INDUSTRY.co.id - Pembangunan infrastruktur terutama yang terkait dengan konektivitas antar wilayah terdengar massif dibangun dalam dua tahun lebih rezim ini berkuasa. Wajar sebab konektivitas memegang peran penting pada percepatan arus barang dan jasa yang akhirnya mewujudkan pemerataan ekonomi.
Jalan tol dianggap salah satu solusi membuka konektivitas tersebut, dan pemerintah tampaknya menyadari betul kalau ketersediaan jalan tol sangat jauh dari cukup. Sejak merdeka pada tahun 1945 hingga tahun 2014, Indonesia hanya membangun jalan tol sepanjang 670 kilometer (km). Bandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang memiliki sekitar 3.000 km jalan tol, Korea Selatan mencapai 2,623 km, dan Tiongkok sepanjang 65,065 km.
Fakta tadi memaksa pemerintah untuk segera mengejar ketertinggalan. Hasilnya mulai terlihat dalam dua tahun terakhir sebagaimana di klaim Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarmo, bahwa sejak 2015 BUMN ngebut membangun jalan tol hingga mencapai 1.200 km saat ini. BUMN menurutnya telah menyelesaikan pembangunan jalan tol sepanjang 1.200km sejak 2015. Padahal sebelumnya sejak kemerdekaan (1945) baru (ada jalan tol) 670 km.
Pencapaian tadi dianggap tetap belum cukup, pemerintah berkomitmen untuk terus mempercepat penambahan jalan tol. Tertuang dalam Peraturan Presiden No. 3/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Dari 225 proyek strategis yang tertera dalam balam beleid itu, 47 proyek merupakan jalan tol dan ditargetkan dapat terbangun sepanjang 1.000 km pada tahun 2019 atau rata-rata harus sepanjang 200 km per tahun.
Penambahan jalan tol 1.000 km tersebut terdiri atas Trans Sumatera, Trans Jawa, Tol Samarinda-Balikpapan dan Tol Manado-Bitung. Berdasarkan data Jasa Marga, dana yang dibutuhkan untuk membangun jalan tol sepanjang lebih dari 1.000 km itu mencapai Rp 132,9 triliun, atau sekitar Rp 115,27 miliar per km. Tentu sulit merealisasikan target tersebut bila hanya mengandalkan dana APBN.
Untuk itu pemerintah mendorong peran maksimal BUMN. Caranya menggabungkan aset BUMN yang fokus membangun infrastruktur jalan tol dengan membentuk holding. Ketua Asosiasi Tol Indonesia Fatchur Rachman menilai pembentukan holding BUMN jalan tol akan memperbesar kemampuan perusahaan milik negara dalam mengerjakan proyek tol.
Dengan kapasitas yang lebih besar kata Fatchur, BUMN dapat mengerjakan proyek tol dengan skala besar. Ini akan memberi dampak positif. yang kecil-kecil, digabung menjadi satu yang besar, bisa melakukandeal-deal yang lebih besar dan pendanaan menjadi jauh lebih mudah, ujarnya. Kendati begitu pemerintah juga diingatkan untuk tidak mengabaikan partisipasi swasta sehingga proyek-proyek jalan tol tidak terkesan menjadi monopoli BUMN.
Pembentukan holding, memang diiringi dengan target jumbo, yakni merealisasikan target pembangunan jalan tol baru sepanjang 1.290 km hingga 2019 sebagaimana diungkapkan Rini. Kalau itu tercapai kan hebat, ujarnya.
Penugasan tadi tampaknya akan menjadi tanggung jawab PT Hutama Karya (Persero). Ini terkait dengan penunjukan HK sebagai holding BUMN konstruksi & jalan tol yang membawahi lima BUMN lainnya sebagai anak perusahaan yakni lain PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Istaka Karya, dan PT Yodya Karya.
Kapitalisasi pasar HK memang lebih kecil dari tiga BUMN infrastruktur & konstruksi lainnya, namun karena negara masih memegang 100% sahamnya, HK yang layak menjadi holding. Kepala Riset PT Ascend Capital Market Rowena Suryobroto, menilai penunjukan HK tersebut tepat sebab dengan kepemilikan saham penuh yang dimiliki, maka pemerintah bisa sangat leluasa mengendalikan holding.
Apalagi HK adalah perusahaan konstruksi yang terbaik dari sisi aset, omset, dan kinerja dibandingkan BUMN konstruksi yang dikendalikan penuh oleh pemerintah. Dan bila dikawal dengan baik, HK bersama dengan anak-anak usahanya dapat menjadi pembangun infrastruktur transportasi raksasa di kemudian hari, ujarnya.
Penugasan besar disambut baik oleh seluruh insan HK, sebagaimana dikatakan Direktur Pengembangan HK, Putut Ariwibowo. Kami sudah sosialisasikan rencana (sebagai holding) kepada seluruh karyawan dan sambutannya sangat positif, ujarnya. Secara kebetulan menurut Putut, pihaknya sedang melakukan transformasi bisnis terkait penugasan HK sebagai pengembang dan operator jalan tol Trans Sumatera sejak 2014 lalu, dan penunjukan holding dinilainnya sejalan dengan transformasi yang sedang dilakukan.
Kita memang sedang bertransformasi sebagai most valuable infrastructure developer Indonesia. Ini terkait dengan pengembangan bisnis di bidang jalan tol sebagaimana penugasan pemerintah. Sementara bisnis konstruksi, perumahan dan manufaktur mulai dikerjakan anak usaha ujarnya. Semua anak-anak usaha kata Putut juga diarahkan untuk mensukseskan pembangunan tol Trans Sumatera baik yang bergerak di sektor hulu maupun hilir.
Sebab menurutnya jalan tol akan kurang maksimal manfaatnya bila tidak diiringi dengan pengembangan di koridor jalan tol seperti pembangunan kota mandiri yang tujuannya bisa mendatangkan keuntungan untuk menutup kerugian atau lamanya tingkat pengembalian dalam membangun jalan tol. Bisnis-bisnis baru kita kembangkan untuk menangkap value capturing akibat adanya penugasan Trans Sumetera. Seperti dengan Pemprov Sumetara Selatan kita sedang studi untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sumatera Selatan, Lampung serta Sumatera Utara, paparnya.
Selain struktur bisnis, HK juga tengah giat melakukan transformasi pada aspek sumber daya manusia. Ini penting sebab perubahan struktur bisnis akan berdampak pada kompentensi SDM yang dibutuhkan. Kompetensinya akan berubah dari hanya tenaga kerja konstruksi menjadi tenaga kerja infrastruktur, katanya.
Transformasi berbagai lini yang dilakukan meyakinkan HK sukses bertindak sebagai strategic holding dalam memimpin dan mengelola anak-anak usaha yang sebelumnya lebih besar. Keberhasilan itu akan diwujudkan dengan membangun 1.000 km jalan tol hingga 2019 sebagaimana target pemerintah sebagai pemegang saham. Tak kalah penting, HK yakin dapat meningkatkan nilai aset holding konstruksi & jalan tol dari Rp 100 triliun saat ini menjadi lebih dari Rp 300 triliun.
Saat ini saja anak-anak usaha yang nantinya di bawah holding seperti Waskita Karya memiliki target membangun tol sepanjang 500 km, lalu Jasa Marga 1.000 dan HK sendiri di Trans Sumetara 640 km. Sehingga kalau bicara holding, pencapaian 1.000 di 2019 harusnya tercapai melebihi target, tandasnya.
Keyakinan itu menurut Rowena tidak berlebihan, bahkan dari sisi performa kinerja HK juga akan melesat. Menurut perhitungannya dengan menggenggam aset Rp 116 triliun saat holding terbentuk, HK berpotensi meraup omzet hingga Rp 53 triliun. Angka-angka tadi semakin membuat luwes HK mencari pendanaan investasi dalam membangun proyek infrastruktur yang lebih besar.