INDUSTRY.co.id - Jakarta – Tekanan terhadap biaya bahan baku dan dinamika rantai pasok global mendorong kebutuhan industri nasional terhadap inovasi material yang lebih efisien, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi.
Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Polimer Indonesia (HPI) bersama Pamerindo Indonesia menghadirkan Indonesia Polymer Award (IPA) 2026 sebagai wadah apresiasi sekaligus kolaborasi untuk mempercepat lahirnya inovasi di bidang polimer yang mendukung transformasi industri nasional.
IPA 2026 menjadi bagian dari rangkaian pameran Plastic Material & Chemical Indonesia dan Plastics & Rubber Indonesia 2026 yang akan berlangsung pada November mendatang. Ajang ini mempertemukan kalangan riset, industri, akademisi, startup, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat penerapan solusi material yang mendukung efisiensi industri, ekonomi sirkular, dan penguatan ekosistem manufaktur Indonesia.
Portfolio Director PT Pamerindo Indonesia, Meysia Stephannie, mengatakan industri polimer memiliki peran strategis dalam menopang berbagai sektor, mulai dari manufaktur, otomotif, elektronik hingga kemasan.
"Industri polimer memiliki peran penting dalam mendukung berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, otomotif, elektronik, hingga kemasan. Di tengah tantangan global terkait biaya bahan baku dan keberlanjutan, inovasi material menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri Indonesia. Melalui Indonesia Polymer Award 2026, kami ingin memperkuat kolaborasi antara dunia riset dan industri agar inovasi dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan industri nasional," ujarnya.
Urgensi inovasi polimer semakin meningkat seiring tekanan terhadap rantai pasok bahan baku. Kajian LPEM FEB UI bertajuk Krisis Plastik Nasional di Tengah Shock Global yang dipublikasikan pada April 2026 mencatat harga sejumlah resin utama mengalami kenaikan sepanjang 2026.
Harga polypropylene (PP) naik 23,8%, polyethylene (PE) meningkat 16,3%, dan polyvinyl chloride (PVC) bertambah 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut dipengaruhi dinamika pasar energi dan industri petrokimia global yang berdampak pada biaya produksi berbagai sektor pengguna material polimer.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor plastik dan barang dari plastik Indonesia mencapai 1,65 juta ton dengan nilai sekitar Rp44,11 triliun pada kuartal I 2026. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan inovasi material lokal, peningkatan kapasitas daur ulang, serta penerapan teknologi polimer yang lebih efisien guna memperkuat ketahanan rantai pasok industri nasional.
Ketua Himpunan Polimer Indonesia, Prof. Dr. Ir. M. Chalid S.Si., M.Sc.Eng., menilai inovasi polimer kini telah menjadi kebutuhan strategis bagi industri, bukan sekadar agenda penelitian.
"Indonesia memiliki potensi besar melalui sumber daya manusia, kapasitas riset, dan pengalaman industri dalam bidang polimer. Tantangan berikutnya adalah mempercepat hilirisasi agar hasil inovasi dapat diterapkan dan memberikan nilai tambah bagi industri. Kolaborasi antara akademisi, peneliti, industri, masyarakat dan pemerintah menjadi kunci untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan pengembangan teknologi yang mendukung efisiensi, ekonomi sirkular, dan kemandirian industri nasional," katanya.
Selain memberikan penghargaan, IPA 2026 juga menghadirkan webinar series dan roadshow offline sebagai ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antara pelaku industri, akademisi, regulator, dan peneliti. Berbagai kegiatan tersebut akan membahas isu strategis, termasuk pengembangan material berkelanjutan, ekonomi sirkular, dan transformasi teknologi polimer.
Proses penilaian IPA 2026 dilakukan melalui kurasi panel juri yang terdiri atas pakar polimer, praktisi industri, regulator, dan pakar keberlanjutan. Penilaian mempertimbangkan relevansi teknis, implementasi industri, efisiensi sumber daya, serta kontribusi terhadap keberlanjutan.
Malam penganugerahan Indonesia Polymer Award 2026 dijadwalkan berlangsung pada 19 November 2026, bertepatan dengan hari ketiga penyelenggaraan Plastics & Rubber Indonesia 2026.
Melalui penyelenggaraan IPA 2026, HPI dan Pamerindo Indonesia berharap ajang ini menjadi lebih dari sekadar penghargaan, melainkan platform kolaboratif yang mampu mempercepat lahirnya inovasi material untuk memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.