INDUSTRY.co.id - Jakarta- Potensi pasar domestik maupun global untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan semakin tingginya permintaan akan kebutuhan tekstil non sandang.
Menurut catatan Kemenperin, pada tahun 2016 investasi industri TPT mencapai Rp7,54 triliun dengan perolehan devisa sebesar USD11,87 miliar.
"Kami optimis pertumbuhan industri TPT akan mencapai 7 persen di tahun ini," ungkap Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kementerian Perindustrian, Muhdori di Jakarta (3/5/2017).
Muhdori menyampaikan, saat ini sedang ada dinamika dari hulu-hilir industri tekstil Indonesia, mulai dari bea masuk, restrukturisasi mesin-mesin yang sudah terlalu tua, banjirnya produk impor, hingga harga gas yang terlalu tinggi.
"Untuk harga gas, saat ini kami dengan PLN dan Kementerian ESDM sedang mengadakan kajian untuk harga gas yang stabil dan tidak fluktuatif," terang Muhdori.
Sedangkan untuk bea masuk, Muhdori menyampaikan, saat ini Kemenperin sedang mengadakan perundingan bilateral, khususnya dengan Amerika.
"Kemungkinan pada bulan Juli 2017 ini sudah ada keputusan yang terbaik buat industri tekstil dalam negeri," imbuhnya.
Menurut Muhdori, saat inilah waktunya pengusaha-pengusaha tekstil untuk investasi secara besar-besaran terutama di bidang pertenunan.
"Dengan situasi saat ini, kami optimis industri tekstil dalam negeri akan bangkit kembali dan bersaing dengan China, India, Vietnam, dan Bangladesh" tutup Muhdori.