INDUSTRY.co.id - Terobsesi oleh cinta yang sempurna, seorang pakar robotika Jepang, Le Trung, belum lama ini diberitakan, sukses menciptakan karakter robot perempuan yang mirip manusia. Namanya Aiko, dalam terminologi Jepang berarti Cinta.

Advertisement

Muda, sekitar 20 tahunan, cantik, semampai, feminin, sekaligus seksi. Le Trung menikah dengan Aiko, bahkan sampai rela menguras semua tabungannya hanya agar Aiko terlihat sempurna seperti wanita pada umumnya. Rupanya, tak cuma pria, wanita pun ada yang rela menikah dengan robot. Dan, cerita pernikahan dengan robot tak hanya terjadi di Jepang, di China, bahkan Prancis pun tak kalah serunya.

CEO CT Corp, Chairul Tanjung, dalam Sharing Session Business, Munas Himpunan Pengusaha Alumni (HIPA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2017, dengan tema "Penguatan Kultur Kewirausahaan dalam Membangun Wirausaha yang Tangguh," di Ballroom Kompleks Niffaro Park, ITS Tower, Jakarta, Sabtu (22/04/2017) lalu, memprediksikan, setelah dimulai di Jepang, maka 20 tahun ke depan, bukan tidak mungkin, ada manusia berpasang-pasangan atau kawin dengan robot.

Advertisement

Bisa dibayangkan, robot akan dibentuk sesuai keinginan. Seperti Jennifer Lopez, atau Julia Perez juga boleh. Brad Pitt juga boleh. Robot jadi pasangan ideal. Tidak pernah mengeluh, protes, dan hemat," ungkap CT, sapaan akrab Chairul Tanjung.

Menurut Orang Kaya Versi Forbes 2012 itu, dengan munculnya robot di kehidupan manusia, bukan tidak mungkin nantinya peran manusia dalam berbagai bidang pun akan berkurang.

Advertisement

Jadi, perkembangan teknologi informasi dalam beberapa tahun belakangan berhasil menemukan inovasi yang berdampak langsung kepada sektor perekonomian. Ini merupakan bagian dari revolusi industri keempat dunia atau 4.0 yang saat ini tengah terjadi. Dengan berbagai kemajuan inovasi teknologi tersebut, peran manusia di masa depan pun dianggap akan semakin berkurang, karena digantikan oleh robot.

CT membeberkan beberapa contoh mengenai hal tersebut. Misalnya saja, seperti perusahaan taksi asal Amerika Serikat, Uber yang saat ini mulai melakukan uji coba taksi tanpa pengemudi. Bisa dibayangkan, berapa banyak tenaga kerja di sektor tersebut yang bisa tergantikan, apabila memang nantinya hal itu bisa efektif dijalankan.

Advertisement

"Segalanya akan serba otomatis. Bayangkan berapa banyak pengangguran yang bekerja sebagai sopir? Lalu pesawat tanpa pilot. Kita akan mengalami era seperti ini," ujarnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu mengimbau agar seluruh elemen masyarakat harus siap menghadapi perkembangan teknologi dengan terus berinovasi. Karena peningkatan produktivitas menjadi salah satu kunci untuk tetap bertahan di era seperti ini.

"Hanya itu yang bisa membuat orang survive (bertahan). Kalau dia tidak produktif, dia pasti mati. Dengan era seperti ini, orang harus kreatif, inovatif, dan enterpreneurship," katanya kepada ratusan pengusaha yang bergabung dalam alumni ITS.

Investasi SDM

Perkembangan teknologi yang semakin pesat bak pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan kemudahan dalam segala hal, di satu sisi menjadi ancaman bagi manusia itu sendiri.

Hal itu tentunya akan menjadi ancaman yang nyata di masa depan. Menurut CT, investasi di Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kebutuhan yang harus dilakukan Indonesia saat ini. Jika tidak, maka jurang kesenjangan sosial akan semakin lebar. Untuk bisa mengatasi permasalahan ini, kuncinya perubahan luar di SDM. Kunci kesuksesan kedepan adalah, diperlukan SDM yang inovatif, kreatif, dan enterpreneurship. SDM yang memiliki kualitas seperti itulah yang bisa mengalahkan robot. Sebab bagaimanapun juga teknologi robotik merupakan buatan manusia juga. Dia juga memandang kebutuhan SDM yang mengedepankan produktivitas dan efisiensi tidak cukup.

Sementara SDM yang mengedepankan produktivitas dan efisiensi menurut CT, era itu sudah lewat. Kalau produktif dan efisien Anda tidak bisa bertahan. Jadi itu hanya untuk bertahan saja, untuk menang dalam kompetisi ini diperlukan investasi SDM.

Chairul Tanjung juga mengingatkan dampak negatif dari bisnis e-Commerce yang harus diwaspadai pemerintah. Bisnis berbasis online yang tengah menjamur menurut Chairman CT Corp, berisiko menambah jumlah pengangguran di Indonesia.

Pasalnya, transaksi jual-beli atau penyediaan layanan tanpa mendirikan fisik toko secara konvensional tentu tidak membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM) yang bekerja. Dengan naiknya angka pengangguran, maka secara otomatis akan semakin meningkatkan ketimpangan antara masyarakat kelas menengah atas dan kelas menengah bawah.

Kalau e-Commerce sudah meng-Indonesia, pedagang kecil akan habis. Misalnya, mereka yang tadinya bekerja menjaga warung, kemudian tiba-tiba warung tidak bisa bersaing. Ini jadi isu yang luar biasa.

Untuk itu, ia meminta masyarakat Indonesia untuk tidak berpuas diri merasa produktif dan efisien dalam bekerja. Namun diharapkan bisa membekali diri dengan kreativitas, inovatif, dan menumbuhkan jiwa wirausahanya.

Itulah yang bisa mengalahkan robot dan komputer, bisa mengalahkan teknologi. SDM dengan ketiga hal itu akan mampu menciptakan teknologi, dan otomatis mengalahkan robot itu sendiri.

Pemerintah telah menargetkan tahun depan jumlah wirausaha dibandingkan jumlah penduduk mencapai 4 persen, dari sekarang 3,1 persen. Rasio jumlah wirausaha di Indonesia masih di bawah negara tetangga. Singapura telah mencapai 7 persen, Malaysia 5 persen, dan Thailand 4 persen. Karena itu, butuh penguatan kultur kewirausahaan di tengah masyarakat, agar kewirausahaan kian tumbuh.

Agar kewirausahaan tumbuh, Chairul Tanjung, mengajak HIPA ITS, tingkatkan inovasi dan entrepreneurship. Saya mengajak HIPA ITS untuk meningkatkan inovasi, kreativitas dan enterpreneurship di era industri 4.0. Karena kedepan, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kunci penguasaan ekonomi, ujarnya.

Chairul Tanjung mengatakan, di lima tahun lalu, kita tidak pernah menyangka ada sebuah perusahaan taksi terbesar dunia dan tidak mempunyai armada, namun uber mengusai market share terbesar dunia. Kita tidak menyangka perusahaan terbesar kita, yang dulu bila masuk ke suatu daerah di demo, sekarang Blue bird malah ikut mendemo. Kita tidak menyangka perusahaan ritel terbesar dunia namanya Amazoin dan Alibaba, tidak punya toko tapi kini menguasai dunia. Jadi kita harus melihat pentingnya inovasi. Harus juga memahami demografi, bikin produk yang tidak sesuai pasar maka lewat. Jadi kini sudah eranya terjadi sebuah pergeseran pola pikir, pola tindak dari kehidupan, karena semuanya berbasis internet. Ada sharing ekonomi,ujarnya.