INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup turun 26 poin, atau 0,5%, ke posisi 5.650,88 pada rehat tengah hari Kamis (06/04/2017) dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan Rabu (05/04/2016) di posisi 5.676,98.

Penurunan IHSG pada rehat tengah ini dipicu oleh penurunan harga 356 saham, terutama saham-saham sektor pertambangan dan sektor infrastruktur. Meski demikian, pada sesi pertama perdagangan hari ini, masih ada 111 saham yang mengalami kenaikan harga, 113 saham stagnan dan 167 saham tidak ditransaksikan sama sekali.

Total nilai perdagangan pada sesi pertama perdagangan hari ini tercatat sebesar Rp3,831 miliar dengan volume transaksi sebanyak 5,842 juta unit saham. Sementara itu, investor asing melakukan aksi beli saham bersih (net buying) sebesar Rp151 miliar, tetapi volume penjualan bersihnya (net selling volume) sebanyak 37 juta unit saham.

Delapan dari 10 indeks sektoral di BEI mengalami penurunan. Indeks sektor pertambangan mengalami penurunan terbesar, yaitu sekitar 1,65%, atau 25,84, ke posisi 1.873. Kemudian disusul oleh indeks sektor infrastruktur dan sektor aneka industri yang masing-masing tergerus 1,55% dan 1,02%.

Saham-saham LQ45 yang mengalami kenaikan harga dan menjadi top gainers adalah saham PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) yang harganya naik Rp50, atau 1,5%, menjadi Rp3.280 per unit, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang harganya meningkat Rp250, atau 1,5%, menjadi Rp17.275 per unit dan saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang harganya terangkat Rp30, atau 1,3%, menjadi Rp2.280 per unit.

 

Adapun saham-saham LQ45 yang harganya melemah dan menjadi top losers pada sesi pertama perdagangan hari ini adalah saham PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) yang harganya tergerus Rp1.000, atau 7,3%, menjadi Rp12.750 per unit, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang harganya susut Rp14, atau 3,2%, menjadi Rp418 per unit dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang harganya turun Rp10, atau 3,2%, menjadi Rp304 per unit. (Abraham Sihombing)

 

Alami Jenuh Beli, IHSG Diprediksi Rawan Terkena Profit Taking

 

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (06/04/2017) ini diperkirakan mengalami jenuh beli, sehingga pelaku pasar diminta untuk waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) pasca reli kenaikan IHSG dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

 

“IHSG dalam beberapa hari terakhir ini sudah masuk ke area jenuh beli, sehingga pelaku pasar harus waspada terhadap gejala profit taking dan waspada konsolidasi minor terkait upaya utnuk memperkuat titik support di kisaran 5.600-5.550,” ujar Yuganur Wijanarko, analis senior PT KGI Sekuritas Indonesia, Kamis (06/04/2017).

 

Yuganur mengemukakan, para pelaku pasar disarankan untuk menunggu di level bawah dibandingkan mengejar reli secara agresif. Kendati demikian, masih muncul optimistis di kalangan pelaku pasar bahwa IHSG bakal melanjutkan kenaikannya ke target resistensi berikutnya di level 5.700.

 

Dengan demikian, menurut Yuganur, potensi terjadinya aksi ambil untung saat IHSG berada dalam tren menguat dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengakumulasi saham-saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

 

Harga BBNI, PGAS dan MPPA secara teknikal saat ini mengalami perbaikan tren dalam jangka pendek dan menengah. BBNI cukup menarik diakumulasi karena proyeksi kinerjanya pada 2017 cukup meyakinkan, sehingga harga saham bank plat merah tersebut diperkirakan bakal menembus level Rp7.000 per unit.

PGAS juga cukup baik dikoleksi karena setelah mengalami perbaikan tren jangka pendek dan menengah, harga PGAS diperkirakan bakal terus menanjak ke kisaran Rp2.625-2.725 per unit. Demikian pula MPPA yang harganya diperkirakan mencapai Rp1.200-1.340 per unit pasca perbaikan tren jangka pendek dan menengah.

Sementara itu, BWPT juga layak untuk diakumulasi karena harga komoditas global saat ini sudah berada di level terendah sejak 10 tahun terakhir dan valuasi sektornya juga sudah cukup murah. Karena itu, harga saham produsen minyak sawit mentah ini diperkirakan dapat menembus kisaran Rp365-385 per unit.

 

 

 Pagi ini, IHSG Dibuka Turun ke Posisi 5.668

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka turun ke posisi 5.668,31 pada sesi pembukaan perdagangan pertama Kamis (06/04/2017) dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan Rabu (05/04/2017) di level 5.676,98.

Empat menit setelah pembukaan perdagangan hari ini, tepatnya pukul 09:04 WIB, IHSG terpantau terus melemah ke posisi 5.666,18. Itu karena sebanyak 407 saham mengalami penurunan harga. Meski demikian, sebanyak 86 saham mengalami kenaikan harga, 87 saham harganya stagnan dan 327 saham belum ditransaksikan.

Total nilai perdagangan tercatat sebesar Rp242 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 664 juta unit saham. Investor asing mengambil posisi aksi beli saham bersih (net buying) sebesar Rp2 miliar dengan volume penjualan bersih (net selling volume) sebanyak 1 juta unit saham.

Enam dari 10 indeks sektoral BEI mengalami penurunan. Indeks sektor aneka industri mengalami penurunan terbesar, yaitu sebesar 0,94%, atau 13,96 poin, ke posisi 1.468. Kemudian diikuti oleh indeks sektor infrastruktur dan sektor manufaktur yang masing-masing tergerus 0,91% dan 0,28%. Sementara itu, indeks sektor keuangan mengalami kenaikan tertinggi, yakni sebesar 0,25%, atau 2,23 poin, ke posisi 885.

Saham-saham LQ45 yang mengalami kenaikan harga dan menjadi top gainers pada sesi pertama perdagangan saat ini adalah saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang harganya naik Rp50, atau 2,2%, menjadi Rp2.360 per unit, saham PT London Sumatera Plantation Tbk (LSIP) yang harganya meningkat Rp20, atau 1,4%, menjadi Rp1.480 per unit dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang harganya terangkat Rp225, atau 1,3%, menjadi Rp17.250 per unit.

Sementara itu, saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan harga dan menjadi top losers adalah saham PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) yang harganya tergerus Rp200, atau 1,5%, menjadi Rp13.550 per unit, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang harganya susut Rp60, atau 1,4%, menjadi Rp4.190 per unit dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang harganya turun Rp40, atau 1,4%, menjadi Rp2.890 per unit