INDUSTRY.co.id - Wakatobi- Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara akan mendorong pemahaman dan penerapan pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang (reduce, reuse, recycle/3R).
Peningkatan pemahaman itu dilakukan guna menambah pemahaman dari sisi kesehatan dan lingkungan sekaligus memperkuat pariwisata.
"Kelemahan lain dalam pengembangan pariwisata di sini adalah soal higienis dan sanitasi. Kesadaran rumah tangga untuk pengelolaan sampah masih kurang, bagaimanapun mereka harus jadi pelaksananya," kata Kepala Bappeda Kabupaten Wakatobi Saedima saat ditemui wartawan dalam Media Trip Pengenalan Aplikasi Marine Buddies dan Kampanye #TemanTamanLaut di Taman Nasional Wakatobi bersama WWF Indonesia di Wakatobi, Minggu.
Karena itu, Saedima mengatakan sosialisasi 3R segera dilakukan ke masyarakat, bekerja sama dengan pusat pengetahuan Bappenas yang sudah memiliki praktik terbaik soal pengelolaan sampah di sejumlah daerah.
"Dan daerah Wangi-wangi ingin mencoba menerapkan itu".
"Memang ada sedikit persoalan lahan, karena itu mereka belum mau untuk replikasi pengolahan sampahnya. Tapi untuk replikasi 3R ke masyarakat akan dilakukan," ujar Saediman.
Kesadaran masyarakat akan kebersihan yang, menurut dia, ingin didorong Pemkab Wakatobi, dengan sampah dikelola secara benar mulai dari rumah tangga.
Rapat Koordinasi (Rakor) pengolahan sampah untuk 10 destinasi wisata baru nasional akan dilaksanakan di Jakarta dan melibatkan seluruh perwakilan daerah tujuan wisata baru tersebut,yaitu Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Pulau Morotai di Halmahera Utara, Tanjung Kelayang di Belitung, Danau Toba di Sumatera Utara, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Gunung Bromo di Jawa Timur, Borobudur di Jawa Tengah, Tanjung Lesung di Banten dan Kepulauan Seribu di DKI Jakarta.
"Akan seperti apa solusi pengolahan sampahnya akan kita lihat nanti. Wakatobi juga meminta bantuan untuk mengatasi sampah di laut, salah satu usulannya perahu dengan jaring khusus untuk mengumpulkan sampah di musim-musim tertentu di mana sampah Laut mengarah ke pulau-pulau di Wakatobi," ujar dia.
Replikasi dari Tulung Agung untuk mengolah sampah menjadi listrik di Wakatobi, ia mengatakan juga belum bisa dilaksanakan mengingat jumlah sampah yang menjadi bahan bakarnya juga tidak sebesar di sana.
Yang dilakukan saat ini di Wakatobi, lanjutnya, memilah sampah plastik untuk dicacah dan dikirim ke Surabaya untuk diolah lagi menjadi produk lain.
Pemkab Wakatobi, menurut dia, sebenarnya sudah menyiapkan lahan seluas lima hektare (ha) yang akan dijadikan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Namun demikian, upaya mengurangi jumlah sampah sejak di tingkat rumah tangga melalui pelaksanaan 3R masih menjadi prioritas utama yang ingin dilakukan di sini.
Kabupaten Wakatobi merupakan kepulauan yang terdiri atas empat gugusan pulau besar, yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko, dan ratusan pulau kecil lainnya.
Wakatobi juga merupakan nama kawasan Taman Nasional yang ditetapkan sejak 1996, dengan luas keseluruhan mencapai 1.390.000 ha yang tediri atas 97 persen laut dan tiga persen daratan.
Sebagai salah satu taman nasional di bagian Indonesia timur, Wakatobi merupakan yang terluas kedua setelah Taman Nasional Teluk Cenderwasih. Kawasan ini kaya akan sumber daya alamnya dengan 750 spesies terumbu karang, dimana 90 persen terumbu karang dunia bisa ditemukan dengan lebih 3000 spesies ikan karang hidup di dalamnya (Penelitian Operational Wallacea).
Taman Nasional Wakatobi juga memiliki ekosistem terumbu karang sangat sangat kaya, namun kerusakan terumbu karang akibat perubahan temperatur air laut yang dramatis, penangkapan ikan dengan cara tidak ramah lingkungan, serta aktivitas bahari lainnya masih mengancam. Sampah juga menjadi persoalan yang bisa menjadi ancaman, sehingga pengelolaan dan pengolahannya perlu dilakukan secara benar.