INDUSTRY co.id, Jakarta- Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Penceke akan ke Indonesia pada tanggal 20-22 April mendatang. Ini menjadi momentum tepat untuk membahas persoalan perekonomian kedua belah pihak. Sorotan tentang kebijakan perdagangan dan investasi diprediksi bakal menjadi isu penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Lebih-lebih pasca terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden AS yang cenderung menerapkan kebijakan proteksionisme perdagangan.
Apalagi, di dalam negeri persoalan antara perusahaan-perusahaan AS dengan Pemerintah Indonesia juga tengah menghangat.
Beberapa di antaranya ialah terkait dengan penyelesaian sengketa Freeport dan sebelumnya ada JP Morgan yang diputus kontraknya oleh Pemerintah lantaran hasil risetnya yang tidak sejalan dengan Pemerintah.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan, kedatangan wakil Presiden AS ini menunjukkan bila posisi Indonesia penting di mata AS.
“Ini dapat menjadi sinyal positif bagi hubungan kedua negara untuk menjadi kerja sama ke depan,” kata Shinta, Minggu (16/4/2017).
Bagi kalangan dunia usaha di Indonesia, penjelasan atas kebijakan-kebijakan Pemerintah AS yang baru masih ditunggu untuk menciptakan fair trade antara kedua negara. Apalagi saat ini Indonesia masih surplus perdagangan dengan AS sekitar US$ 8 miliar.
Keputusan Presiden Trump yang membatalkan negosiasi perjanjian regional membuka peluang bagi Indonesia dan AS mengikat dalam sebuah kemitraan perdagangan secara bilateral.
Menurut Shinta, di era globalisasi, tidak mungkin sebuah negara dapat berdiri sendiri tanpa ada kerjasama dengan negara-negara lain.