Peran Strategis Komunitas dalam Membangkitkan Ekonomi UMKM di Masa Pandemi Melalui Bisnis Digital

Oleh : Sony Heru Priyanto, Ezra Peranginangin Dan Dewa Sagita AN | Sabtu, 05 Desember 2020 - 15:04 WIB

Sony Heru Priyanto, Peneliti President University
Sony Heru Priyanto, Peneliti President University

Oleh:  Sony Heru Priyanto, Ezra Peranginangin dan  Dewa Sagita AN
Universitas Agung Podomoro

 

Pada tahun 2020, dunia dan Indonesia terkena wabah Covid-19, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja UMKM. Potensi UMKM juga berubah ketika ada wabah Covid-19 tersebut. Hasil riset dari Asian Development Bank (ADB) yang dilakukan oleh Shigehiro Shinozaki (2020) pada 17 April sampai 22 Mei 2020 menunjukkan bahwa setengah UMKM menangguhkan usahanya; Setengah lagi tetap beroperasi di tengah gangguan pasokan dan permintaan yang rendah, dengan perincian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah masing-masing 48%, 54.4%, 31.3% yang melakukan penutupan usaha.

Dalam hal ini, usaha kecil yang paling besar melakukan penutupan usaha sebesar 54.4%, sementara yang masih bertahan sebesar 45.6%. Baik usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang masih bertahan, mengalami kesulitan dalam pasokan, penurunan permintaan dalam negeri maupun luat negeri dan mengalami pembatalan kontrak. Namun demikian, ditengah kondisi yang sulit tersebut, masih ada UMKM yang meningkat kinerja usahanya setelah ada wabah Covid-19 masing masing sebesar 14.6%, 6.7% dan 12.5% untuk usaha mikro, kecil dan menengah.

Sektor manufaktur yang paling berdampak serius daripada sektor pertanian dan jasa, baik karena penurunan permintaan, gangguan pasokan, pembatasan kontrak sampai penutupan usaha. Meski demikian, masih ada usaha-usaha dari sisi sektor ini yang lebih baik dari sebelumnya, masing-masing yaitu sektor jasa, pertanian dan manufaktur dengan persentasi 13.8%, 12.8% dan 8.8%. Ini berarti, dalam masa sulit akibat pandemic Covid-19, masih ada sektor yang mendapatkan berkah berupa peningkatan permintaan sehingga berdampak pada peningkatan kinerja UMKM tersebut.

Pada bulan April, terjadi peningkatan jumlah UMKM yang tidak memperoleh penjualan akibat penutupan usaha sementara, termasuk penuruan penjualan lebih dari 30 persen masing-masing terdapat 38%, 33% dan 44% untuk usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Dari sisi sektor, semua sektor mengalami penurunan penjualan secara drastis pada bulan Maret, dan tidak memperoleh penjualan pada bulan April akibat penutupan bisnis. Ada pula yang tetap berjalan, namun terjadi penurunan penjualan masing-masing 38%, 35%, 40% untuk sektor jasa, manufaktur dan pertanian pada bulan April.

Wabah Covid-19 juga berdampak pada pendapatan. Pada bulan April, terjadi peningkatan jumlah UMKM yang tidak memperoleh pendapatan akibat penutupan usaha sementara masing-masing sebesar 48%, 56%, 44% untuk usaha Mikro, Kecil dan Menengah, termasuk penuruan pendapatan lebih dari 30 persen masing-masing terdapat 39%, 30% dan 44% untuk usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Dari sisi sektor, semua sektor mengalami penurunan pendapatan secara drastis pada bulan Maret 35%, 35%, 43% untuk sektor jasa, manufaktur dan pertanian; Tidak memperoleh pendapatan pada bulan April akibat penutupan bisnis, dan mengalami penurunan pendapatan masing-masing 38%, 35%, 38% untuk sektor jasa, manufaktur dan pertanian pada bulan April. 

Wabah Covid-19 juga berdampak pada ketenagakerjaan UMKM. Ketika terjadi wabah Covid-19, permintaan, penjualan dan pendapatan turun, bahkan ada UMKM yang tutup karena tidak ada permintaan dan karena persoalan rantai pasok. Ada perbedaaan penyikapan terkait tenaga kerja, dimana usaha mikro & kecil mengambil langkah PHK selama pandemi, sedangkan usaha menengah memilih opsi bekerja dari rumah dan pengurangan jam kerja (Gambar 5.4).

Pemutusan hubungan kerja tidak bisa dihindarkan karena kondisi UMK. Ini menyebabkan terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja yang tidak bekerja. Dari gambar tersebut tampak bahwa jumlah pekerja UMKM yang di PHK meningkat, masing-masing 60.6%, 66.7%, 43% pada bulan Maret 2020 untuk usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan 60%, 60%, 50% pada bulan April. Semua sektor terus mengurangi jumlah pekerjanya setelah wabah COVID-19, dan hal ini lebih menonjol di sektor manufaktur dimana pada bulan Maret dan April 2020 telah terjadi pengurangan tenaga kerja 71.9 dan 66.7%.

Apa yang Harus Dilakukan?

Laporan hasil Sensus Ekonomi 2016 yang dilakukan oleh BPS terhadap Usaha Mikro Kecil atau sebisa disebut UMK (https://se2016.bps.go.id/Lanjutan/files/buku/00_Indonesia.pdf) menunjukkan bahwa pelaku UMK yang mayoritas berpendidikan rendah dan memiliki jiwa kewirausahaan yang belum tinggi, kemampuan manajerial (pemasaran, produksi, SDM, keuangan), dan kemampuan dalam aspek teknis (fashion, perbengkelan, budi daya pertanian, dsb). Selain itu, UMKM masih banyak yang mengakses internet padahal dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, bisnis dengan menggunakan internet adalah peluang yang sangat bagus untuk berbisnis dan memasarkan produknya.

Permodalan UMKM juga masih menjadi masalah. Terkait dengan permasalahan akses UMK terhadap kredit yang sangat rendah, salah satunya karena karena syarat-syarat untuk mendapatkan kredit UMK tidak mudah. Hal ini yang menyebabkan akses ke lembaga keuangan formal menjadi sangat minim. Untuk meningkatkan kapabilitas pelaku UMK, jejaring usaha menjadi salah satu solusi strategis. Salah satu jejarang usaha yang bisa dikembangkan dalam masa pandemi maupan dimasa depan adalah komunitas.

Komunitas ini bisa menjadi tempat diskusi, pertukaran pengalaman dan informasi, pemasaran dan juga permodalan. Untuk meningkatkan aksesibilitas terhadap kredit lembaga keuangan formal, penguatan peran lembaga keuangan mikro berbasis komunitas dan koperasi menjadi sangat penting dan strategis. Peran koperasi dalam pemberian modal terbukti memberikan pengaruh yang paling besar.

Masih berdasar pada hasil  Sensus Ekonomi tahun 2016, untuk meningkatkan kinerja dan prospek usaha, perlu dilakukan pendekatan aglomerasi. Karena faktor utama yang memengaruhi prospek usaha adalah pemasaran. Dengan adanya aglomerasi juga akan menguntungkan pihak UMK, karena akan tercipta sinergi antar mereka. Di sisi lain, dengan aglomerasi, pendampingan maupun bantuan bagi UMK pun akan lebih mudah. Agomerasi ini lebih efektif dan efisien jika memanfaatkan komunitas virtual, termasuk didalamnya bisnis digital atau bisnis online.

Memerankan Komunitas

Hasil riset yang dilakukan oleh Suarniki, Wijayaningtyas, Lukiyanto, Kusuma, and Afandi (2019) menunjukkan pentingnya peran komunitas dalam bisnis UMKM. Komunitas bisa berperan dalam hal berbagi informasi bisnis di antara anggota grup WhatsApp, khusus untuk pengusaha mikro dan kecil di Banjar Banjarmasin memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis anggota; Manfaat yang bisa diperoleh anggota kelompok termasuk bisnis informasi (akses ke bahan mentah, pasar, distribusi, pengemasan, dan seterusnya, bantuan dalam menangani bisnis legalitas, hubungan sosial dan informasi pelatihan; Komunitas WhatsApp yang terbentuk bisa menjembatani secara signifikan untuk kepentingan bisnis anggota grup.

Persoalan yang dihadapi oleh UMKM yang merupakan kekhawatiran dan hambatan utamanya yaitu kekurangan modal untuk mempertahankan dan memulai usahanya lagi, penurunan permintaan domestik, pembayaran pinjaman dan gangguan produksi. Kondisi ini terjadi hampir merata baik di sektor jasa, manufaktur maupun pertanian. Studi di Koperasi Maju yang ada dilayah DKI Jakarta, keberadaan Koperasi bisa mengatasi persoalan kekurangan modal, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Keberadaan Komunitas Tangan di Atas (TDA) sebagai contoh lain, mampu mengatasi masalah ini karena peran komunitas.

Komunitas Koperasi Maju merupakan sebuah koperasi yang bergerak dibidang simpan-pinjam dengan nama Panjang Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Maju Wijaya, disingkat Koperasi Maju. Koperasi maju berdiri pada tahun 2012 dan dikembangkan dengan tujuan untuk mendukung peningkatan kapasitas anggota dengan asas saling keterkaitan dan tumbuh Bersama. Untuk menyukseskan tujuan ini, Koperasi Maju mengusung 5 kunci sukses, yaitu Pendidikan dan Pelatihan, Forum Group Diskusi, Pendampingan, Kunjungan Berkala dan Informasi Berkala.

Namun demikian, menghadapi pandemic Covid-19 menimbulkan beberapa permasalahan, diantaranya bagaimana membangun kapasitas sumber daya manusia yang agile dan kompeten sehingga dapat cepat beradaptasi dengan perubahan terjadi. Kompetensi yang berkaitan dengan teknologi maupun digital marketing menjadi satu kebutuhan yang paling mendesak untuk dapat diimplementasikan oleh pada anggota sehingga dapat menghidupkan kembali kantong – kantong usaha yang terpuruk karena hanya mengandalkan usaha secara offline.

TDA merupakan komunitas bisnis (nonprofit) yang merupakan generasi baru calon pengusaha Indonesia. Komunitas ini didominasi anggota berusia 25 – 40 tahun, educated people, pembelajar cepat, aplikatif yang cerdas yang dengan kesadaran penuh memilih jalur wirausaha sebagai jalur sukses mulia. TDA didirikan pada bulan Januari tahun 2006 oleh Badroni Yuzirman dan 6 pengusaha lainnya.

TDA merupakan satu komunitas yang menjadi media pembelajaran kewirausahaan yang murah, terbuka, menekankan prinsip kekeluargaan yang digerakkan oleh semangat voluntary yang massif dan berkelimpahan. TDA memiliki visi yaitu “Menjadi komunitas pengusaha terkemuka yang memiliki kontribusi positif bagi peradaban”, dengan misi yaitu menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan, membentuk pengusaha yang tangguh dan sukses, menciptakan sinergi diantara sesama anggota dan antara anggota dengan pihak lain, berlandaskan prinsip high trust community, menumbuhkan jiwa sosial dan berbagi di antara anggota, dan menciptakan pusat sumber daya bisnis berbasis teknologi.

Hasil riset yang dilakukan penelitian di Komunitas Batik Jawa Tengah menunjukan bahwa peran komunitas ini berdampak langsung pada pemasaran dan berdampak tidak langsung pada kinerja usaha UMKM. Jika peran komunitas tinggi, penerapan strategi pemasarannya semakin bagus dan berhasil meningkatkan kinerja usahanya dan sebaliknya. Peran komunitas yang tinggi akan berdaya hasil tinggi ketika strategi pemasaran dilakukan secara online atau menjalankan bisnis digital.

Mason, Castleman, and Parker (2008) menyatakan bahwa konsep (Virtual) Community of Enterprise (VCoE) menjadi solusi bisnis UMKM dalam mengembangkan usahanya mengingat sifat khusus jaringan UKM di wilayah regional yang seringkali tidak memiliki fokus industri, sehingga kepentingan bersama mereka adalah pada pengembangan tingkat strategis. CoE memanfaatkan modal intelektual yang penting untuk menciptakan wilayah pembelajaran dan investasi dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang bisa memfasilitasi pembentukan VCoE untuk menyediakan kondisi yang diperlukan untuk inovasi yang dapat direplikasi.

CoE memberi anggotanya akses ke praktik terbaik melalui jaringan TIK sehingga mengubah hubungan dan memperluas manfaat untuk wilayah dan individu. VCoE mendukung pengembangan budaya inovatif di cluster regional, dan interaksi online VcoEs, yang bisa juga memperluas potensi inovatif sumberdaya berharga dari pengetahuan eksternal. Kemampuan VCoE untuk mengembangkan modal sosial mendorong potensi penciptaan nilai daerah. VCoEs menambah potensi tersebut dengan memfasilitasi munculnya wilayah belajar sehingga memperluas potensi belajar dan kemampuannya untuk merangsang inovasi.

Dari keempat studi perbandingan terkait peran komunitas ini, dapat disimpulkan bahwa komunitas memiliki peran strategi pada bisnis UMKM. Peran tersebut akan semakin bermakna tatkala komunitas itu menjalankan bisnis digital dan pengelolaannya menggunakan organisasi virtual sehingga meski pandemi, bisnis UMKM tetap bisa berjalan. 

Referensi:

Mason, C., Castleman, T., & Parker, C. (2008). Communities of enterprise: developing regional SMEs in the knowledge economy. Journal of Enterprise Information Management.
Suarniki, N. N., Wijayaningtyas, M., Lukiyanto, K., Kusuma, Y. B., & Afandi, M. F. (2019). Community as A Driver of smes growth in Indonesia. Int. J. Scient. Tech. Res, 8(10).
https://www.bps.go.id/publication/2019/03/05/66912048b475b142057f40be/analisis-hasil-se2016-lanjutan-potensi-peningkatan-kinerja-usaha-mikro-kecil.html
Shinozaki, Shigehiro (2020) Dampak COVID-19 terhadap Usaha Mikro,  Kecil dan Menengah di Indonesia: Hasil Survei Cepat. https://www.adb.org/annual-meeting/2020/events/economic-impacts-covid19-asia

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Diskusi Virtual yang Diadakan Beranda Ruang Diskusi dan dipandu Yophiandi

Sabtu, 23 Januari 2021 - 09:15 WIB

Jadi Calon Kapolri Termuda, Listyo Harus Perkuat Soliditas Polri

Tantangan yang harus bisa dilalui oleh Komjen Listyo ialah bukan hanya mencegah kejahatan konvensional melainkan mampu menjaga soliditas.

Denjaka Korps Marinir

Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:56 WIB

KASAL Laksamana Yudo Akui Kemampuan Pasukan Denjaka

Pada kunjungan sekaligus acara olah raga bersama Kepala Staf Angkatan Laut beserta rombongan pejabat Utama Mabes TNI AL juga didampingi langsung oleh Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen…

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih saat menjalal Fin Komodo

Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:20 WIB

Cantiknya Fin Komodo, Hasil Kawin Teknologi Pesawat Terbang dan Kendaraan Darat

Jakarta-PT Fin Komodo Teknologi yang berasal dari Cimahi, Jawa Barat, dengan menciptakan desain Fin Komodo KD 250 X. Fin Komodo, yang didesain oleh Ibnu Susilo

Uji Swab Covid-19

Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:06 WIB

Pengakuan Mengejutkan dari Menkes: Kita Tidak Disiplin, Cara Testing Salah!

Jakarta- Strategi tracing, tracking, dan treatment atau 3T yang dikembangkan Indonesia untuk atas pandemi Covid-19 salah sasaran, demikian pengakuan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin…

Siloam Hospital Balikpapan

Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:00 WIB

Siloam Hospital Balikpapan Berhasil Lakukan Operasi Bypass Jantung

Diharapkan dengan adanya pelayanan ini, masyarakat Balikpapan tidak perlu lagi ke luar kota ataupun ke luar negeri untuk melakukan operasi jantung. Tentunya layanan bedah jantung yang ada di…