Petani, Buruh dan Pengusaha IHT Desak Pemerintah Tunda Kenaikan Cukai Rokok

Oleh : Herry Barus | Rabu, 28 Oktober 2020 - 08:59 WIB

Ketua Umum DPN APTI dan Ketua Umum FSP RTMM SPSI. Henry Najoan
Ketua Umum DPN APTI dan Ketua Umum FSP RTMM SPSI. Henry Najoan

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Industri hasil tembakau, salah satu industri strategis nasional  yang terpukul  dan terpuruk akibat  wabah Covid 19. Keterpurukan semakin bertambah  setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan lewat peraturan menteri keuangan  (PMK) Nomor 152/ 2019 yang telah menaikan cukai dan harga jual eceran (HJE) rokok masing masing sebesar 23 persen dan 35 persen. Apabila tahun 2021 pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sama, IHT diyakini akan semakin babak belur. Itu berarti ribuan tenaga kerja IHT termasuk para petannya  akan kehilangan pekerjaan.

“Tahun ini  kesejahteraan petani tembakau sudah hancur akibat harga jual tembakau yang rendah. Harga jual tembakau rendah karena pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan cukai dan harga jual eceran yang sangat tinggi di tahun 2019 yang berlaku mulai April 2020. Akibatnya harga rokok juga tinggi. Daya beli masyarakat sedang menurun karena adanya wabah Covid. Produksi dan penjualan rokok menurun. Jika benar akan ada kenaikan harga cukai, kehidupan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat industri hasil tembakau  di Tanah Air akan makin parah,” papar  ketua umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji kepada pers kemarin di Jakarta.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, akibat kebijakan kenaikan cukai yang tinggi saat ini para petani tembakau mengalami kesulitan melanjutkan mata pencaharian di bidang perkebunan tembakau. Apalagi di masa pandemi Covid-19, petani tembakau perlu bertahan hidup dari himpitan ekonomi akibat Covid 19.  Kondisi ini  seharusnya  menjadi kajian  dan perhatian pemerintah sebelum mengeluarkan kebijakan.  

“Petani dan buruh industri tembakau  sudah menderita kok cukai  malah  mau dinaikkan lagi?” tanya Agus Pamuji

Menurut Ketua DPN APTI, pemerintah hanya sepihak dalam mengambil kebijakan cukai. Pihaknya tidak pernah dilibatkan dalam wacana kenaikan cukai rokok ini. Padahal, seharusnya pemerintah mengajak semua pihak untuk duduk bersama.          

“Kalau penyerapan industri tembakau melemah apa pemerintah mau beli hasil tembakau kami? Jangan hanya buat kebijakan tapi tidak ada solusi bagi permasalahan ekonomi masyarakat petani dan buruh industri hasil tembakau,”  tegas Agus Pamudji

Di tempat yang sama, Ketua Federasi Serikat Pekerja  Rokok  Tembakau Makanan dan Minuman (FSP RTMM) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)  Sudarto menyampaikan hal yang sama. Menurutmya,  kenaikan cukai tahun 2020 yang mencekik ditambah dengan mewabahnya pandemi Covid-19, telah membuat kondisi industri hasil tembakau (IHT) semakin tertekan dan tidak menentu. 

Imbasnya dari kenaikan cukai di tahun 2020, para  pekerja, anggota FSP RTMM SPSI yang terlibat dalam sektor industri IHT telah mengalami penurunan penghasilan akibat adanya penurunan produksi rokok. Bahkan tidak sedikit yang kehilangan pekerjaan.

“Penurunan produksi telah menyebabkan penurunan penghasilan, kesejahteraan dan tentu daya beli pekerja. Pertanyaannya, dimanakah peran Pemerintah untuk melindungi rakyatnya, khususnya pekerja yang menggantungkan penghidupannya dari industri legal ini?," ungkap Ketua FSP RTMM SPSI Sudarto.

FSP RTMM-SPSI yang menaungi dan mewakili 148.693 pekerja industri hasil tembakau, menurut  Sudarto  dengan tegas menolak rencana kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) tahun 2021 sebesar 13% - 20%. Pihaknya mendesak Pemerintah untuk mengambil kebijakan yang berimbang atas regulasi dan kenaikan cukai rokok di tahun depan, dengan memikirkan beberapa aspek. 

Lebih lanjut Sudarto menjelaskan, pihaknya telah menyampaikan beberapa permintaan kepada pemerintah.  Pertama, pembatalan rencana kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan Harga Jual Eceran (HJE) pada tahun 2021. Hal itu dinilai akan berdampak langsung kepada pekerja industri hasil tembakau. 

Kedua, meminta Menteri Keuangan agar melibatkan kementerian terkait dalam mengambil kebijakan kenaikan HJE-Cukai tahun 2021, diantaranya Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, serta melibatkan pemangku kepentingan lainnya seperti industri hasil tembakau/ pengusaha, asosiasi industri hasil tembakau, pekerja/buruh dalam hal ini diwakili serikat pekerja FSP RTMM-SPSI, petani dan seluruh pihak terkait lainnya. 

“ Kami juga meminta pemerintah untuk melindungi industri rokok kretek sebagai industri khas Indonesia dan padat karya, yang paling rentan terkena program efisiensi di industri hasil tembakau (IHT),” papar Sudarto.      

Menurut ketua umum FSP RTMM-SPSI,  pihaknya sudah menyurati Presiden Joko Widodo pada 9 September lalu. Isi surat tersebut terkait permohonan perlindungan atas hilangnya pekerjaan anggota FSP RTMM-SPSI yang bekerja di industri hasil tembakau, akibat pabrik yang tutup dikarenakan regulasi dan kebijakan yang dinilai tidak adil. 

Baik Agus Pamuji maupun Sudarto, berpendapat, meski pemerintah telah menaikan cukai sangat tinggi pada tahun 2019 dan dilaksanakannya di tahun 2020, pihaknya masih bisa mentolerir dan memaklumi jika cukai di tahun 2021 dinaikan kembali namun angkanya tidak lebih dari 5 persen.

“Ya kalau misal naik maksimal 5% mungkin itu angka wajar. Pemerintah masih untung, petani dan buruh  tidak bingung. Tapi kalau naiknya di atas 5 persen, itu akan semakin mempuruk perekonomian. Karena petani tembakau dan buruh industri rokok akan emakin menderota,” papar Agus Pamuji. 

Di tempat yang sama, Ketua umum Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Henry Najoan sepakat dan sependapat dengan permyataan Ketua Umum DPN APTI dan Ketua Umum FSP RTMM SPSI. Henry Najoan berharap pemerintah membatalkan rencana kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 17 persen pada tahun 2021.  Hal ini  mengingat Industri Hasil Tembakau (IHT) termasuk salah satu yang terpukul dan menderita akibat wabah Covid-19.

Menurut Henry, pemerintah saat ini tengah fokus melakukan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat pandemi Covid-19. Bila pemerintah tidak menaikan cukai rokok, maka pemerintah memang serius dan berkomitmen menyelamatkan ratusan ribu hingga jutaan tenaga kerja di sektor industri rokok dan perkebunan tembakau.

"Sudah seharusnya pemerintah melindungi industri strategus nasional yakni IHT dengan tidak menaikan CHT di tahun 2021. Jika pemerintah menaikan cukai rokok hal ini hanya akan menambah beban industri nasional," tegas Henry Najoan.

Lebih lanjut Henry menjelaskan, saat ini perekonomian Indonesia sedang mengalami resesi. Sementara pada 2021 itu kemungkinan baru masuk masa recovery atau pemulihan ekonomi

“Untuk itu, GAPPRI meminta pemerintah  khususnya Kementerian Keuangan  jangan membuat regulasi yang melemahkan kelangsungan industri hasil tembakau nasional. GAPPRI juga berharap pada 2021 tidak ada kenaikan tarif cukai, tetap mempertahankan jumlah layer industri tetap 10 layer dan juga mempertahankan Harga Jual Eceran (HJE),”Pinta Ketua Umum GAPPRI Henry Najoan

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Anies Baswedan Apresiasi Kontribusi Bank DKI Untuk Bangkitnya Ekonomi DKI Jakarta

Jumat, 25 Juni 2021 - 11:32 WIB

Bank DKI Punya Kontribusi Besar untuk Bangkitnya Ekonomi DKI Jakarta, Gubernur Anies Baswedan: Saya Sampaikan Apresiasi dan Bangga

Jakarta-Ditengah kondisi pandemi Covid yang masih menyelimuti DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan memberikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang mengikuti dan mendukung…

Ilustrasi UMKM Go Digital (Ist)

Jumat, 25 Juni 2021 - 11:30 WIB

Investasi Teknologi Digital Tumbuh 17,1 Persen, UKM di Asia Tenggara Bisa Capai Keunggulan Kompetitif

Lanskap bisnis digital yang berkembang di kawasan Asia Pasifik melihat tren operasi bergerak ke teknologi komputasi awan (cloud). Perusahaan mengumpulkan sejumlah besar data yang memerlukan…

PT Erajaya Swasembada, Tbk

Jumat, 25 Juni 2021 - 11:25 WIB

Meski Masih Pandemi, Erajaya Group Justru Tambah Sebanyak 14 Outlet Ritel di 13 Kota

Erajaya Group secara serentak membuka dan meresmikan 14 outlet ritel, yaitu: 3 outlet Erafone Megastore, 6 outlet Erafone Store, 2 outlet Erafone Cloud Retail Partner, 1 outlet iBox Store, dan…

Pengguna Sepeda

Jumat, 25 Juni 2021 - 11:11 WIB

Allianz Berikan Perlindungan Bagi Pengguna Sepeda dan Motor

Aktivitas olahraga outdoor menjadi pilihan yang makin digemari berbagai kalangan, khususnya didorong oleh situasi pandemi yang membuat masyarakat harus menjaga kebugaran tubuh sembari selalu…

Diskusi perbenihan jagung

Jumat, 25 Juni 2021 - 11:02 WIB

Perketat Mutu Jagung Hibrida, Kementan Tingkatkan Penggunaan Benih Unggul

Kebutuhan jagung sebagai bahan pangan dan pakan secara nasional sangat tinggi dengan sasaran produksi tahun 2021 mencapai 23 juta ton. Hal ini perlu di dukung penyediaan benih jagung varietas…