INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ada hal menarik dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah Republik Indonesia semenjak pertengahan April 2020 lalu. Salah satu hal menarik tersebut adalah penerapan secara resmi mengenai kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara online (home learning).

Kegiatan home learning ini dilakukan oleh para guru terhadap murid-muridnya atau oleh para dosen terhadap para mahasiswanya. Hal menarik muncul ketika kegiatan home learning ini diberlakukan kepada siswa Sekolah Dasar (SD).

Pasalnya, ketika para siswa SD tersebut belajar secara home learning, orang tua mereka, terutama para ibu, ‘wajib’ memantau atau paling tidak menemani anaknya belajar di rumah, terutama dalam menyelesaikan berbagai tugas yang telah diberikan oleh guru.

Karena keterbatasan pengetahuan untuk mengakses berbagai aplikasi yang menunjang home learning, misalnya aplikasi Google Classroom, maka para orang tua murid tersebut menggunakan aplikasi yang ada di perangkat telepon selular (ponsel) mereka dan sudah terbiasa dipakai sehari-hari, contohnya Whatsapp (WA).

Dengan WA ini, para orang tua murid dengan mudah mengirimkan bukti anaknya telah mengerjakan dan menyelesaikan berbagai tugas yang telah diberikan guru mereka. Dengan WA, para orang tua murid cukup memfoto lembaran tugas-tugas anak mereka satu per satu serta mengirimkan langsung ke WA guru mereka.

“Duhh bu Grace, susah bener memfoto tugas anak-anak pake ponsel begini, ya. Gambarnya kebanyakan gak jelas dan cenderung pecah. Saya sih takutnya tulisan anak-anak tidak terbaca sempurna oleh gurunya, si penerima foto tugas anak-anak tersebut,” ujar Susan, salah satu orang tua murid, kepada orang tua murid lainnya, Grace, melalui sambungan telepon.

Sementara itu, Grace yang berada di ujung telepon sana berujar,” Iya nih, saya juga kewalahan untuk memfoto tugas anak-anak saya, bu Susan. Tetapi adik ipar saya bilang ada ponsel istimewa yang dapat mengambil gambar dengan mudah disertai dengan hasil foto yang sempurna seperti hasil foto seorang fotografer kawakan, bu! Nama ponselnya Samsung Galaxy S20 Ultra. Itu keluaran terbaru yang ditawarkan Samsung. Kemudian saya berusaha mencari tahu tentang produk baru ini ke showroom Samsung.”

“Ibu sudah pernah mencoba untuk melakukan pemotretan dengan ponsel tersebut, bu?” tanya Susan.

“Oh sudah. Saya pernah pinjam ponsel tersebut dari teman saya. Teman saya sudah punya duluan karena dia sebelumnya sempat indent di showroom Samsung sebelum dijual secara resmi di Indonesia. Sekarang saya sendiri lagi antri beli ponsel tersebut kendati telah dijual secara resmi di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu, bu,” tutur Grace.

Ponsel Samsung Galaxy S20 adalah produk unggulan yang diluncurkan Samsung Electronics Co. Ltd. pada awal Maret 2020 agar raksasa teknologi asal Korea Selatan itu dapat mempertahankan dominasinya di pasar ponsel pintar (smartphone) di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kehadiran Samsung seri Galaxy S20 ini sangat berbeda dibanding pendahulunya Samsung Galaxy S10.

Sebelumnya, banyak pihak memperkirakan Samsung akan meluncurkan Samsung seri Galaxy S11 setelah sukses meluncurkan Galaxy S10. Namun demikian, itu tidak dilakukan, tetapi langsung melompat ke Samsung Galaxy S20 karena dilengkapi berbagai fitur yang lengkap dan terpadu.

Samsung Galaxy S20 ini memiliki varian baru yang bakal menjadi andalan dalam beberapa waktu ke depan, yaitu Samsung Galaxy S20 Ultra. Ponsel seri Galaxy S20 ini memang benar-benar memiliki tampilan dan kinerja yang benar-benar ultra dibanding pendahulunya.

Salah satu fitur yang paling kelihatan ‘ultra’-nya adalah kamera yang diusung oleh ponsel Samsung Galaxy S20 Ultra dibandingkan seri lainnya. Ponsel ini memiliki tiga sensor kamera utama yang terdiri dari kamera ultra wide beresolusi 12 megapixel (MP), kamera wide angle beresolusi 108 MP, dan kamera telefoto beresolusi 48 MP PDAF (Phase Detection Auto Focus) dengan kemampuan memperbesar gambar hingga 100 kali.

Selain itu, ponsel ini juga dilengkapi dengan depth vision sensor camera, yaitu kamera stereo yang memiliki dua sensor gambar atau lebih yang memungkinkan kamera tersebut mensimulasikan gambar yang memunculkan kesan adanya kedalaman sehingga dapat menghadirkan gambar tiga dimensi secara sempurna. Kamera tersebut sejenis dengan kamera ToF (Time of Flight).

Kamera wide angle berkapasitas 108 MP yang diusung Samsung Galaxy S20 Ultra adalah sistim terbaru Isocell Bright HM1 Samsung yang disebut Nonacell. Pada prinsipnya, Nonacell adalah teknologi nona-binning yang menyatukan empat pixel menjadi satu pixel berukuran lebih besar. Ini adalah pengembangan dari Tetracell, yaitu teknologi pixel-binning.

Pengembangan tersebut bertujuan agar kamera dapat menyerap lebih banyak cahaya. Karena itu, dengan teknologi tersebut, kamera Samsung Galaxy S20 Ultra dapat menghasilkan sebuah hasil foto yang setara dengan kamera profesional beresolusi tinggi dalam kondisi pencahayaan apapun.

Sementara itu, teknologi prisma revolusioner yang menggabungkan perbesaran gambar secara hybrid (zoom hybrid) dan secara digital (zoom digital) memungkinkan Samsung Galaxy S20 Ultra mencapai tingkat perbesaran optik hingga 100 kali. Pasalnya, teknologi itu diterapkan pada ponsel ini untuk mendukung kinerja kamera telefoto berkapasitas 48 MP PDAF (Phase Detection Auto Focus) yang mampu memperbesar gambar hingga 100 kali.

“Jadi, sebelum membeli Samsung Galaxy S20 Ultra, bu Susan dapat mengunjungi situs https://www.samsung.com/id/galaxylaunchpack/ terlebih dahulu untuk memperoleh berbagai informasi lengkap mengenai produk Samsung Galaxy S20 yang ditawarkan oleh Samsung Electronics Co. Ltd. Di sana, ibu juga dapat memperoleh informasi mengenai berbagai promo menarik,” ujar Grace mengakhiri pembicaraannya via telepon. (Abraham Sihombing)