INDUSTRY.co.id - Cerita soal ekspansi perusahaan pengeboran minyak flagship Merah Putih ini memang dicatatkan pertama kalinya di Aljazair. Pertama kalinya kegiatan hulu Pertamina digelar di luar negeri, lewat PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) yang berikutnya menyerahkan pengelolaan blok Menzel Lejmat North (MLN) kepada Pertamina Algeria EP.
Di blok migas ini, Pertamina berhasil meningkatkan produksi minyak dari 15 ribu barel per hari menjadi 18 ribu barel per hari. Ladang migas MLN terletak di tengah Gurun Sahara, 800 km dari Kota Alger, atau sekitar 200 km dari perbatasan dengan Libya. DI ladang migas ini terdapat 10 sumur produksi dan 10 sumur injeksi, yang minyaknya dialirkan melalui pipa sepanjang 38 kilometer ke fasilitas penyimpanan. Pertamina memiliki keistimewaan dalam mengelola lapangan tersebut karena memiliki peran sebagai operator, setelah mengambil alih dari Conoco Phillips pada 2014.
Di ladang migas ini pun Pertamina punya peluang bisa menguasai sepenuhnya saham Menzel Lejmat North (MLN) hingga 100%. Saat ini, Pertamina memiliki saham 65% di blok MLN, sisanya sebesar 35% persen dimiliki perusahaan migas Spanyol, Repsol.
Sukses di Aljazair, Pertamina tampaknya belum mampu memuaskan hasrat ekspansinya. Kini dua blok ladang migas di Negeri Para Mullah, Republik Islam Iran, tengah menjadi sasaran ekspansi berikutnya. Adalah dua lapangan migas di Iran, yaitu Ab-Teymour dan Mansouri di Bangestan, Selatan Iran, yang kini diincar Pertamina. Dua ladang migas ini memiliki estimasi cadangan masing-masing lebih dari 1,5 miliar barel, dus potensi produksi masing-masing dapat mencapai lebih dari 200 ribu barel per hari.
Iran sendiri merupakan negara pemilik cadangan minyak terbesar ke-4 dunia, dengan cadangan minyak terbukti sebesar 157 miliar barel atau sekitar 9,3% dari total cadangan terbukti di dunia Iran juga memiliki cadangan gas terbukti terbesar di dunia sebesar 1,200 TCF atau 18,2% dari total cadangan dunia.
Setelah dicabutnya sanksi Iran, negara tersebut berencana meningkatkan produksi minyaknya yang saat ini sebesar 3,4 juta barel per hari menjadi 4,7 juta barel per hari dalam kurun 5 tahun kedepan. Untuk itu, Iran mengundang perusahaan migas internasional untuk berinvestasi di Iran dalam beberapa tahun ke depan, baik melalui proses bilateral maupun tender.
Sejatinya perusahaan migas pelat merah nasional ini telah secara resmi menyerahkan proposal usulan pengembangan dua lapangan migas tadi pada otoritas setempat. Penyerahan proposal dilakukan oleh Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam kepada Deputy on Engineering and Development National Iranian Oil Company (NIOC) Gholamreza Manoucherhri pada Feruari lalu, disaksikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perminyakan Iran Bijan Namzar Zanganeh, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Islam Iran Octavino Alimudin.
Disampaikan Syamsu Alam, pengajuan proposal tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani oleh kedua perusahaan pada 8 Agustus 2016 lalu. Dalam MoU tersebut disebutkan bahwa Pertamina diberi kesempatan mengajukan usulan pengembangan atas Ab-Teymour dan Mansouri pada akhir Februari tahun ini.
Selama kurang lebih 4 bulan Pertamina melakukan evaluasi teknis kedua lapangan dan kini telah menyelesaikan proposal usulan pengembangan lapangan kedua lapangan tersebut untuk disampaikan kepada NIOC. Kami sangat mengharapkan proposal ini menjadi landasan kedua perusahaan untuk dapat bernegosiasi langsung pada pengelolaan dua lapangan besar tersebut, kata Syamsu Alam seperti dilansir Antara.
Dari evaluasi teknis yang dilakukan Pertamina, didapatkan potensi kedua lapangan yang memiliki cadangan masing-masing lebih dari 1,5 miliar barel, dengan potensi produksi bisa mencapai lebih dari 200 ribu barel per hari.
Saat dikonfirmasi ulang baru-baru ini, Syamsu Alam hanya mengatakan bahwa saat ini pihaknya tinggal menunggu respons dari otoritas Iran. "Kami sudah submit kemarin, sudah kirim surat. Saat ini kami sedang menunggu," ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan tersebut Syamsu mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat pejabat National Iranian Oil Company (NIOC) akan berkunjung ke Indonesia untuk membicarakan pengelolaan dua blok migas tersebut. "Deputi CEO-nya ingin datang ke Indonesia, untuk membicarakan masalah komersial," imbuhnya.
Seperti diberitakan, pada Agustus tahun lalu (8/8/2016) telah ditandatangani nota kesepahaman antara Pertamina dan National Iranian Oil Company di Teheran. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dan Managing Director NIOC Ali Kardor yang disaksikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Islam Iran merangkap Republik Turkmenistan Octavino Alimudin. Selain peluang bisnis hulu, kedua perusahaan juga sepakat untuk menjajaki peluang bisnis lainnya. Dalam upaya penyiapan proposal tersebut, NIOC akan membuka informasi dan bekerjasama dengan tim Pertamina dalam bentuk joint working group.
Selanjutnya Pertamina diberi waktu selama enam bulan untuk melakukan studi awal terhadap dua lapangan minyak raksasa Ab-Teymour dan Mansouri. Setelah itu, Pertamina harus menyampaikan proposal awal rencana pengembangan kedua lapangan onshore tersebut.
Dalam satu kesempatan, Menteri BUMN Rini M Soemarno sempat menekankan agar Pertamina tetap harus berinovasi dan memperbarui ladang migas yang sudah ada, di tengah upaya ekspansi ke luar negeri. Saya menekankan Pertamina harus lebih inovatif melihat potensi teknologi baru, ujarnya. Rini juga menambahkan, Pertamina harus terus mengembangkan bisnisnya agar perusahaan pelat merah itu mampu meningkatkan ketahanan dan ketersediaan energi di Tanah Air. Pertamina perlu terus mengembangkan usahanya. Kita dulu net eksporter, sekarang kita net importir. Kita harus meningkatkan ketersediaan energi , papar Rini.
Sementara itu Pertamina menyiapkan lima strategi menjaga eksistensi dan kinerja. Lima strategi itu berupa pengembangan sektor hulu, efisiensi di semua lini, meningkatkan kapasitas pengilangan dan petrokimia, mengembangkan infrastruktur dan marketing, serta memperkuat struktur keuangan.
Kembali bicara soal ekspansi, selain Iran, Pertamina juga mengincar dua lapangan migas di Negara Beruang Merah, Rusia. Lapangan migas yang diincar adalah lapangan Chayvo dan lapangan Russkoye. Untuk kedua blok migas tersebut, Pertamina juga telah mengirimkan proposal penawaran untuk dan diharapkan pada kuartal I 2017 sudah terjadi kesepakatan antara Pertamina dan Rosneft, perusahaan migas Rusia.
Sedangkan soal kinerja, baru-baru ini dipublikasikan bahwa PT Pertamina (Persero) berhasil membukukan laba bersih yang telah teraudit sebesar US$ 3,15 miliar pada 2016 atau lebih tinggi 122% dibandingkan realisasi 2015 yang tercatat hanya US$ 1,42 miliar. Peningkatan laba utamanya didorong oleh adanya efisiensi. Pada tahun lalu, perseroan berhasil melakukan efisiensi hingga US$ 2,67 miliar melalui Breakthrough Project 2016. Realisasi ini lebih tinggi dari target yang ditetapkan yakni US$ 2,13 miliar.
Peningkatan laba juga ditopang secara fundamental oleh membaiknya kinerja perusahaan. Produksi minyak dan gas naik menjadi 650.000 barel setara minyak per hari, yield kilang menjadi 77%, penjualan produk menjadi 64,63 juta kiloliter (KL), dan adanya inovasi-inovasi produk baru untuk mendapatkan ceruk pasar baru.
Pada 2016, Pertamina membukukan laba US$ 3,15 miliar, naik dari tahun-tahun sebelumnya yakni US$ 1,42 miliar pada 2015 dan US$ 1,45 miliar pada 2014. Kemudian, perseroan mencatatkan pendapatan US$ 36,49 miliar, turun dari tahun sebelumnya US$ 41,76 miliar. Di sisi lain, biaya perseroan juga berkurang menjadi US$ 30,29 miliar dari US$ 37,84 miliar pada 2015. EBITDA Marjin perusahaan juga tercatat terus naik dari 8,2 persen pada 2014, menjadi 12,28 persen pada 2015, dan mencapai 20,73 persen pada tahun lalu.