INDUSTRY.co.id - Jakarta-Secara teknikal IHSG break out resistance psikologis 5000 sebagai konfirmasi penguatan lanjutan menuji upper bollinger bands di kisaran 5120 dan FR161.8% kelevel 5300. Indikator stochastic dan RSI mulai menjenuh pada area overboght akan menjadi signal pemberat pergerakan IHSG selanjutnya.

"Sehingga kami perkirakan secara teknikal IHSG akan bergerak cenderung cukup berat mencoba bertahan pada zona positif dengan support resistance 4944-5080," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Selasa (9/6/2020).

Saham-saham yang dapat dicermati secara teknikal diantaranya; AKRA, HMSP, INCO, MEDC, LSIP, SIMP, HOKI, INDY.

Mayoritas indeks saham Asia menutup perdagangan awal pekan dengan optimis mendapat dorongan dari data pekerja AS yang menejutkan diatas ekspektasi negatif seakan mencerminkan reboundnya ekonomi global pasca pandemi akan lebih cepat. Indeks Nikkei (+1.38%), TOPIX (+1.13%), Hangseng (+0.03%) dan CSI300 (+0.52%) naik mengiringi penguatan harga minyak mentah brent kelevel $43 per Barrel setelah membatasan produksi bersejarah diperpanjang.

IHSG (+2.48%) naik 122.78 poin kelevel 5070.56 dengan saham-saham sektor keuangan (+4.46%) dan pertanian (+3.82%) memimpin penguatan sektoral. Saham BBNI (+13.65%), BBTN (+11.37%) dan BMRI (+8.25%) naik signifikan mengiringi peningkatan cadangan devisa yang sesuai ekspektasi sebesar $130.5 Miliar berbanding $127.9 Miliar diperiode sebelumnya. Saham-saham produsen CPO kembali mengalami penguatan dengan SIMP (+12.73%), AALI (+6.69%) dan LSIP (+5.81%) yang naik lebih dari lima persen setelah harga CPO Malaysia tembus 2351 permton mengiringi pengumuman pembebasan 100% atas bea keluar CPO hingga 31 Desember 2020. Nilai tukar rupiah cooling down dengan melemah tipis kelevel 13885 per USD sehingga investor asing pun tercatat net sell tipis sebesar 44.02 miliar rupiah.

Bursa Eropa dibuka pada zona merah. Indeks Eurostoxx (-0.77%), FTSE (-0.32%) dan DAX (-0.80%) turun diawal sesi perdagangan mengiringi ekuitas berjangka AS yang berfluktuatif karena investor mempertimbangkan ada ancaman aksi profit taking jangka pendek. Selanjutnya investor akan menanti data neraca perdagangan di beberapa negara Eropa serta data pertumbuhan domestik bruto di Eropa.