INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pandemi virus corona baru atau Covid-19 terus menerus menggerus perekonomian Indonesia. Kondisi ini membuat sejumlah pengusaha putar otak demi kelangsungan bisnisnya, bahkan banyak dari mereka (pengusaha) yang terpaksa harus merumahkan karyawannya.
Setelah sebelumnya pengusaha ritel, hotel, dan restoran merumahkan ratusan ribu karyawan, kini giliran para pengusaha industri furnitur yang sangat terpaksa harus merumahkan lebih dari 280.000 pegawainya. Hal ini membuat industri furnitur dalam negeri di ambang "krisis".
Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengakui bahwa situasi saat ini memang sangat sulit, lebih sulit dari krisis tahun 1998.
"Situasinya memang sangat sulit karena di target market yang kena masalah paling besar baik di Amerika Serikat, Eropa, Asia bahkan Timur Tengah, tidak terkecuali semuanya menunda membatalkan order," kata Abdul Sobur saat dihubungi Industry.co.id di Jakarta, Sabtu (11/4/2020).
Seperti diketahui, HIMKI merupakan salah satu perkumpulan perusahaan furnitur yang berorientasi ekspor. Menurutnya, negara-negara tujuan ekspor sebagian sudah tidak menerima pesanan, karena setop beroperasi. Sebagian lainnya mengalami penundaan pesanan hingga tidak bisa mengirim barang pesanan. Mayoritas produk-produk furnitur diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa.
"Jadi, kalau ekspor terhambat akan mempengaruhi kinerja industri furnitur di dalam negeri. Pasalnya pasar domestik masih belum bisa dimaksimalkan," tuturnya.
Lebih lanjut, Sobur menjeaskan, bagi perusahaan sehat dan besar mampu mempertahankan pegawai sekitar 8 minggu. Tetapi bagi perusahaan kelas menengah dan bawah bisa lebih pendek atau bahkan 1 pekan.
"Saya merasakan ini minggu ke empat cash flow habis. Artinya membayar gaji bulan April sudah sulit," tegasnya.
Saat kondisi seperti ini, lanjut Sobur, pesanan atau order menjadi kunci penting untuk menyelamatkan industri furnitur dalam negeri dari ambang kehancuran. "Order kuncinya, kedepan mesti buka ruang lebih besar untuk kelola dan manfaatkan pasar domestik," terang Sobur.
Industri furnitur merupakan salah satu sektor yang paling membutuhkan banyak tenaga kerja. Secara total ada 2,1 juta pekerja yang menggantungkan hidupnya melalui industri ini.
Industri furnitur termasuk dalam lima industri dengan nilai pertumbuhan terbesar pada tahun 2019, yaitu sebesar 8,35%. Nilai ekspor industri furnitur pun meningkat hingga sebesar 1,95 miliar dollar AS pada 2019, atau naik sebesar 14,6% dari tahun 2018.