INDUSTRY.co.id - Jakarta - Upaya untuk mencapai produksi 1 juta barel di tahun 2030 membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari berbagai fungsi, salah satunya adalah fungsi audit. Metode dan implementasi audit yang mampu mengantisipasi dan menyesuaikan perkembangan zaman serta adaptif terhadap situasi bisnis adalah salah satu kunci keberhasilan penerapan good corporate governance di industri hulu migas nasional pada level yang maksimal.
Ketua Forum Auditor Migas Indonesia (FAMI) Medi Apriandi mengatakan, untuk mengawal visi bersama industri hulu migas, yaitu memproduksi 1 juta barel minyak di tahun 2030, para auditor hulu migas dituntut untuk melakukan penyesuaian dalam cara kerja, sinergi, kolaborasi dan tingkat pengetahuan.
“Kami mengalami tantangan yang berat dengan adanya pandemi Covid-19 yang telah mengubah cara kerja auditor. Salah satu jalan keluarnya adalah para auditor harus menyesuaikan diri dan menyepakati role model pelaksanaan audit dengan adanya keterbatasan untuk melakukan audit secara fisik”, kata Medi dalam FAMI Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan secara daring, Selasa (3/11/2020).
Medi yang juga koordinator pengawas internal Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan, sebagai pengawas dan pengendali kegiatan hulu migas, SKK Migas terus berupaya meningkatkan standar serta efektivitas pengawasan dan audit di sektor strategis ini.
Sementara, Pengawas Internal SKK Migas Taslim Yunus mengatakan SKK Migas memiliki tugas berat untuk memastikan penerimaan negara dapat dijaga dan direalisasikan baik dari aspek jumlah maupun kesesuaian tata kelolanya.
“Visi produksi 1 juta barel membutuhkan dukungan investasi yang massive dan aggressive. Tata kelola hulu migas yang baik adalah salah satu kunci yang dapat menyakinkan dunia usaha baik nasional maupun asing terhadap daya saing hulu migas Indonesia yang semakin kuat dan efisien. Ini akan menjadi salah satu penarik investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia” pungkas Taslim.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menegaskan bahwa target 1 juta barrel telah menjadi “musuh bersama”, sehingga untuk merealisasikannya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Begitu juga fungsi assurance (internal audit, risk management dan compliance) di SKK Migas dan KKKS akan memegang peranan yang sangat krusial.
“Tidak hanya fokus pada management compliance untuk tidak hanya menjadi safety net, namun harus berperan aktif menjadi jembatan demi tercapainya tujuan organisasi dengan memberikan perbaikan proses good governance”, kata Dwi.
“Langkah menuju 1 juta barrel membutuhkan lompatan kerja, sehingga akan ada resiko dan kendala karena yang dilakukan adalah business not as usual. Fungsi Assurance diharapkan dapat menemukan proses bisnis yang efisien dan tidak menjadi penghambat. Forum FAMI ini menjadi penting untuk merumuskan role model penerapan audit di hulu migas KKKS kedepannya”,pungkas Dwi.
Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro mengungkapkan, apa yang telah dirumuskan oleh SKK Migas untuk mencapai target 1 juta barrel sudah tepat. Implementasinya yang akan menjadi tantangan, membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak.
“Hal serupa telah dilakukan oleh Pemerintah Oman. Mereka di tahun 2008 pernah mengalami penurunan produksi hingga 700 ribu barrel dan di 2016 sudah bisa kembali diatas 1 juta barrel.”, ujar Hilmi.
Hilmi mengatakan bahwa fungsi audit selalu memegang peranan penting dalam pencapaian strategi karena strategi yang baik tidak mungkin dijalankan tanpa tata kelola yang baik.
"Audit mencakup semua aspek perusahaan, bukan lagi sekadar untuk mencari-cari prosedur yang salah. Audit merupakan bagian dari keseluruhan operasi perusahaan untuk memastikan bahwa langkah-langkah kita mencapai strategi sesuai dengan standar governance" tambah Hilmi.