INDUSTRY.co.id - Lagi lagi, sektor pertanian membuktikan dirinya menjadi penyelamat ekonomi pada masa sulit. Pada triwulan 2/2020, PDB pertanian mencapai pertumbuhan positif tertinggi yakni 16.24 persen ( q to q), diatas pertumbuhan triwulan sebelumnya  yakni 9.4 persen. Sementara  pada periode  yang sama sebagian besar sektor sektor ekonomi nasional  mengalami kontraksi atau bertumbuh negatif antara -0.2 persen sampai - 29 persen ( BPS, 5 Agustus 2020).

Advertisement

Kemampuan pertanian  yang demikian bukan hanya terjadi pada masa pandemik covid-19 ini. Pada masa krisis sebelumnya seperti krisis 1998 dan krisis 2008 sektor pertanian juga telah hadir sebagai  penyangga perekonomian, sehingga terhindar atau  tidak jatuh lebih dalam ke jurang krisis.

Pertumbuhan  Pertanian yang positif pada masa pandemik covid-19 bermakna pula bahwa  menggerakkan mesin ekonomi sektor pertanian dapat disinergikan dengan upaya mengatasi penularan covid-19 yang menjadi platform kebijakan pemerintah saat ini. Dengan memacu  sektor pertanian akan meningkatkan ketersediaan bahan pangan dan kesehatan yang diperlukan masyarakat  dalam mengatasi covid-19.

Advertisement

Hal yang menarik adalah pertumbuhan  pertanian tersebut bukan hanya relatif tinggi tapi juga lebih berkualitas. Pertumbuhan tersebut dihasilkan oleh kreatifitas sekitar 27 juta UMKM pertanian yang tersebar di pelosok- pelosok, tanpa  ikut rebutan sembako,  dan tidak ada PHK pekerja. Selain itu, pertumbuhan pertanian tersebut  tidak  membebani anggaran pemerintah seperti bantuan sosial  dan dana stimulus.

 Dengan kinerja  pertumbuhan pertanian tersebut makin meyakinkan  kita bahwa sektor pertanian dapat diandalkan menjadi lokomotif pemulihan ekonomi nasional agar tidak terseret ke jurang resesi.

Advertisement

Dua triwulan kedepan yakni triwulan tiga dan empat merupakan masa kritis yang menentukan apakah secara akumulasi  ekonomi Indonesia tahun 2020 ini  mengalami pertumbuhan negatif atau positif. Peluang ekonomi Indonesia terhindar dari resesi atau pertumbuhan negatif  cukup besar dengan menggerakkan lokomotif pemulihan ekonomi yakni sektor pertanian. Selain terbukti bertumbuh positif selama dua triwulan berturut-tutut, sektor pertanian juga memiliki dampak multiplier ekonomi yang besar dan luas dalam perekonomian.

 Dengan menginjeksi “darah segar” berupa dana stimulus ke sektor pertanian, akan  memperbesar dan memperluas pertumbuhan pertanian. Sehingga  melalui dampak multiplier akan menarik pertumbuhan  sektor-sektor ekonomi lainya, yang efek  netonya membuat  perekonomian terhindar  dari jurang resesi.

Advertisement

Cara ini yakni menjadikan sektor pertanian menjadi lokomotif pemulihan ekonomi, juga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Hal ini mengantisipasi krisis pangan global yang menurut FAO potensial  terjadi pada akhir tahun ini.

Dr. Tungkot Sipayung , Ekonom Agribisnis