INDUSTRY.co.id, Jakarta-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Namun, investor perlu mewaspadai potensi volatilitas menyusul implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks.
Pada perdagangan Senin (2/11/2026), IHSG ditutup menguat 0,79% atau 39,78 poin ke level 5.096,83. Padahal, pada awal perdagangan indeks sempat tertekan hingga menyentuh level terendah 4.981,51 sebelum berbalik arah dan kembali bertengger di atas level psikologis 5.000.
Penguatan IHSG ditopang oleh saham sektor barang baku, energi, serta sejumlah saham perbankan dan konglomerasi.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih berpeluang mengalami pembalikan arah pada perdagangan Selasa. Meski demikian, investor perlu mencermati pergerakan bursa global dan regional Asia yang masih bergerak bervariasi.
Dari analisis teknikal, Herditya memperkirakan IHSG bergerak dengan area support 5.073 dan resistance 5.125. Menurut dia, implementasi kebijakan BEI terkait saham HSC serta perkembangan sentimen geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi pergerakan indeks.
Sementara itu, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai penguatan IHSG pada awal pekan ditopang aksi beli setelah indeks mengalami tekanan jual cukup tajam pada pekan sebelumnya.
Salah satu penopang penguatan berasal dari sektor utilitas yang melonjak 9,86%. Selain itu, data ekonomi domestik turut memberikan sentimen positif bagi pasar saham.
Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 tercatat di level 54,0, meningkat dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam zona ekspansi.
Inflasi Oktober juga relatif terkendali sebesar 3,23% secara tahunan. Di sisi lain, neraca perdagangan September mencatat surplus US$3,36 miliar.
Namun, Reza mengingatkan bahwa keberlanjutan pemulihan IHSG masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kebijakan BEI yang mengecualikan 81 saham kategori HSC dengan bobot sekitar 18% terhadap IHSG.
Dari sisi teknikal, Reza memperkirakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Area support berada pada kisaran 5.027–4.962, sedangkan resistance terdekat berada di kisaran 5.116–5.170.
Menurut Reza, selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang rebound masih terbuka. Namun, penembusan resistance 5.170 diperlukan untuk memperkuat konfirmasi pemulihan jangka pendek.
Investor Cermati Sentimen Global
Selain sentimen domestik, pelaku pasar juga perlu mencermati sejumlah agenda ekonomi global pekan ini. Pemilu sela Amerika Serikat, data lowongan kerja JOLTS, serta laporan ketenagakerjaan AS akan menjadi perhatian investor.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi harga komoditas dan selera risiko investor global.
Di dalam negeri, pasar akan menantikan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026 pada 5 November mendatang.
Dengan kondisi tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam mengambil posisi. Penguatan IHSG pada awal pekan menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan jual telah berakhir.