INDUSTRY.co.id - Layar sudah terkembang. Kapal yang semula mangkrak di tepian mulai bergerak.  Meski masih terombang-ambing hebat ke kiri dan ke kanan. 

Advertisement

Tekad sudah terlanjur berkarat. Keputusan sudah bulat. Perjalanan harus dilanjutkan. Sebab hidup harus ditegakkan. 

Kini semua dipaksa untuk bergerak.  Untuk menemukan keseimbangan baru agar mampu berdiri tegak. Agar tidak tersungkur. 

Advertisement

Dalam kondisi demikian, akhirnya semua mulai menemukan kendali. Mampu membaca arah delapan mata angin. Lalu mengarahkan layar ke arah mata angin yang dituju. Maka, kini telah banyak orang mulai menemukan keseimbangan baru dalam menjalankan roda mehidupan masing-masing.

Begitulah proses kerja alam ini.  

Advertisement

Krisis memang datang tiba-tiba. Bagaikan tsunami yang menggulung tanpa permisi. 

Namun, ia telah melahirkan pemahaman yang membentuk pengetahuan baru. Lalu meningkat menjadi kesadaran baru. Kemudian dijadikan rumus gerak baru sehingga mampu menghadapi riak-riak gelombang. 

Advertisement

Rumus itu berbunyi:

"Dalam kehidupan yang sudah terbalik, maka harus bisa berpikir dan bertindak terbalik untuk menemukan keseimbangan baru".

Ternyata, hal itu memberikan pengalaman  dan  harapan baru. 

Orang-orang yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan, mendadak berubah menjadi pedagang yang ulet. Bahkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Berbagai kesempatan dan peluang, seolah datang membanjiri pikiran mereka. 

Perusahaan-perusahan yang semula pingsan tidak ada pemasukan dari penjualan produk dan jasanya, justru mendapatkan  cara baru dalam melipat gandakan pendapatan. Cara baru dalam menglola usaha yang melahirkan bisnis-bisnis baru.

Semua terjadi karena keberanian mendayung dan menggelar layar kapal usahanya di tengah hempasan badai. Spirit Nuh telah menyatu dalam jiwa dan pikiran mereka untuk tidak melawan gelombang. Sikap penerimaan terhadap keadaan yang timpang, mengajarkan mereka untuk mengikuti arah kemauan alam sehinga mampu menselancarkan diri dalam gulungan ombak.

Semua itu bisa dilalui berkat mindset. Cara berpikir. Serta cara bertindak yang baru. Walaupun tetap saja   badan terguyur ombak dan air pun menggenang, kapal-kapal itu akhirnya lolos. 

Mereka mulai berani melakukan hal-hal baru yang selama ini tidak mungkin dilakukan. 

Sebagai misal, mereka telah mengubah definisi kantor atau tempat kerja. Kantor   tak lagi benar-benar dibutuhkan. Semua orang, kini mendadak memiliki pengalaman nyaman bekerja dari rumah-rumah mereka. Bahkan, mereka bisa bekerja dari mana saja.  

Setelah sekian lama kantor ditinggalkan, ternyata fungsi-fungsi tugas dalam organisasi tetap berjalan. Proses bisnis juga tidak terganggu. Maka, pada tahap ini, mereka menemukan efisiensi baru seraya  meningkatkan kapasitas dan produktifitas.

Pada sektor-sektor yang tetap membutuhkan kehadiran dan pertemuan fisik, pada akhirnya juga akan menemukan cara mereka sendiri. Dan semua itu dicapai berkata cara berpikir yang tidak linier. Yang serba terbalik.

Namun, seperti orang yang terjungkir mendadak, tetaplah mengalami goresan. Retak-retak tulang atau keseleo. Entah  hanya memar di tangan, kaki, atau bahkan gegar otak. 

Itulah harga yang tetap harus dibayar. 

Toh, bila Anda tidak mau dijungkir atau menjungkir balik, tetap saja akan dihantam oleh ganasnya ombak krisis ini. Entah dari depan, belakang, samping kiri, atau kanan. 


Oleh Anab Afifi, CEO Bostonprice Asia