INDUSTRY.co.id - Jakarta - Konstruksi jalan Jalan Tol Ujung Pandang Seksi 3 atau dikenal dengan Jalan Tol Layang Andi Pangeran (AP) Pettarani Kota Makassar, Sulawesi Selatan sudah memasuki tahap akhir, yakni pemasangan span terakhir pekerjaan erection box girder (balok jembatan). Progres fisik pembangunan saat ini telah mencapai 85%.

Selain berkontribusi mengurangi kemacetan lalu lintas di Kota Makassar, kehadiran Tol Layang Jalan AP Pettarani akan mendukung jalur logistik yang  menghubungkan pusat Kota Makassar dengan Pelabuhan Petikemas Soekarno Hatta Makassar dan Bandara Sultan Hassanudin.

Informasi yang diterima INDUSTRY.co.id, Senin (18/5/2020) menyebutkan, pembangunan Tol Layang AP Pettarani tetap memperhatikan keserasian arsitektur bangunan dan landscape sekitarnya, sehingga bisa menjadi ikon baru di  Kota Makassar.

Menteri Pekerjaan Uumum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono menyampaikan apresiasi atas peran aktif Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar dalam pembangunan tol layang sepanjang 4,3 Km tersebut.

Selain itu, Menteri Basuki juga memberikan apresiasi kepada kontraktor pelaksana atas inovasi metode konstruksi pembangunan jalan tol layang dengan menggunakan metode Span-by-Span dengan Launcher Gantry yang dapat mempercepat pelaksanaan konstruksi, meminimalkan gangguan lalu-lintas jalan arteri tanpa kecelakaan konstruksi, serta meningkatkan mutu pelaksanaan konstruksi.

Menteri Basuki berpesan  pembangunan konstruksi Tol Layang AP Pettarani harus baik dan berkualitas, sehingga memberikan kenyamanan kepada pengguna tol.

"Pemakaian Lead Rubber Bearing (LRB) dan Modular Expansion Joint harus dapat mengakomodasi gempa dengan periode ulang 1000 tahun. Saya berharap betul bahwa tol ini kualitasnya lebih baik dari Jakarta-Cikampek yang awalnya kurang nyaman karena kualitas konstruksi sambungannya," tutur Menteri Basuki.

Proyek Tol Layang AP Pettarani dibangun dengan biaya investasi sebesar Rp 2,24 triliun.  Konstruksi jalan tol layang terdiri dari 74 pier pada jalan utama, 55 pier pada ramp dengan jumlah box girder sebanyak 2.752 box dan 78 PCU girder. Pembangunannya telah mulai dilaksanakan sejak April 2018.

Jalan tol layang dibangun di atas Jalan Nasional AP Pettarani sehingga bisa berjalan lebih cepat tanpa pembebasan lahan.  Ruas ini akan melengkapi ruas tol eksisting pada Seksi I, II dan IV yang akan beroperasi dengan sistem terbuka sepanjang 10,4 Km dengan jumlah lajur jalan 2 x 2, lebar 3,50 meter, dan memiliki dua on-off ramp yaitu di Boulevard dan Alauddin.

"Dengan progres saat ini 85%, saya berharap, konstruksi dapat selesai tepat waktu dan tol layang dapat dioperasikan pada bulan September 2020," kata Menteri Basuki.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Basuki juga menekankan pentingnya penggunaan komponen produk dalam negeri dalam rangka menjaga roda ekonomi nasional di tengah Pandemi COVID-19.

"Sebelum muncul kampanye bangga buatan Indonesia, saya sudah berpesan keras sekali untuk kita bisa memanfaatkan produksi dalam negeri di proyek-proyek PUPR. Bahkan  saya minta Inspektorat Jenderal untuk memeriksa Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam auditnya. Kalau tidak dibuat oleh produsen nasional , minimal pabriknya ada di Indonesia, sehingga tidak perlu impor dagang," tegas Menteri Basuki.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menambahkan, pembangunan Jalan Tol Layang AP Pettarani di Kota Makassar dilakukan sebagai upaya untuk mengurai kemacetan lalu lintas, sekaligus berperan sebagai upaya meningkatkan konektivitas dan pemerataan pembangunan jalan tol di Indonesia yang lebih maju dan sejahtera, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

"Untuk pekerjaan konstruksi tetap berjalan sesuai dengan protokol COVID-19. Juga pelaksanaan kerja konstruksi yang menjamin para pekerja untuk tetap memperoleh penghasilan, sehingga tetap memiliki daya beli untuk memutar perekonomian, dan tidak harus mudik serta tidak kehilangan pekerjaan," ujar Danang.