya 15% dari order eksternal,” ujarnya. Jarit juga mengungkapkan sinergi dengan induk usaha membuat sebagian besar proyek dikerjakan berbentuk turnkey.

Genjot Produksi

Proyek precast dan ready mix yang membanjir memaksa WSBP memacu kapasitas produksinya dengan membangun pabrik baru. Hingga akhir 2016, Perseroan telah memiliki 10 pabrik dan dua pabrik sementara dengan total kapasitas produksi sebesar 2.650.000 ton per tahun.

Kemudian ada 35 batching plant (BT) yang tersebar di seluruh lokasi proyek.Melanjutkan ekspansi, tahun ini WSBP kembali berencana membangun dua pabrik baru dengan nilai investasi Rp 1,17 triliun. dana tersebut sebagian bersumber dari hasil IPO, sebagian lagi pinjaman perbankan.

Pabrik tersebut rencananya mulai beroperasi di semester II 2017 yang berlokasi di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Sumatera Utara (Sumut). Dua pabrik itu rencananya memiliki kapasitas produksi masing-masing sebesar 300 ribu ton per tahun. Saat ini Kata Jarot pihaknya sudah memiliki lahan di Kaltim, sementara di Sumut WSBP sedang memperyimbangkan tiga lokasi lahan untuk diakuisisi. 

Selain precast, WSBP juga mengaggarkan dana belanja modal Rp 67 miliar untuk pengembangan kapasitas ready mix, lalu Rp 500 miliar untuk pembeliaan quarry dan Rp 265 miliar untuk pembelian truck mixer. Dengan begitu jumlah belanja modal yang akan digelontorkan Perseroan tahun ini mencapai Rp 1,99 triliun, meningkat dari alokasi capex tahun lalu Rp 1,12 triliun.    

Jarot Subana mengatakan dengan menambah dua pabrik baru, perseroan akan memiliki total 12 pabrik dengan kapasitas sebesar 3,4 juta ton pertahun dan jumlah batching plant meningkat menjadi 83 unit. Ekspansi penambahan pabrik dan fasilitas produksi lainnya juga akan diteruskan pada tahun 2018.