INDUSTRY.co.id , Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut industri perunggasan di dalam negeri didominasi dua perusahaan besar memegang kendali, peternak-peternak rakyat yang kecil bukan tandingan dua perusahaan tersebut.

Advertisement

"Kita coba melihat berbagai pola kartel. Termasuk di daging, perunggasan. Di sini semua makan ayam, di Indonesia itu hanya ada 2 (perusahaan) saja yang besar," ujarnya di Jakarta, Senin (3/4/2017)

Persaingan yang tidak sehat ini dapat mematikan peternak-peternak rakyat. Di sini lah pemerintah harus bertindak menciptakan keseimbangan.

Advertisement

"DOC itu kalau dari gen bagus, dia lebih tahan penyakit, lebih cepat gemuk. Kalau peternak rakyat sudah ekonominya susah, dikasih DOC yang kurang bagus, sudah ngasih makan banyak hasilnya pasti kalah," tukasnya.

Seperti diketahui, pada 30 Maret 2017 lalu ribuan peternak ayam menggelar aksi demo di Istana Merdeka, Jakarta. Para peternak yang berasal dari berbagai daerah ini mengeluhkan harga ayam hidup (broiler) dan telur yang anjlok sejak 2013 lalu.

Advertisement

Koordinator Sekretariat Bersama Aksi Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PPRPN), Sugeng Wahyudi, mengatakan tuntutan peternak salah satunya yakni meminta pemerintah agar melarang perusahaan integrator menjual daging ayam ke pasar becek alias pasar tradisional.

Perusahaan integrator adalah perusahaan peternakan unggas besar terintegrasi, mulai dari produksi pakan, DOC (Day Old Chick), vaksin, sapronak, budidaya ayam, budidaya telur, sampai produk olahan.

Advertisement

"Tolong cabut atau diubah pasal-pasal terkait di UU Nomor 18 Tahun 2009. Ini menjadi benturan antara peternak rakyat mandiri dengan integrator besar. Karena ayam di pasar itu over supply, harga ayam peternak jatuh," ujar Sugeng.

Selain produknya membanjiri pasar tradisional yang berimbas pada fluktuasi harga ayam hidup, peternak juga berharap pemerintah membatasi perusahaan integrator tak bermain di budidaya sesuai regulasi sebelumnya